
Hideki mulai bosan seharian tinggal di kamarnya yang besar. Meski dilayani bak pangeran ia merasa kesepian seperti biasa. Apalagi ia merasa keadaannya lebih buruk semenjak Agika menghindarinya. Ia hanya terus memikirkan wanita berambut coklat itu.
Sejak ayahnya membawanya ke rumah lama, ia tak tinggal di rumah kak Ayashi lagi. Jika ia tak menurut, ayahnya akan memaksanya lagi. Bisa-bisa ia akan dikirim ke Jerman. Jadi atas saran Tadashi, sebaiknya Hideki melakukan gencatan senjata untuk sementara.
“Tuan muda, makanan sudah siap. Hari ini tuan besar belum pulang. Apa tuan muda mau makan di bawah bersama dokter Tadashi atau saya bawakan kesini?”
Seorang pelayan berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka begitu saja. Ia memang sudah biasa menyampaikan pesan seperti ini atas permintaan Hideki. Hideki tak mau makan di bawah jika ada ayahnya.
Hideki belum mau bangkit. Ia masih nyaman tiduran di sofa.
“Panggilkan Tadashi. Kepalaku pusing.”
“Baik, tuan muda.”
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dokter muda itu menemuinya ke kamar. Ia menemukan tuan mudanya masih tiduran di sofa. Ia menutup keningnya dengan lengan.
“Kau tak makan, tuan muda? Aku sudah menunggumu di bawah.”
“Aku tak lapar. Tapi kepalaku pusing sekali. Dadaku juga sesak. Bisakah kau berikan aku obat penenang?”
“Kau harus makan dulu.”
“Sudah ku bilang aku tak lapar.”
“Kalau begitu aku tak mungkin memberimu obat penenang.”
Hideki akhirnya bangun. Ia menghela napas. Tadashi masih bersikeras tak mau memberikannya. Bagaimana mungkin ia tenang? Ia tak bisa tidur malam ini tanpa obat itu.
“Kau memang dokter suruhan ayah.” Kata Hideki ketus.
“Haha. Terimakasih pujiannya, tuan muda.”
“Apa tak ada obat tanpa makan terlebih dahulu? Kepalaku sakit sekali.”
“Mungkin nona Agika bisa melakukannya.”
“A .... gika?”
“Ia bisa membuatmu tertidur saat di rumah sakit. Bukankah itu luar biasa? Haha.”
Hideki memerah. Ia tahu Tadashi hanya bercanda. Ia sengaja bicara seperti ini agar Hideki berhenti bergantung pada obat penenang tiap kali sakit kepala. Lagipula terapinya hampir selesai. Ia tak punya alasan lagi untuk menggunakannya meskipun masih sakit kepala sesekali.
Tapi nama gadis cantik dan ramah itu malah membuat Hideki mengingatnya. Benar, hanya Agika yang bisa membuatnya nyaman dan tenang. Ia seharusnya tak bertengkar seperti ini. Bisa jadi kepalanya sakit sekarang karena memikirkan masalahnya dengan Agika. Ia harus menyelesaikannya atau ia tak bisa tidur malam ini.
“Aku akan minta pelayan mengantarkan makanan untukmu, tuan muda. Kau bisa istirahat setelahnya.”
“Tidak. Aku akan pergi.”
“Eh?”
Hideki mengambil jaket yang tergantung di lemarinya. Ia kelihatan buru-buru hingga Tadashi sedikit heran. Ia mengikuti tuan mudanya keluar dari kamar, menuruni tangga.
“Berikan kunci mobilnya padaku.” Perintah Hideki.
“U .... Untuk apa?”
“Menemui Agika.”
“Ini sudah malam, tuan muda. Jika direktur tahu ....”
“Aku tidak peduli. Berikan saja!”
Hideki akhirnya membentak Tadashi hingga mau tak mau Tadashi langsung mengambilkan kunci mobil itu di saku celananya. Jika Hideki sudah marah seperti ini hanya direktur yang bisa menghentikannya.
“Tuan muda, kau tak terbiasa menyetir di kota ini. Ini sangat beda dengan di Jerman. Lagi pula kepalamu sedang sakit. Belum lagi jika polisi tahu seorang anak SMA sepertimu ....”
“Diamlah. Masalahku dengan Agika lebih penting.”
“Kalau begitu aku akan mengantarmu.”
“Tidak. Kalau ada kau, bisa jadi Agika tak mau menemuiku.”
Hideki menerima kunci itu dan segera pergi. Tadashi masih berusaha menahannya. Ia bahkan akan mengubah pikiran dan memberikan obat penenang itu, ia menyesal sudah bermain candaan dengan tuannya saat sedang patah hati. Tapi sepertinya sudah terlambat. Hideki akhirnya pergi dengan mobil merah itu sendirian. Bagaimana ia akan mengatakan ini pada direktur?
