
Di sebuah pemakaman Muslim.
Dimana Sita di makamkan tiga bulan yang lalu.
Langit Tiba-tiba Mendung menggantung di Setiap cakrawala.
Seorang pria bersurai Pirang meluahkan airmata—tertunduk Hening dalam Lara.
mengingat memory-memory indah yang di rakit bersama meski sudah mulai terlupakan.
Sosok Sita sangat Lekat menancap di dalam Jiwa.
Kenapa kau meninggalakan ku Sita! Kau pernah berjanji Kita akan hidup semati.
Apa kau lupa semua yang pernah kau katakan padaku.
Dalam Lara, Pilu mencekam. mengingat Selaksa Suka-cita yang di harungi bersama.
“Satu tahun Dua bulan kita bersama,. kenapa kau pergi tanpa kata.
Apa kau sangat membenciku?..
Sita!.”
Masih berderai Air mata. pria yang pernah menjadi kekasih kembaran Khenzo itu tidak percaya, Istrinya hilang dari Dunia Fana.
Di dalam mobil, dengan kacamata hitamnya.
Khenzo menyeka Mata yang memerah karena terbawa suasana.
“Jangan sedih Tuan, Nyonya Sita pasti akan Sangat bahagia di Alam sana.”
Sekertaris Nan menyodorkan tisu untuk Tuan mudanya.
Tangis Ambigu itu dapat terdeteksi, Khenzo memang sangat keras dan dingin. tapi pria tampan itu juga memiliki banyak kesedihan di dalam hatinya.
“Kita keperusahaan. Beritahu pengawal agar mengantarkan Brian melihat Falerian. beri waktu mereka berdua. Setelah itu bawa Falerian kembali pada Kiara, Dia pasti sudah kangen tidak melihat putranya.”
Senyum tipis mulai mengembang di sana.
“Baik Tuan.”
Mobil melaju menuju R.N group.
Sedangkan Bibi Mel dan beberapa pelayan wanita masih berada di Villa.
********
Di taman belakang Kediaman Khenzo.
Dua orang sedang duduk Mengarah kolam ikan.
Kiara duduk di kursi taman sambil meneguk Jus buah kiwi yang segar.
Sedangkan kepala pelayan Min duduk di Kursi kecil dekat kolam. melempari makannya ikan ke dasar kolam.
“Aku tidak mengerti, seiring berjalannya waktu, aku sangat menyayangi Falerian meski dia bukan putraku.” Ujar Kiara, menebarkan pandangan ke arah Dalam rumah yang di lapisi Ding-ding kaca.
“Bahkan aku sangat Rindu padanya, padahal pak Min bilang mereka tidak akan lama.” ujarnya pada pria paruh baya di pinggir kolam sana.
Pak Min hanya tersenyum, Mendengarkan Cerita Manis antara anak dan dan orang tua angkat itu.
Bahkan Nona tidak tahu, Tuan Falerian bukanlah Putra kandung Tuan Muda.
“Apa Nona tau, Saya dan Bibi Mel sangat menantikan kehadiran seorang Anak.”
Ujar Pak Min, sambil bertatap teduh.
jika di ijinkan Dia juga ingin bercerita kepada nona mudanya.
Kiara meletakkan cangkirnya di kursi, berdiri lalu berjalan mendekati Kepala pelayan itu.
Kiara Duduk di batasan Kolam yang bersih dan terawat.
“Kenapa Anda diam Pak Min, Ceritakanlah Aku akan menjadi pendengar yang Budiman!.”
Seru Kiara, menarik dengan cerita yang ingin pak Min bagi padanya.
“He he maafkan saya Nona, Malah curhat kepada Nona.”
Pak Min menggaruk Hidungnya yang tak gatal.
tapi pada dasarnya ingin sekali menceritakan keluh kesahnya kepada seseorang seperti Kiara.
“Tidak Apa-apa pak Min, Bercerita lah, aku sangat ingin mendengarnya.” ujar Kiara.
Pak Min menarik nafas lega, menemukan orang tempat bercerita.
“Dua puluh tahun Yang lalu. Aku melamar Gadis bernama Melan, Dia sangat Baik dan penuh perhatian Dia juga sangat Cantik.
Di awal rumah tangga kami, kami sangat bahagia, Aku bekerja sebagai koki di Restoran ternama
kami hampir memiliki segalanya.
Satu yang tak pernah kami miliki.
Keturunan.
