
Hideki kecil menoleh ke belakang. Melihat teman-temannya yang masih terheran. Ayahnya dan beberapa anak buah tiba-tiba mendatanginya saat ia sedang asyik bermain sepak bola bersama teman-teman kecilnya. Tanpa bicara, sang ayah langsung menarik lengannya dan memaksanya pulang.
Bruk!
Tubuh kecil Hideki dilempar ayahnya ke sofa ruang tamu. Mata sang presdir itu menatapnya tajam hingga membuat Hideki ketakutan.
"A … ayah." Ucap Hideki terbata.
"Kau masih berani menyelinap keluar?!"
"Aku ingin bermain dengan teman-temanku."
Suara kecil Hideki yang memohon dan matanya yang mengharapkan belas kasihan ayahnya tak membuat ayahnya luluh. Pandangan sang ayah beralih ke dua anak buah yang ada di belakangnya.
"Kalian tahu siapa anak-anak itu?"
"Mereka hanya anak-anak biasa, presdir."
"Cari rumahnya! Katakan pada orang tua mereka agar tak mengganggu putraku. Aku tahu trik licik seperti ini. Mencari muka dengan memanfaatkan putraku."
"B … baik, presdir."
Mendengar ayahnya bicara begitu, Hideki kecil langsung bangkit dan menarik ujung kemeja ayahnya. Mata birunya yang indah itu mulai berkaca-kaca. Ia memohon agar sang ayah tidak mengganggu teman-temannya.
"Ayah, mereka teman-temanku!"
"Kau tak butuh teman seperti mereka."
"Tapi …"
Sang presdir langsung melepaskan tangan mungil anaknya dengan keras hingga putranya itu terjatuh. Sang ibu yang melihat suaminya kesal dengan Hideki langsung turun dari tangga. Ia meraih tubuh Hideki dan memeluknya.
"Ayah, apa yang terjadi?" Tanya sang ibu.
"Anak itu kabur lagi saat homeschooling"
"Ibu, aku hanya ingin bermain dengan teman-temanku," Kata Hideki sambil menatap ibunya. Sang ibu hanya mengelus rambut hitam putranya dengan lembut. Hideki langsung membenamkan dirinya ke pelukan sang ibu.
"Ayah, tenang dulu. Lagipula ini hari minggu. Biarkan Hideki libur dan bermain. Dia sudah homeschooling setiap hari." Kata sang ibu lembut.
"Tidak! Dia tidak boleh bermalas-malasan."
"Hideki baru berusia 7 tahun tapi dia sudah mendapat banyak pelajaran. Bahkan dia sudah mendapatkan pelajaran untuk anak usia 10 tahun. Berikan dia kelonggaran."
"Dia akan jadi pewaris perusahaan. Sudah sepantasnya dia lebih banyak belajar dibanding anak yang lain."
"Ayah …"
"Kemari kau, anak nakal!"
Sang presdir langsung menarik lengan kecil Hideki dan menyeretnya ke ruang belajar. Hideki sudah berusaha untuk memberontak dan meminta sang ibu agar menghentikan ayahnya tapi ibunya pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak mungkin melawan suaminya yang keras itu.
Setelah kejadian itu, Hideki kecil belum jera. Ia masih berusaha menemui teman-temannya diluar mansion. Namun mereka telah menjauh. Tak ada yang mau bicara dengan tuan muda kecil itu. Hideki tak punya teman lagi sekarang.
Akhirnya Hideki jatuh sakit. Saat homeschooling tiba-tiba ia pingsan tanpa sebab. Ayah Hideki langsung memanggilkan dokter pribadi keluarga.
"Tuan muda sakit lagi?"
Dokter seumuran ayah Hideki itu akhirnya datang ke mansion dengan seorang anak kecil. Ia masih berpakaian putih dengan jas dokter kebanggaannya. Anak kecil itu bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Tumben kau mengajak putramu."
"Iya. Kebetulan aku sedang menjemputnya pulang sekolah. Sekalian ku ajak kesini."
