
5 tahun setelahnya.
"Selamat datang, tuan muda dan dokter Tadashi."
"Bawakan koperku."
"Baik, tuan muda."
Setelah sopir menjemput di bandara, pria tampan nan menawan itu berjalan menuruni elevator dengan langkah cepat. Membuat Tadashi dan pak sopir yang membawa koper cukup kerepotan mengikutinya.
"Dokter, tumben tuan muda kelihatan bersemangat sekali." Tanya sopir heran.
"Haha. Tentu saja."
"Biasanya kalau urusan perusahaan, tuan muda paling malas, kan?"
"Karena urusannya di kota ini, tentu saja ia bersemangat."
"Eh?"
Dokter Tadashi memandangi punggung atasannya itu. Ia ingat saat sang presiden direktur menyuruh putranya itu untuk sementara menggantikan kakaknya yang cuti karena mempersiapkan pernikahan. Urusan penting lainnya adalah menjalin kerja sama bisnis dengan salah satu perusahaan properti di kota ini. Tuan muda terlihat tidak sabar. Padahal biasanya ia sangat malas dengan urusan perusahaan, apalagi soal kerja sama dengan klien. Tapi kali ini ada sesuatu yang membuatnya ingin kesini. Lebih tepatnya seseorang.
"Tadashi, kau sudah cek handphoneku?"
"Sudah, tuan muda. Katanya sudah menunggu di lobby." Dokter Tadashi bicara sambil mengamati sekelilingnya. "Harusnya … ah itu dia!"
Mata dokter Tadashi menangkap seorang wanita berambut coklat sebahu yang terurai indah. Wanita duduk di bangku lobby bandara. Matanya fokus melihat ke handphone. Dress biru selutut yang membalut tubuhnya menambah kecantikan wanita itu hingga membuat sang tuan muda tak berkedip sama sekali. Tanpa sadar kakinya berjalan menghampiri gadis itu. Menyadari ada yang mendekat, gadis itu langsung menoleh.
"Hideki." Sapanya.
"Agika."
Ya, tuan muda yang lama tak kembali itu adalah Hideki. Sang pewaris sebuah perusahaan ternama di Jerman. Dan wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah Agika, alasan utama Hideki mendarat di kota ini sekarang.
"Ini sungguh dirimu." Kata Agika lirih.
Agika masih tak percaya kalau pria di hadapannya ini adalah Hideki. Sebelumnya Hideki memang sempat menelpon kalau ia akan kembali, hanya saja melihat pria ini berdiri di depannya membuat Agika merasa seperti sedang bermimpi. Hideki benar-benar menemuinya setelah lima tahun ia di Jerman.
"Kau sudah menunggu lama?"
Pertanyaan Hideki tak segera dijawab Agika. Wanita ini masih fokus menatap pria itu. Setelah lima tahun, penampilannya berubah. Kemeja putih dan balutan jas hitam yang rapi itu membuatnya semua orang tahu kalau ia adalah seorang tuan muda. Padahal dulu ia tak mau memperlihatkan jati dirinya.
Namun, ada yang tak berubah sama sekali. Wajahnya tetap tampan. Bahkan dengan penampilannya saat ini ia jadi makin tampan. Rambut hitamnya masih mempesona dan mata birunya tetap terlihat tajam nan indah. Tangan Agika tanpa sadar bergerak meraih wajah itu.
"Kau makin tampan." Gumamnya.
"Apa?"
"Eh? Ah, tidak." Agika segera melepas tangan itu dari wajah Hideki. Ucapannya barusan membuatnya salah tingkah. "B … bagaimana kabarmu, Hideki?"
"Aku baik-baik saja."
"Syukurlah." Kata Agika sambil tersenyum.
Setelah pak sopir menyiapkan mobil, mereka segera pergi menuju rumah Hideki yang tak jauh dari bandara.
Perjalanan terasa sepi. Tak banyak percakapan terjadi. Karena Agika sudah lama tak bertemu Hideki, ia sedikit canggung. Tak mungkin mengandalkan Hideki yang dingin dan tak banyak bicara itu. Apalagi selama lima tahun, Agika tak bisa selalu menelpon Hideki yang ada di Jerman. Ayah Hideki menyita handphonenya.
"Ku dengar nona Agika sudah bekerja di kantor penerbitan?" Tanya dokter Tadashi yang duduk di samping pak sopir. Ia mencoba memulai percakapan.
"Iya. Sebagai staff editor sekaligus illustrator freelance"
"Keren sekali! Aku tak menyangka nona Agika menyukai hal itu."