Aku begitu kecewa di usia pernikahan yang menginjak tujuh tahun, kami belum juga memiliki keturunan. hingga suatu hari Aku berulah. Mabuk-mabukan dan melakukan berbagai perilaku yang tidak terpuji.
Aku melakukan kesalahan hingga di pecat dari pekerjaanku.
Dia hanya akan menjadikan aku sebagai sumainya, Dia sangat mencintaiku apapun yang terjadi.
Aku sangat tersentuh, Setahun setelah itu, Kam memulai hidup baru, bekerja keras lagi, Melan juga ikut bekerja.
kami membuka Rumah makan yang tidak terlalu besar. sampai hidup kami sudah lumayan dari sebelumnya.
Melan mengusulkan agar kami memeriksakan kedokter.
Betapa terkejutnya aku.
Dokter mengatakan Melan Mandul.
Aku sangat terpuruk, aku sangat mencintai melan. aku tidak ingin dia Terluka gara-gara berita itu.
Aku meminta kepada dokter agar mengatakan yang bermasalah adalah aku, bukan Melan yang mandul.
Dan melan sangat histeris mendengarkan itu, Tiap hari dia menangisi keadaanku. selalu berdoa Agar aku sehat kembali.
dia tidak meninggalkanku meski dia tahu dia tidak akan memperoleh anak dariku.
Bibi Mel sangat setia.
Sampai saat ini Dia belum tahu kalau dirinya yang mandul, bukan aku. dan aku tidak mau dia tahu. ..
Bisakah Nona merahasiakannya.”
Ujar Pak Min.
“Ya, aku akan merahasiakannya.”
Huhu, kisah yang menyedihkan tapi nanis dan menginpirasi, kesetiaan pasangan yang sangat manis.
Pak Min beruntung mempunyai istri seperti Bibi Mel.
Bibi Mel juga beruntung memiliki suami seperti Pak Min.
mereka adalah pasangan yang sangat serasi.
Netra seindah Senja itu Berkaca-kaca.
Mendengar kisah cinta pelayannya.
Membandingkan dengan Orangtua kandungnya yang memilih berpisah.
“Nona, Apa anda baik-baik saja!.” Pak min menyerahkan sapu tangan yang baru untuk Kiara.
“Pak min, Aku sangat terharu mendengar Cerita cintamu dengan Bibi Mel. Aaaa aku jadi iri lagi pada cinta kalian.”
“Yang seharusnya iri itu Bibi Mel Nona. Nona mempunyai suami seperfect tuan muda.”
Perfect apanya. sudah Duda punya anak lagi.
Kiara memberi senyum untuk membalas ucapan pak min yang mengatakan tuan mudanya perfect.
Drtttt drtttt
Gawat di saku pak Min bergeser, Bibi Mel memanggil.
“Woahhh, Baru saja di gosipi, Bibi Mel sudah unjuk Suara.” Goda Kiara pada Kepala pelayan itu.
“Ijinkan saya mengangkat panggilannya Nona.”
“silahkan Pak Min.”
Ujar Kiara, sambil berjalan menuju Kursinya yang tadi.
“Pak! Dimana Nona muda. Falerian di bawa pergi sama ayah kandungnya. tolong rahasiakan ini pada Nona ya. sebelum Tuan kecil berhasil di dapatkan kembali.”
Bibi Mel bersuara dalam panggilan telpon itu.
dan langsung mematikan sambungan telpon meski yang di telon belum memberikan respon-nya.
“Aaa,, Bu..”
Pak min tidak sempat berkata-kata.
“Ada apa pak Min.
kenapa kau sangat gugup, wajahmu juga pucat.”
“Tidak ada apa-apa Nona.”
Di Gedung R.N Group.
di ruangan presdir.
Plakkk.
Satu tamparan tangan Sekertaris Nan mendarat Di wajah Pengawal yang bertugas mengawasi Brian selama Di villa.
“Apa kalian tidak bisa menjaga Satu orang pria. Kalian bahkan bukan cuma satu. apa kalian bosan hidup enak!?.”
Bergetar, Sensasi panas menerpa wajah Pengawal itu.
Dua orang di belakangnya sudah bergetar ketakutan. Sekertaris Nan seorang pria berwajah tampan dan menawan. memiliki beberapa sifat yang tidak bisa di tebak.
Bisa selembut sutra bahkan sesejuk embun pagi.
disisi lain bisa sedingin es dan bahkan bisa sepanas api.
Bersambung....