Anak kecil berambut pirang itu tersenyum pada sang presdir tapi ekspresi presdir hanya datar.
Akhirnya ayah Hideki membawa dokter itu ke kamar Hideki yang besar. Terlihat anak tampan itu meringkuk di tempat tidurnya sambil mengerang. Dokter pribadi itu merasa kasihan. Ia segera memeriksa anak menyedihkan ini.
Hampir setengah jam dokter itu memeriksa. Presdir menunggunya di sofa bersama anak sang dokter yang sejak tadi menatap Hideki kasihan. Sang dokter menghampiri ayah Hideki setelah selesai.
"Bagaimana?"
"Tuan muda demam. Tapi ia mengeluh kepalanya sakit. Anak sekecil dia sampai kesakitan begitu, sepertinya perlu pengecekan lebih lanjut."
"Maksudmu?"
"Sebaiknya malam ini biarkan tuan muda kecil istirahat, kita lihat perkembangannya. Saya sudah ambil sampel darahnya, besok saya akan melakukan CT scan, baru bisa lihat hasilnya."
"Putraku akan baik-baik saja, kan?!"
"Kita tunggu hasilnya besok."
Sang presdir menatap mata dokter pribadinya itu dengan tatapan tajam tapi sang dokter hanya bersikap tenang. Dokter yang sudah mengabdi di keluarga Takizawa itu sudah terbiasa menangani tuan muda kecil ini berkali-kali. Presdir hanya menghela napas.
"Baiklah. Aku percayakan padamu."
"Baik. Kalau begitu saya permisi, presdir."
Dokter itu hendak pergi tapi anaknya sudah tidak ada di sofa. Ia mendapati anak itu sudah berdiri di samping tempat tidur Hideki. Menatap iba pada tuan muda kecil yang terbaring kesakitan sampai berkeringat dingin.
"Kau sakit?" Tanya anak itu pada Hideki.
"Uh …"
Karena Hideki hanya bisa mengerang dan tak menjawabnya, anak itu langsung memegang tangan mungil Hideki yang terasa hangat dengan kedua tangan kecilnya. Matanya bersinar hingga membuat Hideki tertegun.
Hideki kecil masih terdiam dan hanya merintih. Tapi matanya mulai mau menatap anak kecil itu.
"Kau terlihat kesepian. Siapa namamu?"
"Hi … deki." Jawab Hideki terbata.
"Hai, Hideki. Namaku Tadashi. Apa aku boleh jadi temanmu?"
Mata biru Hideki yang tadinya sayu, kini terbuka lebar. Ada orang yang mau jadi temannya. Ia bahkan tidak takut pada ayahnya yang saat ini ada disana. Tapi saat Hideki melirik ayahnya yang menatapnya dengan dingin, Hideki langsung melepas tangannya dari Tadashi dan berbalik memunggunginya.
"Pergi."
"Kau kenapa, Hideki?"
"Pergi!"
"Tadashi, dia adalah tuan muda keluarga Takizawa. Kau tak boleh mengganggunya." Kata sang ayah menasihati. "Kita pulang ya."
Setelah dua hari demam Hideki tak kunjung sembuh. Parahnya lagi tuan muda kecil itu tak mau makan dan hanya berbaring di kamar. Ia juga menolak siapapun yang masuk ke kamarnya. Mengunci pintu kamarnya dari dalam. Padahal ayahnya sudah tidak mengurungnya lagi.
"Presdir, tuan muda mengamuk tapi ia tak mau membuka kamarnya." Kata seorang anak buah.
"Mengamuk?"
"Se … seperti marah tapi tuan muda sedang sakit begitu. Saya tidak tahu kenapa …"
"Aku akan kesana. Kau telpon dokter pribadiku."
"Baik, presdir."
Sang ayah langsung menuju ke kamar besar milik putranya. Ia semakin bisa mendengar jelas suara Hideki yang berteriak. Di depan pintu kamar sudah ada ibu Hideki dan seorang anak buah yang terlihat sangat khawatir.
