Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 24



Pukul 01.00 pagi. Entah sudah berapa lama Hideki tak sadarkan diri, akhirnya ia membuka matanya karena merasa nyeri di kaki kanannya. Rasanya sakit sekali. Suasana yang hening membuat suara napasnya terdengar berat dan jelas. Ia berusaha melihat sekelilingnya meski pandangan masih kabur. Seketika ia tahu ruangan bercat putih ini bukan kamarnya melainkan rumah sakit.



“Hideki, kau sudah sadar?”



Kak Ayashi yang menyadari suara napas Hideki yang berat akhirnya mendekatinya. Ia kelihatan cemas sekaligus lega Hideki sudah bangun. Ayah Hideki yang tertidur di sofa juga segera menghampirinya.



“Kakak. Ayah.” Panggil Hideki lirih.



“Syukurlah kau sudah sadar.” Kata ayah Hideki.



“Apa yang terjadi?”



“Kau tidak ingat? Kau mengendarai mobil sendirian kemarin malam dan menabrak pembatas jalan. Kakimu baru saja di operasi karena patah tulang.” Jelas kak Ayashi.



“Apa?” Hideki melirik kakinya yang tertutup selimut.



“Ya. Kau berani sekali pergi naik mobil tanpa sepengetahuanku.” Kata ayahnya sinis.



“Ayah! Jangan begitu.” Cegah kak Ayashi.



“Anak keras kepala.” Gumam ayahnya.



Ayah Hideki langsung berbalik badan dan kembali duduk di sofa. Kak Ayashi menghela napas. Ayahnya masih saja seperti ini. Ia sudah memastikan putranya baik-baik saja. Makanya sekarang ia kembali bersikap dingin.



“Aku tak bisa mengingat apapun.”



“Benarkah? Apa karena benturan? Kau pergi ke rumah Agika, setelah itu kau mengalami kecelakaan.” Jelas kak Ayashi lagi.



“Agika?”



Ayah Hideki hanya melirik putranya saat disebut nama Agika. Hideki mengenyitkan dahinya. Sepertinya ia mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya.



“Agika ....” Hideki mulai mengingat memorinya dengan Agika.



“Tadi dia kesini bersama Kazuma tapi entah kenapa ia langsung pergi.” Jelas kak Ayashi.



Agika tak mau menemuinya bahkan saat ia sakit seperti ini. Ia benar-benar tak peduli lagi. Kepala Hideki mulai terasa sakit. Semua yang dikatakan Agika malam itu mulai terngiang-ngiang di kepalanya. Ia berkeringat dingin. Napasnya yang teratur tiba-tiba jadi terengah-engah.



“Agika membenciku.”



“Eh?”



“Hi .... Hideki, ada apa? Kau kenapa?” Tanya kak Ayashi panik.



“Agi .... Ukh!”



“Ke .... Kepalamu sakit lagi?”



Ayashi tahu Hideki menahan sakit di kepalanya. Kondisi Hideki yang hanya terbaring membuatnya terus mengenyitkan dahi setiap kali kepalanya sakit. Mata birunya kini terlihat sayu. Apa dia trauma lagi? Tadashi memang menyuruhnya istirahat dan tak banyak berpikir. Karena ia ada masalah dengan Agika harusnya tadi Ayashi tak membicarakannya.



“Aku tak mau pulang ke Jerman.”



“Jerman? Hideki, tak ada yang akan membawamu ke Jerman. Hei!”



“Tidak mau. Ukh!”



Ayashi menenangkannya. Sedangkan ayah Hideki hanya menatap Hideki. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Kenapa Hideki tiba-tiba membicarakan soal kembali ke Jerman? Ayahnya bahkan sudah memberinya kelonggaran untuk sekolah disini. Apa Agika yang mengatakannya?



“Hei, tenanglah. Aku panggilkan dokter untuk memeriksamu ya? Ayah, tolong jaga Hideki sebentar.” Kata kak Ayashi pelan.



***



Ayashi dan ayahnya menunggu di luar ruang ICU. Dokter datang beberapa menit setelah Ayashi memanggilnya. Tadashi sedang menjaga rumah jadi ia tak bisa mengecek kondisi Hideki setiap saat. Tapi dokter di sini tak kalah cekatan dengan Tadashi. Dokter itu langsung dengan sigap mengecek tubuh dan kondisi Hideki. Ia juga menyuntik lengan Hideki hingga ia tertidur.




“Ya, tuan. Hideki hanya sedang syok karena baru sadar. Apalagi ada cedera ringan di kepalanya. Ia hanya perlu beristirahat dan tidak banyak pikiran. Jangan biarkan ia memikirkan masalah yang serius.”



