Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 60



Langkah kaki Hideki makin kencang setelah mendengar suara panggilan di bandara yang mengatakan kalau pesawat tujuan Singapura akan segera berangkat. Napas Hideki sudah terengah-engah tapi ia tak peduli. Demi bisa bertemu Agika, ia menerobos petugas bandara.


"Agika!"


Akhirnya sosok gadis itu terlihat dalam pandangannya. Ia sedang mengantri masuk gate. Gadis berblazer biru itu menoleh. Hideki segera menghampirinya dengan berlari.


"Hideki."


"Jangan tinggalkan aku."


Hideki menggenggam erat tangan Agika. Wanita itu menatapnya. Ia tahu pria ini mengejarnya hingga napasnya terengah-engah begini. Tapi melihat antrian gate mulai maju, ia langsung melepas tangannya dari Hideki. Agika tersenyum.


"Kau akan baik-baik saja tanpa aku."


"Tidak! Jangan pergi. Bukankah kau mencintaiku?"


"Aku mencintaimu, Hideki. Tapi kurasa kita tak bisa bersama. Selamat tinggal."


Agika berjalan masuk ke gate penerbangan. Hideki hendak mengejarnya, ia tak mau Agika meninggalkannya. Tapi mendadak kakinya terasa kaku dan tak bisa bergerak.


"Agika!"


Hideki terbangun dari mimpi buruknya. Matanya terbuka dan napasnya menderu seakan baru saja berlari kencang. Ia mendapati dirinya sudah di kamar putih kesayangannya. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat dingin.


Tiba-tiba perut Hideki terasa mual. Hideki segera turun dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi. Ia muntahkan semua isi perutnya karena mabuk semalaman.


"Uhuk! Uhuk!"


Hideki memandangi kaca yang memantulkan siluet wajahnya yang terlihat pucat dan berantakan sekarang. Perutnya masih bergejolak dan kini bertambah pusing di kepalanya. Ia tahu kalau dirinya tak kuat mabuk, tapi berulang kali ia minum bir itu. Tak ada yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Hideki mencengkeram kepalanya. Benar kata Tadashi, ia benar-benar terlihat menyedihkan.


Setelah sekian detik mengutuk diri di depan cermin toilet, akhirnya Hideki memutuskan untuk mendinginkan kepalanya yang terasa sakit. Ia melepas bajunya dan menghidupkan shower. Berdiri di bawah guyuran air dingin, berharap kepalanya bisa terasa lebih ringan. Tapi percikan air itu malah membuat tangan kanannya terasa perih.


Mata biru Hideki menatap telapak tangannya yang terbalut tissue. Ah benar, ia baru ingat kalau tangannya terluka. Kini beberapa bercak darah merembes karena lukanya menjadi basah. Melihatnya saja membuat Hideki ingat pertemuannya dengan Agika semalam. Rasanya tangannya sakit sampai menusuk hati.


Kami sudah putus. Aku akan ke Singapura jadi aku tak akan mengganggu Hideki lagi.


Aku akan melepasnya.


Kau akan baik-baik saja tanpa aku.


Kita tak bisa bersama, Hideki. Selamat tinggal.


Tiba-tiba sepotong demi sepotong suara Agika memenuhi otaknya. Bahkan mimpi buruk yang baru saja ia alami mulai teringat satu persatu. Agika tak pernah bilang kalau ia akan pergi ke Singapura. Ia tak pernah bilang akan meninggalkan Hideki.


"Sial!"


Bugh!


Hideki meninju dinding kamar mandinya dengan keras. Melampiaskan kekesalannya. Kesal pada Reina, ayahnya, Agika bahkan dirinya sendiri.


"Bagaimana aku bisa baik-baik saja? Aku hanya ingin bersamamu. Jangan tinggalkan aku …" Gumamnya sendiri.


Hideki bersandar di dinding. Perlahan tubuhnya terasa lemas hingga mengharuskannya duduk di lantai. Hideki menunduk. Tadinya ia berharap bisa sedikit mendapatkan relaksasi, tapi guyuran air membuat kepalanya makin terasa sakit. Kini bertambah punggung tangannya yang lecet karena pukulan tadi.


Sementara itu, dibalik dinding kamar mandi yang tak terkunci, sang presdir berdiri. Sejak tadi ia disana dan hanya mengintip putranya yang memprihatinkan. Jelas sekali kalau Hideki benar-benar memikirkan gadis itu. Apalagi setelah mengetahui Agika akan pergi meninggalkannya, Hideki jadi semakin berantakan.


