Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 31



“Pelayan sudah merapikan semua bajumu. Nanti sore kau terbang ke Jerman.”



Ayah Hideki bicara tapi Hideki diam dan memalingkan wajahnya dari sang ayah di sepanjang perjalanan. Ia masih memikirkan cara bagaimana ia lepas dari ayahnya. Meski ia sudah berjanji akan menurut tapi rasanya ia tidak rela kembali. Ia masih ingin disini. Masih ingin bersama Agika.



“Hm? Kenapa? Kau masih tak mau pulang? Berusaha untuk kabur lagi?” Tanya ayahnya.



“Aku berharap kau membunuhku sekarang.”



“Kau benar-benar bodoh. Kau lebih memilih mati daripada pulang ke Jerman, melanjutkan homeschooling-mu dan bahagia disana?”



“Aku tak pernah bahagia.”



“Kau akan merasakannya suatu hari nanti.”



“Aku akan mati duluan ditanganmu.”



“Berhenti membantah, Hideki!”



Akhirnya mereka sampai di rumah besarnya. Sepanjang perjalanan ia berdebat dengan ayahnya. Ayahnya sengaja menahan amarah saat di stadion tadi karena di tempat umum. Ia tak mau membuat keributan besar. Tapi sesungguhnya ia sangat marah begitu tahu putranya kabur dari rumah dibantu oleh Ayashi dan Tadashi.



“Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri.”



Hideki mencoba melepas tangan anak buah ayahnya yang sejak tadi menahannya. Ia masih marah karena ada yang berani memukul Agika. Ayahnya tak seharusnya sampai melibatkan orang lain.



“Lepaskan ku bilang!”



“Berisik sekali kau ini!”



Ayahnya langsung menampar putranya dengan keras hingga Hideki terjatuh. Anak buah ayahnya terkejut jadi tak bisa menahan beban tubuh Hideki. Dengan wajah ketakutan, mereka langsung mencoba membantu Hideki bangun. Tapi Hideki menampik tangan mereka dengan keras.



“Tidak usah!”



“Kau masih membangkang?!” Tanya ayah Hideki penuh amarah.



“Aku tak akan pernah menurut padamu.”



“Kau .... Kemari kau, bocah keras kepala!”



Ayah Hideki langsung menarik kerah baju Hideki, memaksa Hideki berdiri sampai sejajar dengan dirinya. Sampai anak itu bisa menatap matanya. Ia tak peduli meski kaki Hideki sedang sakit.



“Aku sudah menahan amarahku sejak aku tahu kau kabur dari sini! Kau benar-benar membuatku muak!”



Bugh!


Direktur kejam itu tak berhenti. Ia memukul wajah Hideki hingga darah mengalir di sudut bibirnya yang manis. Tak ada yang bisa menghentikannya. Anak buahnya juga hanya mematung takut. Hideki sudah tahu ayahnya akan benar-benar sangat marah dengan keputusannya kabur. Ia tahu resikonya akan seperti ini tapi ia tak menyesal. Apalagi ia sudah bertemu Agika. Itu sudah cukup baginya.



Sang ayah masih tak puas. Ia mendorong putranya sampai membentur tembok. Ia masih tak mau melepaskan putranya yang sudah melemah itu. Ia malah mengancamnya dengan mengepalkan tangannya di depan Hideki.



“Bunuh aku. Pukul aku sampai mati. Aku juga tak mau hidup dibawah kendalimu.” Kata Hideki lirih.



“Kau ....”



“Cepat pukul aku.” Ucap Hideki pelan.



“Anak tak tahu diri!”



Plak!


Akhirnya ayahnya hanya menamparnya dengan keras lagi. Ia masih menahan diri. Hideki tak bisa ditakhlukan. Semakin ia marah, Hideki semakin kekeuh pada pendiriannya.



“Direktur! Hentikan!”



Tadashi langsung menuruni tangga begitu ia melihat majikannya memukul putranya sendiri dengan membabi buta. Untung saja ia hanya kena marah karena Hideki bisa kabur waktu itu. Ia langsung menahan lengan direkturnya sebelum ia kembali memukul pria tampan tak berdaya itu.



“Lepaskan tuan muda. Ia sudah di sini. Anda hanya perlu membawanya ke Jerman tak perlu sampai memukulnya seperti ini.”



Tadashi mencoba bernegosiasi. Bos nya benar-benar marah dengan putranya. Tadashi takut Hideki sakit dan traumanya kembali lagi. Akhirnya direktur itu menerima bujukan Tadashi. Ia melepas tangannya dari putranya, lalu memalingkan wajahnya.



“Ah ....” Rintih Hideki.



Hideki sudah pasti terjatuh. Ia tak mungkin bisa berdiri. Ia terduduk di lantai sambil menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya. Kepalanya tertunduk.



“Tuan muda, kau baik-baik saja?” Tanya Tadashi sembari menghampiri Hideki. Wajah tuan mudanya itu sudah lebam-lebam.



“Kenapa kau menghentikannya, Tadashi?”



“Eh?”



“Biarkan dia memukulku sampai mati. Itu lebih baik dibanding aku harus kembali ke Jerman.”



“Apa? Kau benar-benar ....”



Kali ini ayah Hideki benar-benar marah setelah mendengar kata-kata putranya. Setelah melakukan ini ia harap Hideki bisa menyerah dan menuruti perkataannya, tapi ia malah makin membuatnya geram. Tangannya mengepal menahan diri agar tak memukul lagi. Ia memalingkan badannya.




“Di .... Direktur ....”