***
Aku menengok ke luar jendela kamar. Ah langitnya hitam. Pas sekali dengan suasana hatiku. Apa akan hujan? Untung saja ibu hari ini tidak kerja shift. Aku bisa tenang tanpa memikirkan bagaimana ibu pulang.
Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah mobil merah yang menuju ke rumah ini. Aku masih menunggu siapa yang datang malam-malam begini. Aku langsung terkejut melihat pria itu keluar dari mobil. Sinar lampu halaman masih bisa menyoroti wajahnya yang tampan. Ah itu Hideki? Aku langsung berlari keluar kamar dan minta ijin ibu untuk menemuinya. Kenapa Hideki tiba-tiba kesini?
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kesini?” Tanyaku sambil berlari menemuinya.
“Aku tak boleh kesini?”
“Bukan begitu. Ini sudah malam.”
Aku bicara sambil membuka pintu pagar. Aku yang keluar. Aku tak akan membiarkan Hideki masuk ke rumah. Ibu bisa curiga, apalagi hubungan kita memburuk. Hideki langsung menyentuh tanganku.
“Kita harus bicara. Aku ingin menyelesaikan masalah kita.”
Aku langsung melepas tanganku. Astaga, ia kesini hanya ingin bicara lagi soal tadi siang? Lagi pula apa-apaan ini, ia masih anak SMA tapi bisa mengendarai mobil? Kenapa polisi tak menangkapnya? Aku sudah mencoba membuatnya menjauh kenapa ia malah kesini?
“Masalah? Tak ada masalah.”
“Tidak. Kau menghindariku. Aku tahu itu bukan dirimu. Apa yang terjadi?”
“Tak ada yang terjadi. Sebaiknya kau pulang. Keluargamu nanti mencarimu.”
Aku menengok ke kiri dan kanan. Aku takut ayahnya atau anak buah ayahnya mengikuti Hideki. Ini bisa jadi masalah besar.
“Agika, aku butuh penjelasanmu. Kau tak bisa membuatku seperti ini."
“Aku sudah jelaskan semuanya.”
“Tidak. Ada yang salah denganmu sejak dari rumah sakit. Sikapmu berbeda.”
Aku tak bisa mengendalikan Hideki. Ia terus bicara soal diriku yang berbeda sejak kemarin. Ia seperti bingung. Aku benar-benar harus membuatnya menyerah sekarang. Aku mendorong tubuhnya pelan.
“Sudah berhenti!” Kataku tegas.
Hideki terkejut aku mendorongnya. Aku menghela napas. Berapa kali aku harus bilang padamu Hideki? Ini demi dirimu.
“Hideki, aku katakan sekali lagi. Aku menolak perasaanmu padaku. Tidakkah kau mengerti?”
“Agika, tapi ....”
“Kau ingin aku melakukan sesuatu hanya untukmu kan? Ini yang ku lakukan. Jadi berhenti mencariku.”
Aku langsung berbalik badan dan akan kembali ke rumah. Aku sudah bilang dengan jelas. Harusnya ia segera pergi.
“Kau membenciku?” Tanya Hideki.
Aku meliriknya. Mata biru itu tak lagi tajam menatapku. Ia kelihatan sedih. Ya ampun, apa aku harus melanjutkan ini?
“Jika kau tidak menyukaiku, apa berarti kau membenciku?” Tanyanya lagi.
“Ya. Aku membencimu.”
“Eh?”
“Semua orang pasti akan membencimu. Kau sombong dan pembohong. Kau menutupi jati dirimu yang sebenarnya. Tak ada yang mau dekat denganmu selain karena kasihan.”
“Apa maksudmu, Agika?!”
“Aku hanya mendekatimu karena kasihan. Kalau perlu pulanglah ke Jerman. Di sini tak cocok untukmu.”
“Agi .... Kau ingin aku kembali ke Jerman? Ukh!”
Tiba-tiba Hideki mencengkeram kepalanya. Astaga, ia sakit lagi? Aku ingin menyentuhnya tapi ku tahan lenganku. Aku harus menjauh. Ia tak boleh menemuiku lagi. Ayahnya bisa mengawasinya setiap saat. Aku harus melepasnya meskipun dengan cara menyakitkan.
“Ya. Pulang saja. Aku tak mau melihatmu.”
Aku langsung masuk ke rumah. Meninggalkan Hideki yang masih terkejut mendengar ucapanku. Semoga setelah ini ia tak mencariku lagi.
***