
Menjelajahi Setiap sudut taman Di malam hari.
Kiara duduk di ayunan Yang terikat di bawah pohon rindang.
“Kyaaaa!!! kenapa semuanya terasa sangat Sempit.” Kiara memgeluh saat merasa ayunan itu sangat kecil untuknya.
Menatap kedalam rumah megah, Hatinya pilu. Netra seindah senja itu mulai membendung air mata.
Jika dulu dia sangat ingin bebas dan pergi dari rumah itu, Sekarang langkahnya terasa berat.
Mencintai Tuan muda Khenzo tanpa Perencanaan. Kiara merasa menyesal sudah jatuh hati kepada orang Yang tidak berperasaan seperti Khenzo.
Kalau tahu seperti ini. Aku tidak akan mempercayai Bibi Mel.
“Bukan! Bibi Mel tidak salah.
Aku yang terlalu Naif, Berharap di perhatikan oleh si Khenzo Songong itu.
Dia benar-benar Pria kurang ajar yang tidak bisa menghargai perasaan orang.
Lihat saja kalau aku sampai keluar dari rumah ini dan menjadi cantik lagi.
Aku bersumpah tidak akan Sudi menjadi istrinya lagi.” sumpah serapah ia ucapkan di dalam gelap malam.
“Sayangnya itu tidak akan terjadi.”
What!??
“Se-sejak kapan Tuan Ada di sini?.” Ujar Kiara gugup saat melihat Khenzo duduk di ayunan yang berada di sebelahnya.
Tanpa menjawab pertanyaan kiara, Khenzo malah tertawa sadis penuh arti.
Mengalihkan pandangan ke samping, Wajah gamang Kiara mengeluarkan keringat dingin.
“Apa dia mendengar semuanya. Aku mengatainya dan menyumpahi dia tadi. Aduh Kiara kau benar-benar BOD*H." Gumam Kiara pelan.
“Aku mendengar semuanya!" ujar Khenzo lugas.
“Bagaiman ini. Telinganya seperti punya pendengaran ultrasonic saja.”
“Itu juga, Aku bisa mendengarnya.” ujar Khenzo lagi.
Menarik pandangan ke arah Khenzo. iris coklat ke jinggaan itu mulai berbinar. Seakan terpanah lagi oleh tampanan Sang suami yang sangat karismatik itu.
“He, Air liur mu kemana-mana!" ujar Khenzo menyerahkan Sapu tangan Berwarna Abu-abu itu.
Meraih dengan cepat. Mengusap bibir yang sudah basah itu.
“Terimakasih Tuan.” menyerahkan sapu tangan.
Tentu saja Khenzo tidak menerima.
Orang yang mementingkan kebersihan itu Merogoh saku jasnya.
Menyerahkan kotak kecil yang di berikan Bibi Mel padanya.
“Pakailah jangan pernah di lepas lagi.”
“Suamiku, Tolong pakaikan di jariku.”
Ingin sekali Kiara mengutarakan keinginannya itu. tapi ia urungkan dengan sepenuh hati.
Membuka Kotak kecil berwarna merah.
Kiara memandangi Cincin kecil yang dulu sangat pas di jari manisnya.
Menatap jemari gendut itu dengan perasaan iba.
Tidak berani memasukkan Cincin itu, takut Tidak muat di jarinya.
“Kenapa tidak di pakai.” Ujar Khenzo, saat melihat istrinya hanya diam saja memandangi cincin pernikahan mereka.
“eh."
Khenzo mengambil alih cincin itu, menyematkannya di jari manis Kiara.
Sama sekali tidak muat
Pria itu mengerutkan keningnya.
Segendut inilah Istrinya, sampai cincin yang biasanya pas itu, sekarang ujung jarinya saja tidak masuk.
pria tampan itu Menyematkannya lagi di jari kelingking.
Berdebar, Sebongkah merah yang kepanasan itu inginkan meloncat keluar.
Saat Khenzo menggenggam erat tangan Kiara, gadis itu seakan tak berdaya.
Khenzo mengayun Tubuh gendut yang tidak ringan itu, sebagai tebusan kata-kata kasarnya tadi di dalam kamar.
Kiara, dengan senyum lebar yang mempesona sambil memamdangi Jari kelingking yang di hiasi cincin berlian mahal pernikahan mereka, walau Hanya ujungnya saja yang muat di lubang Cincin itu.
Kiara sangat senang, teramat senang.
Bagai Dunia hanya miliknya bersama Prianya.
“Tuan, Terimakasih sudah bersedia mengayun ku. sebenarnya tidak usah seperti itu! Nanti tuan malah Kecapean.” ujar Kiara Kawatir.
“Kau tidak Sudi diayun olehku.” ujar Khenzo menatap kesal.
“Bu-bukan seperti itu. Bahkan aku snagat senang! terimakasih.”
“Emmm.”
“Tuan, Apa saya sangat gemuk.”
“Ya!”
“Apa saya jelek.”
“Ya."
“Apa mata tuan sakit melihat saya.”
“Sangat sakit!”
“Maaf tuan. Saya tidak bisa menjaga postur tubuh dengan baik, dan berubah menjadi Sapi yang menyebalkan.”
“Kau gendut dan jelek!
Tapi sangat imut juga.”
Kiara Berdebar. mendengar kalimat terakhir. "Imut! Dia bilang aku imut." gumam Kiara senang.
“Ya, Kau Panda yang imut.”
Malam ini dalah malam yang bahagia, seolah sedang bermimpi, Khenzo sangat lembut dan perhatian padanya.
Memasangkan cincin dijari kelingkingnya, Mengayunnya dengan lembut di bawah pohon Rindang.
Suara Jangkrik-jangkrik menjadi saksi bisu malam yang penuh cinta ini.
Kiara memejamkan matanya, Tidak ingin malam ini berlalu begitu saja. tanpa sadar dia malah tertidur karena ayunan sang suami yang sangat nyaman.
Hzzzzzz zzzzz zzzz
“Kiara.” panggil Khenzo pelan.
Kiara tidak menyahut, Khenzo menyentuh bahu lebar dan gendut itu. Badan besar itu jatuh di pelukan Khenzo.
Sial dia berat sekali.
“He Nan. Cepat bantu aku.” Ujar Khenzo kepada Nan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Baik Tuan.”
Khenzo memegang lengan kiara mengeluarkannya dari ayunan.
“Sial, kenapa tubuhnya sangat besar, sangat sulit di keluarkan dari ayunan ini.” Keluh Khenzo yang sudah keberatan menahan tubuh Kiara.
“he Nan! Kenapa kau hanya diam saja. cepat tarik ayunannya! Dasar beruang kutub.”
“Baik Tuan.”
Khenzo menarik Istri besarnya, sedangkan Nan Menarik ayunan itu.
dengan susah payah Akhirnya Kiara terlepas dari ayunan.
Kedua pria itu mengangkat Panda dewasa itu kedalam rumah dengan susah payah.
BERSAMBUNG.....