“Tanganku sudah tak mau menyentuh tubuhnya lagi.” Kata ayah Hideki dingin sambil berlalu.



Tadashi mematung. Ia tercengang mendengar ucapan majikannya. Ia bahkan tak berkutik saat tubuh Hideki dibawa paksa ke kamar oleh anak buah ayah Hideki. Ia tahu direkturnya tak main-main. Ini belum selesai. Ia pasti akan menyiksa Hideki lagi. Tak disangka, niat baik Tadashi untuk membujuk boss kejam itu gagal. Astaga! Kenapa jadi begini? Kenapa Hideki juga tidak menyerah? Apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan Hideki?



***



“Ah ....”



Hideki mulai merintih. Ia ingat, setelah dibawa anak buah ayahnya ke kamar, mereka mulai mengikat pergelangan tangan Hideki lagi. Tak hanya itu, ayahnya dengan penuh amarah menyeretnya ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Ia mengikat kembali tangan Hideki ke kran air dan menyalakan showernya sampai tubuh Hideki basah kuyup dari ujung rambut hingga kaki. Putranya itu di biarkan terduduk dan terkulai lemas di lantai kamar mandi yang dingin dan besar itu. Siraman air dari shower membuat tubuhnya menggigil.



Hideki kedinginan. Belum lagi lebam-lebam di wajahnya yang terkena siraman air terus menerus membuat lukanya makin terasa perih. Kaki kanannya yang patah terasa nyeri. Kepalanya juga mulai pusing. Tangannya sudah kaku karena diikat. Mungkin sudah satu jam lebih ia begini.



Ayahnya benar-benar meledak. Ia bahkan sampai tega melakukan ini pada putra kesayangannya. Tapi Hideki tahu ini bukan pertama kali ayahnya begini. Ia sudah sering menerima perlakuan ini di Jerman. Hideki hanya memikirkan bagaimana jika ia harus kembali ke Jerman hari ini juga. Jadwal penerbangan ke Jerman sore ini.



“Hideki!”



Ayashi datang bersama ayahnya dan dokter Tadashi. Wanita berambut panjang itu langsung panik melihat adiknya terkulai lemas dengan kondisi basah kuyup. Ia akan mematikan showernya dan mencoba melepas ikatan di kedua tangan adiknya. Tapi ayahnya menahannya. Terpaksa Ayashi hanya bisa mendekati Hideki saja.



“Ayah benar-benar tega melakukan ini. Ayah jahat!” Ucap Ayashi sambil menangis.



“Kalau dia tak kabur, aku tak akan repot-repot menghukumnya. Adikmu memang keras kepala.”



“Dia kedinginan, ayah. Kakinya juga masih sakit. Lepaskan dia.”



Ayahnya hanya berdiri di depannya sambil menatapnya nanar. Ia bersimpati tapi egonya mengalahkan segalanya.



Sedangkan dokter Tadashi menunggu di samping pintu kamar mandi. Ia tak mau gegabah menolong tuan mudanya. Ia sudah kena marah direktur. Bahkan Ayashi sampai dikurung juga. Beruntung tak sampai seharian direktur itu marah pada anak gadisnya.



“Ayah.” Ucap Hideki lirih.



“Oh kau memanggilku? Apa kau sudah memikirkannya dengan kepala dingin?” Tanya boss besar itu.



“Hentikan ini ....” Kata Hideki lagi.



“Kau menyerah?”



“Lepaskan aku. Ah ....”



“Eh? Ayah, Hideki sakit. Lepaskan dia.” Kata Ayashi memohon.



“Hanya jika ia menyerah dan menurut padaku.” Jawab ayahnya tegas.



“Ayah!”



“Aku akan pulang.”



“Eh?”



Ayashi terkejut. Ia tak percaya adiknya mengatakan hal itu. Hideki akhirnya mau pulang? Apa ia sedang mengigau karena kedinginan? Atau ia sudah menyerah? Ayah pun sampai kaget. Ia melangkah mendekati putranya.



“Apa kau bilang?” Tanyanya.



“Jerman .... Aku akan kembali ke Jerman. Tapi ....”



“Kau tidak bermaksud merayuku kan?”



“Biarkan aku bertemu Agika sehari saja.”



Dokter Tadashi yang mendengarnya di luar mulai mengerti kenapa tuan mudanya akhirnya menurut. Ia tak punya jalan lain. Ayahnya pun akan terus menekan Agika dan temannya jika Hideki terus melawan. Hideki harus menurunkan sedikit egonya.



“Aku janji. Lepaskan aku ....” Pungkas Hideki.



Ayahnya masih diam. Ia sepertinya mempertimbangkan penawaran Hideki. Ia hanya menatap putranya yang sudah tak bisa apa-apa lagi.



“Hideki sudah mau mengikuti kemauan ayah. Kumohon lepaskan dia.” Kata Ayashi.



“Baiklah. Aku akan minta anak buahku untuk tetap mengawasimu.”



Ayah Hideki memerintah anak buahnya agar melepaskan Hideki. Setelah mematikan shower dan melepas ikatan di tangannya, ayah hanya berlalu begitu saja.



Ayashi langsung melepas kemeja Hideki yang basah dan memeluk adiknya yang sudah lemas. Tubuhnya sudah kedinginan. Adiknya benar-benar menyerah kali ini dan Ayashi tak bisa membantunya lagi.



“Cepat panggil pelayan! Bantu Hideki membersihkan tubuhnya. Yang lain agar menyiapkan pakaian dan makan untuk Hideki!” Perintah Ayashi.



***