“Ia akan baik-baik saja?" Tanya Ayashi.



“Kita lihat perkembangannya, nona. Sejauh ini Hideki sudah semakin membaik.”



“Terima kasih, dokter.”



“Sama-sama. Saya permisi.”



Ayashi menundukkan badan memberi hormat begitu dokter itu pergi. Ia lalu melirik ayahnya yang memandangi Hideki dari luar jendela ruangan.



“Ayah.” Panggil Ayashi.



“Kau pulang saja. Biar aku yang menemaninya. Besok kau harus ke kantor bukan?”



“Ayah, apa kau bicara sesuatu dengan Agika?”



Pria tua itu langsung tersentak. Ia melirik Ayashi yang menatapnya dengan serius. Lalu ia berpaling lagi.



“Apa maksudmu?”



“Aku tahu Agika sangat peduli dengan Hideki. Aku bahkan berpikir mereka saling mencintai. Kenapa Agika jadi berubah? Apa karena ayah?”



“Kau juga menyalahkanku?”



“Tidak. Apa yang ayah katakan pada Agika?”



Ia tak bisa mengelak lagi. Sang ayah tak bisa menutupi ini. Kedua anaknya benar-benar tak bisa mengerti maksud dan tujuannya.



“Sudah seharusnya ia menjauhi Hideki. Ia hanya akan membuat Hideki tidak fokus pada statusnya sebagai calon CEO di masa depan. Kau sudah bisa melihatnya kan? Hideki semakin susah diatur.”



“Ayah, apa kau tahu kalau Hideki menyukai gadis itu?”



“Saat ini perasaan seperti itu tidak dibutuhkan oleh Hideki.”



Ayashi benar-benar bingung. Ia bisa paham kalau ayahnya mencoba mengatur Hideki. Sejak Hideki kecil, sifat ayahnya tak pernah berubah. Tapi kalau ia sampai melibatkan orang lain, bukankah ini keterlaluan? Ayashi mulai geram.



“Lalu perasaan apa yang Hideki butuhkan?! Kenapa ayah selalu mengatur hidupnya? Sekarang ia sudah dewasa. Ia sudah menjelma menjadi pria tampan dan punya pemikiran sendiri. Apa ia tak bisa bebas seperti teman-temannya yang lain?”



“Ia bukan seperti teman-temannya. Ia calon CEO!”



Semakin keras Ayashi bicara, semakin keras pula sikap ayahnya. Ayashi mulai sadar kalau marah bukanlah solusi untuk menghadapi ayahnya. Ia menghela napas.



“Tapi Hideki juga manusia. Dia bukan bonekamu, ayah! Sejak kecil kau sudah merebut hidupnya. Kau mengekangnya. Kau bahkan mengatur teman-temannya. Apa kau tak sadar kalau Hideki tertekan sampai trauma? Aku tak pernah melihatnya bahagia. Dia menjadi pria dingin. Kali ini ia sedang mencintai seorang gadis, kenapa kau juga mengatur perasaannya?”



“Diam kau, Ayashi! Kau tak mengerti. Aku lakukan ini demi Hideki.”



“Tidak. Ini semua demi ayah. Bukan Hideki! Dia butuh kebebasan. Termasuk perasaannya pada Agika. Ayah, kumohon cobalah pahami putramu sekali ini saja. Jangan hanya memikirkan kepentinganmu.”



Sang ayah akhirnya diam. Ia memandangi Hideki yang tertidur. Selama ini ia sudah merasa melakukan semua hal terbaik untuk kedua anaknya. Menyiapkan Hideki menjadi sosok yang sempurna sebagai penggantinya. Kenapa tidak ada mengerti?



“Ayah?” Ayashi mencoba menyadarkannya.



“Kau bahkan belum pernah menjadi orang tua, Ayashi. Tak ada yang mengerti putraku selain aku sendiri. Hideki akan paham suatu saat nanti.”



“Ayah, tapi ....”



Ayah Hideki langsung pergi begitu saja. Ayashi menyerah. Entah kenapa sulit sekali mengubah pendirian ayahnya. Ia sudah lakukan apapun. Ayahnya bahkan tidak bisa melihat keadaan psikis Hideki sudah mulai terganggu karena sikap keras ayahnya sejak dulu. Tadi saja Hideki sudah mulai ngelantur soal pulang ke Jerman. Kepalanya juga mulai sakit lagi. Padahal sebelumnya traumanya sudah hampir sembuh. Ayashi hanya takut ini akan memperburuk keadaan.



***