"A … aku memang suka menggambar. Aku juga mengambil jurusan itu saat kuliah."
"Wah, memang sudah passionnya ya. Haha."
Dokter Tadashi tertawa kecil. Agika hanya tersenyum.
Agika menoleh. Pria di sampingnya itu melirik dokter pribadinya lalu kembali menatap ke luar jendela mobil. Daritadi Hideki kelihatan tak tertarik dengan percakapan mereka tapi ternyata ia menyimaknya juga.
"Menyindir? Tidak, tidak. Aku tak mungkin berani menyindirmu, tuan muda."
"Aku tahu pria tua itu menyuruhmu membujukku selama ini."
"Apa? Maksudmu presdir?"
"Lupakan saja. Aku tak akan menuruti pria egois itu."
Tadashi hanya tersenyum kecut. Agika tak terlalu mengerti percakapan mereka berdua tapi ia tahu kalau pria tua nan egois yang disebut Hideki adalah ayahnya. Hubungan ayah dan anak ini memang tak terlalu baik tapi lima tahun harusnya sudah membuat presiden direktur itu melunak pada putranya. Hideki juga bersedia pulang ke Jerman sesuai kemauannya. Agika jadi kepikiran.
"Hideki." Panggilnya.
"Hm?"
"Apa ayahmu mengizinkanmu ke sini?"
"Kenapa? Kau masih takut padanya?"
"Tidak. Maksudku …"
"Te … tentu saja tuan muda mendapat izin, nona. Kalau tidak, aku tak mungkin bersamanya sekarang. Haha." Sanggah sang dokter sambil tertawa.
Tak ada yang lucu dari pernyataan Tadashi, tapi ia berkata benar. Jika Hideki berniat kabur seperti waktu itu, harusnya dokter Tadashi tidak ikut. Harusnya ia tak difasilitasi passport, visa bahkan sopir. Tadinya Agika berpikir kehadiran dokter Tadashi yang harus selalu bersama Hideki adalah karena trauma Hideki yang bisa kambuh tiap saat. Tapi dokter pribadi itu ternyata merangkap sebagai asisten presiden direktur yang mengawasi Hideki selama ini.
"Lalu bagaimana dengan trauma mu?" Tanya Agika lagi.
Hideki menghela napas. Ia lalu menoleh pada Agika yang masih menunggu jawabannya.
"Aku kembali tapi kau sibuk bertanya hal yang tidak penting?"
"Tidak penting? Trauma mu itu masalah serius."
Agika tak sempat melanjutkan kata-katanya ketika tangan Hideki tiba-tiba menariknya. Mendekatkan tubuh Agika padanya. Agika terkejut mendapati wajah Hideki sangat dekat. Apalagi kini mata biru itu menatapnya dengan serius.
"Apa aku disini tak cukup?"
"Eh?"
"Kau bisa lihat aku baik-baik saja."
"Ma … maaf, kita sudah sampai, tuan." Ucap pak sopir mengagetkan mereka.
Agika langsung mendorong tubuh Hideki pelan. Ia menunduk menutupi wajahnya yang memerah karena wajah tampan Hideki yang terlalu dekat. Apalagi ini sedang di mobil. Malu sekali rasanya.
"Tentu saja traumanya sudah sembuh, nona." Jawab dokter Tadashi sambil melepas sabuk pengamannya.
"Dasar, selama lima tahun ini kau pikir aku sedang apa?" Gumam Hideki.
"Ah benar, kau seorang tuan muda. Semua hal tentang dirimu pasti sangat diprioritaskan. Jadi traumamu harusnya hanya masalah kecil." Kata Agika.
"Sudahlah. Aku lapar."
Hideki turun dari mobil dan berjalan menuju ke rumahnya yang sudah kosong sejak setahun lalu. Agika menghela napas. Hideki masih sama saja, dingin dan susah ditebak. Tapi dibalik itu ia adalah pria baik dan perhatian.
Agika hampir khawatir soal trauma Hideki lima tahun lalu. Tapi nyatanya ia sudah sembuh. Agika hanya lupa kalau Hideki adalah seorang yang sangat penting. Di keluarganya ia seperti pangeran. Di perusahaan ia adalah pewaris. Tak mungkin ia tak mendapat fasilitas utama. Lagi-lagi Agika harus bersyukur karena Hideki sudah tak banyak mendapat masalah lagi. Dan lebih penting, ia ada disini.
💜💜💜
Hai, selamat datang di buku keduaku
I hope you enjoy my story
Semoga bisa up terus
See ya