"Ada apa?" Tanya sang ayah menghampiri ibu.
"Ayah, Hideki …"
"Mana kunci cadangannya?"
Anak buah itu langsung membukakan pintu kamar Hideki sehingga sang presdir bisa langsung masuk kesana. Ia melihat Hideki hanya meringkuk di sudut kamar sambil mencengkeram kepalanya. Wajahnya memucat dan berkeringat. Ia kelihatan kesakitan juga ketakutan. Sang ibu yang melihat putranya berantakan langsung menghampirinya.
"Hideki! Sayang …"
"Sakit … aaaahhh!"
"Kau kenapa, sayang? Mana yang sakit?"
Sang ibu mencoba menenangkan putra kecilnya yang hanya berteriak dan kesakitan. Ia menyentuh wajah Hideki tapi anak kecil itu menampiknya. Sang ayah yang hanya berdiri menatap putranya itu sedikit kaget. Hideki tak pernah menolak ibunya sebelumnya.
"Hideki, ini ibu, sayang."
"Hiks! Sakit …" Kali ini Hideki menangis.
"Tuan muda kecil?!"
Dokter pribadi Hideki itu datang lagi bersama putranya. Napasnya kelihatan terengah-engah karena berlari untuk cepat-cepat melihat kondisi anak malang itu. Ia langsung menghampiri begitu menemukan Hideki kesakitan.
"Hideki jadi kesakitan begini. Kau tahu dia kenapa?" Tanya sang presdir.
Bruk!
Hideki akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Sang ayah yang sedang bicara dengan dokter pribadinya juga terkejut. Ibu Hideki makin panik.
"Hideki? Kau kenapa? Bangunlah! Sayang!"
Hideki langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Lebih dari satu jam dokter pribadi itu memeriksa bersama perawat di rumah sakit.
"Tuan muda mengalami trauma berat, presdir."
"Trauma?"
Sang dokter menjelaskan panjang lebar hasil pemeriksaannya pada ibu dan ayah Hideki, tak terlalu terdengar tapi Hideki yang sudah mulai tersadar bisa mendengarnya samar-samar. Kepalanya terasa sangat pusing. Infus yang menusuk tangannya terasa perih sekarang. Ia kini sadar kalau ia sedang tak dikamarnya.
"Hai."
Seorang anak laki-laki menyapanya seperti waktu itu. Hideki menoleh pelan. Anak laki-laki yang ia temui dua hari kemarin. Anak dokter pribadinya, Tadashi.
"Kau sakit lagi? Kasihan sekali." Tanya Tadashi.
Hideki tak menjawab. Mata birunya yang meredup itu hanya bisa mengalihkan perhatiannya ke selang infus yang terasa mengganggunya. Tadashi langsung mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Aku baru saja membeli ini di sekolah. Ini enak sekali. Aku yakin kau akan suka."
Tadashi menyodorkan segelas jus yang ia beli dari sekolah dengan senyum manisnya. Mau tak mau Hideki harus kembali menatap si bocah rambut pirang itu. Hideki masih mematung. Ia belum mau menerima minuman itu. Akhirnya Tadashi meletakkan minuman itu ke meja samping tempat Hideki berbaring dan bersiap pergi.
"Ayahku pasti mencariku. Jangan lupa diminum ya. Semoga cepat sembuh, tuan muda." Kata Tadashi.
Hideki kembali tercengang. Tak pernah ada satupun temannya yang mendoakannya dengan senyum tulus seperti itu. Apalagi saat ada sang ayah.
Hingga akhirnya presdir mengizinkan Tadashi berteman dengan Hideki. Meski mereka jarang bertemu karena Hideki sibuk belajar. Entah apa alasannya, pria berambut pirang itu bahkan menggantikan ayahnya menjadi dokter pribadi keluarga Takizawa. Memeriksa dan merawat saat Hideki trauma berat. Awalnya Hideki sedikit curiga tapi lambat laun kini ia merasa Tadashi bukanlah ancaman untuknya.
💜💜💜