Presdir berdecak. Ia tak senang melihat putranya seperti ini. Ia mengambil handphonenya di saku celana lalu mengirim pesan pada Tadashi agar segera ke kamar putranya. Ia tahu hanya Tadashi yang bisa menenangkan Hideki di saat seperti ini.


"Tuan muda!"


Beberapa menit kemudian Tadashi benar-benar datang. Ia langsung kaget melihat Hideki yang setengah telanjang terduduk lemas di kamar mandi. Kepalanya terus menunduk dan guyuran shower terus membasahi kepalanya. Tangannya yang terluka juga basah. Tadinya Tadashi mengira tuan mudanya sakit. Ia langsung mematikan keran shower.


"Kenapa kau bertingkah menyedihkan seperti ini?!"


"Tadashi."


Tadashi diam dan sengaja tak menjawab panggilan pria itu. Ia masih kesal karena Hideki mabuk kemarin. Pria itu tak pernah bisa mengakhiri semuanya dengan baik. Kerjaan tak beres ditambah ia mulai suka mabuk-mabukan. Orang patah hati memang merepotkan. Tadashi segera mengambil jubah handuk yang tersedia disana.


"Kenapa Agika meninggalkanku?"


"Lima tahun aku bersabar berpisah darinya. Kenapa aku tetap tak bisa memilikinya?"


"Tuan muda …"


"Kenapa kalian semua mengatur hidupku? Kenapa tak ada yang mengerti diriku?"


Hideki mencengkeram kepalanya. Rasanya pikirannya buntu. Tadashi mengulurkan tangannya dan membantunya berdiri.


"Kita bicarakan ini setelah kau keringkan tubuh dan rambutmu. Ayo bangun."


💜💜💜


Setelah tenang, Hideki hanya berbaring di sofa dan menutupi wajah buruknya dengan lengan kirinya. Ia membiarkan tangan kanannya diobati oleh dokter pribadinya. Karena guyuran air, kepalanya terasa benar-benar pusing sekarang. Apalagi ia mendapati ayahnya berdiri di depannya sambil melipat tangan.


Kenapa pria tua brengsek ini? Jika ingin marah, marah saja. Kenapa sejak tadi diam?


"Kau sungguh menyukai gadis itu?"


Akhirnya ada kata terlontar dari mulut sang presdir setelah sekian menit mereka saling diam. Mata biru Hideki melirik di balik lengannya.


"Siapa?" Tanya Hideki lirih.


"Agika."


Baru kali ini sang ayah menyebut nama gadis kesukaan Hideki itu. Tumben sekali. Hideki kembali menutup wajahnya.


"Ada apa denganmu? Bukankah perasaanku tidak penting?"


"Baru kali ini kau terlihat sangat menyedihkan hanya karena seorang gadis."


"Kau sudah puas sekarang?"


"Tidak juga."


"Lalu apa? Agika sudah meninggalkanku. Kau ingin apa lagi dariku?"


Sang ayah terdiam mendengar pertanyaan putranya. Lagi-lagi Tadashi harus mendengar kedua orang itu berdebat. Ia yang selesai membalut luka di tangan Hideki mencoba berinterupsi.


"Anu, tuan muda. Nona Agika belum pergi."


Hideki melirik Tadashi.


"Aku sudah bertanya semalam, ia berangkat ke Singapura masih besok lusa. Kau masih punya kesempatan bertemu dengannya." Lanjut Tadashi.


Mendengar kabar dari Tadashi, Hideki tadinya sedikit lega. Ia seperti mendapat angin segar. Tapi ia sadar kalau ia sudah putus. Ada ataupun tidak, Agika tetap tak ingin bertemu dengannya.


"Ia tak akan mau bertemu denganku."


"Jika kau selesaikan masalahmu, apa nona Agika akan percaya padamu?"


"Maksudmu?"


Hideki bangkit dari sofa dan duduk. Ia mulai tertarik dengan arah pembicaraan Tadashi. Sementara dokter itu mengambil berkas yang sudah ia letakkan di meja kamar Hideki sejak kemarin malam. Ia menyerahkannya pada Hideki. Presdir juga penasaran dengan file itu.


"Beberapa waktu yang lalu, orang-orangku akhirnya mendapat keterangan dari hotel itu. Kasusmu akhirnya menemui titik temu."


"Kau sudah menemukannya?"


"Ya. Kau bisa perbaiki hubunganmu dengan nona Agika. Dan presdir, anda bisa memperbaiki reputasi perusahaan."


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya sang presdir heran.


Tadashi hanya tersenyum.


💜💜💜