
“Apa susahnya memberi Asi kepada bayiku” Khenzo menggerutu kesal di dalam Ruangan kerjanya.
“Tuan.. Nona Kiara Tidak
“Aku tahu dia tidak mau! Tapi demi seorang bayi yang kehausan. Apa dia tega membiarkan bayiku menangis terus” ujar Khenzo.
Hufffff
Sekertaris Nan menghela nafas panjang. betapa sulit baginya harus mengatakan kalau nona mudanya itu belum memiliki Asi.
“Kenapa kau diam saja!” Ujar Khenzo.
Untuk apa saya berbicara tuan. Bila tuan Menyela pembicaran saya terus menerus
“Maaf tuan.. Apa saya harus berkomentar”
“Tentu saja”
“Nona muda bukan tidak mau menyusui tuan kecil. tapi....”
“Sudahlah. Bagaimana caranya agar gadis itu bersedia menyumbangkan ASI-nya kepada Bayiku” ujar Khenzo memotong pembicaraan Sekertaris Nan.
Benar kan! ucapanku pasti tidak akan di dengarkan!
Sekertaris Nan bergumam.
“Apa yang di pikirkan gadis itu. kenapa dia sangat pelit sekali” Celoteh Khenzo terus menerus menyalahkan Kiara.
“Dia sungguh tidak berperasaan. bayiku tidak akan membuat ASI-nya habis kan. Bayi ku hanya akan minum sedikit. Aishh benar-benar gadis yang pelit”
“Nona Kiara tidak memiliki Asi tuan” Merasa geram dengan setiap ocehan tuan mudanya. sekertaris Nan akhirnya menyelesaikan kalimatnya yang seharusnya.
“Apa maksudmu Nan. mau ku potong gajimu lima bulan?. hah!” ujar Khenzo melotot ke arah Sekertaris Nan.
”Tuan... pada umumnya. Wanita yang belum pernah hamil dan melahirkan, tidak mengeluarkan asi. Hanya ibu yang melahirkan yang memperoleh itu.” Sekertaris Nan menjelaskan.
“Darimana kau tahu itu Nan” Ujar Khenzo sangat syok mendengar penjelasan itu.
“Di sekolah! Aku mempelajarinya di sekolah Tuan” Ujar Sekertaris Nan.
“Aku Juga sekolah. Tapi tidak mempelajari Serinci itu” Ujar Khenzo kesal.
“Iya tuan. anda juga sekolah tapi home. schooling.”
“Tapi tetap saja aku tidak percaya kata-katamu sepenuhnya. suruh petter kemari.”
“Baik tuan muda.”
“Pergilah secepatnya”
Bagaimana mungkin. Dada sebesar itu tidak bisa memberi asi untuk Bayiku.
Jadi apa yang ada di dalam nya kalau bukan Asi. Aishh sungguh-sungguh membingungkan.
Bibir Khenzo berkutat. memandangi Bayi mungil yang sedang menyusu melalui Dot. Kiara dengan lembutnya menyusui Bayi yang ada di pangkuannya.
“Apa dia lucu?” Ujar Khenzo
“Dia sangat lucu dan menggemaskan,” Kiara tersenyum lebar.
“Ahahah.. kau benar.” Ujar Khenzo terlihat sangat menggemaskan.
“Oh ya. apa kau sudah memberinya Nama” ujar Kiara.
“Belum... apa kau memiliki nama yang bagus.” Ujar Khenzo meminta saran.
“Kalau aku..! seharusnya kau yang memberinya nama. kau kan ayyahnya” Ujar Kiara membentak Khenzo.
Khenzo menatap kejam, seperti bola matanya ingin keluar saja.
“Maaf. aku sebenarnya tidak bermaksud membentakmu tadi. aku hanya kesal saja. bagaiman seorang ayah tidak memiliki Nama untuk putarannya sendiri”
“Aku akan memikirkannya. Besok kita beri dia nama.”
“Begitu juga bagus,”
“sekaliam memberikan dia Panggilan, enaknya dia memanggil kita apa.” Khenzo terlihat berfikir.
“Ayah bunda.”
“Tidak, aku tidak mau dia memanggilku bunda.” ujar Kiara.
“bagaiaman kalau Daddy dan mommy.” Khenzo memberi saran.
“Tidak, Tidak ! itu terlalu kebarat-baratan.”
“Jadi Panggilan apa.”
“Ayah Khenzo dan kakak Kiara.” ujar Kiara tersenyum.
“Kau masih tidak mau menjadi ibunya?”
“yah, aku memang bukan ibunya.”
“karena kau istri ku, setidaknya jadilah ibu sambung untuknya.”
Kiara membalas dengan wajah malas,
“Kau sangat menyebalkan Khenzo, menikah dengan gadis seperti ku ternyata kau sudah duda.” Kiara berdiri meninggalkan Khenzo dan bayi itu.
“Apa.kau bilang, jangan pergi kau. Kiara!”
Kiara tetap berjalan, meninggalkan kamar itu.
ia menghubungi Orangtuanya,
kenapa kalian menjodohkan aku dengan Peria beristri.
Kiara sedikit kecewa, meski ia tidak mencintai Khenzo tetap saja hatinya hancur menerima keadaan itu.