
“Apa rencanamu setelah ini?”
ujar Jordan, yang beberapa menit lalu baru saja datang ke hotel yang Khenzo booking.
“Mengenai Brian. aku akan memindahkannya ke Singapura. dia akan dirawat Disana sampai sembuh. Dan Lily juga ikut bersama Brian. sedangkan Falerian, biarkan Kami yang merawatnya dulu.”
“Bagaimana dengan Rahel. kau mau melepaskan tanggung jawab terhadap wanita itu?” Ujar Jordan menerka.
“Untuk apa aku mengurusnya, Dia punya Ayah angkat yang akan selalu ada untuknya, atau kalau tidak paman saja yang mengurusnya sampai sembuh.” Tawar Khenzo kepada Jordan.
“Ih, Tidak usah. aku sudah memiliki beban berat dengan adanya Nayra yang serewel itu. aku tidak ingin membuat istriku Depresi berkepanjangan karena kehadiran Rahel.”
“aku kira kau peduli padanya.”
“Maaf aku masih banyak kesibukan.”
Nayra yang juga ikut kesana merasa sepi. karena tidak menemukan Kiara dan maupun Falerian.
“Dimana istrimu Khenzo?”
“Dia di alun-alun bersama Lily, Falerian, dan juga Petter.” jawab Khenzo.
“oh,”
“Nan tolong antarkan Bibi ke tempat Nona muda.”
“Baik tuan.”
.
.
.
.
Di sebuah alun-alun.
dua orang perempuan berkumpul di sana.
bukan hanya mereka, dokter petter juga Disana sedang menggendong Falerian.
“Kau tidak bercanda kan. Paman Khenzo adalah suamimu, Suami yang pernah kau ceritakan padaku sebelumnya.” ujar Lily, berharap Kiara menjawab "bukan, itu bukan suamiku.
pasalnya Lily sudah terlanjur, terlanjur mengata-ngatai Khenzo sebagai pria jahat dan sebagainya.
karena memang Kiara menyebut suaminya Seperti itu dulu.
Kiara hanya mengangguk dan itu sukses membuat Lily Gemetar.
“Bukankah kau bilang, kau sangat membenci suamimu!?” Uajrnya, memastikan bahwa ia tidak salah baca waktu itu.
“Benar, Dulu aku sangat membencinya. karena aku mengira dia sudah pernah menikah dan punya anak. dia juga seperti pria gampangan yang suka bermain wanita.
tapi aku salah. tuan Khenzo bukan orang yang seperti itu.
dan belakangan ini aku sadari. Aku sudah mencintainya.” Jawab Kiara jujur.
Oh Sh'it.
aku sudah terlanjur menjelek-jelekkan tuan Khenzo Di depan mata kepalanya sendiri.
Lily menunduk lesuh, entah bagaimana ia menjelaskan bila bertatap muka langsung dengan Khenzo nanti.
“Tapi,” kalimat Kiara Terdengar menggantung.
“Tapi kenapa?”
“Tuan Khenzo, dia tidak mencintaiku.”
Kau salah, Tuan Khenzo sangat mencintai mu. tapi kamu tidak menyadari itu.
Batin Lily ingin berkata jujur.
“Lily, aku harus bagaiman?
Aku sangat mencintai Tuan Khenzo tapi dia seperti mencintai gadis lain. dia memiliki wanita lain di luar sana. dan aku juga dilema dengan perasaan Bibi Nayra. Aku takut Dia belum bisa move on dari Tuan Khenzo.”
“Kata siapa aku belum Move on!
Dan siapa bilang Khenzo tidak menyukaimu.” Nayra tiba-tiba muncul di hadapan Kiara dan Lily. membaut Kiara kaget bukan main.
“Bi.. Nyonya Nayra!” Kiara kaget.
“Kak Nayra.” Tambah Lily, memastikan bahwa itu benar Nayra atau bukan.
“Aku sudah menyerah tentang cintaku kepada Khenzo jauh sebelum aku menikah dengan Suamiku. aku tidak mengharapkan Khenzo sepertinya ucapku waktu itu.
Aku hanya depresi dan tidak bisa berpikir jernih.” Nayra mendekati Kiara, menggenggam tangannya.
“Kau tahu. aku memiliki sebuah cerita untukmu.” menarik Tangan Kiara untuk duduk di kursi.
“beberapa bulan yang lalu, di seberang sana, masih dengan tempat yang sama. aku mendatangi Khenzo.” menunjuk Sebuah titik di alun-alun itu.
“Aku memaksa Khenzo untuk menerimaku lagi.
Menjalin hubungan yang baru tanpa berpikir bahwa mungkin akan ada orang yang terluka. dengan begitu egoisnya aku eminta Khenzo lagi. aku seperti di kendalikan oleh emosiku.”
Menatap Kiara lekat.
“Kau pikir Khenzo tidak mencintaimu? Kau bisa tanya langsung dengan Lily apa yang sebenarnya Di rasakan Khenzo kepadamu.”
Kiara langsung menatap heran kepada Lily.
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
Lily Tersenyum-senyum.
Samapi akhirnya dia menceritakan semuanya.
*******
Malam di kamar hotel.
Khenzo sedang sibuk memainkan Gadgetnya. tiba-tiba Ia mendengar siulan dari ambang pintu.
Tentu saja ia menatap kaget, makhluk di hadapannya sangat Tidak biasa, Kiara mengibaskan rambut yang masih lembab miliknya, mencoba menggoda tapi bukan seperti itu caranya.
Khenzo menelan Saliva, bukan karena tergiur atau bagaiman, tapi merasa Angker dengan tingkah Istrinya.
“Sayang?” Ujarnya kepada Khenzo tanpa tahu malu.
Mungkin Urat malunya sudah putus kali ya.
Apa yang terjadi padanya? Tidak! ini bukan dirinya.
Batin Khenzo curiga.
“Sayangku, kemarilah.”
ujar kiara sambil menjentikkan jarinya.
Khenzo menghampiri Kiara, menekan Dahi itu agar Kiara tidak memeluknya.
“Sayang, Kemarilah. aku butuh pelukanmu. aku haus akan kasih sayang.”
“Kau kenapa? Kesurupan?”
“hei sayang.” menunjuk Wajah Khenzo dengan telunjuknya, jemarinya menari-nari di atas wajah Khenzo.
“Kau sangat tampan.”
Khenzo menatap tajam.
merasa aneh dengan tingkah Istrinya yang terlihat merona seperti kepiting rebus. Keringatnya bercucuran, auranya sangat panas.
“Hei sayang, jangan menatapku seperti itu. aku jadi tidak sabar ingin mencium mu.” Kiara terus berbicara.
“Ayo peluk aku. aku sangat kepanasan.”
“Kau mabuk?”
“Tidak.”
Kiara memang tidak mabuk, dia hanya di suguhi soda oleh Lily dan Nayra. tiba-tiba Dirinya merasa panas dan terjadilah seperti ini.
“Hei, Tuan Khenzo yang sangat arogan. kau mencintaiku kan! kau sudah mencintaiku kan. tapi kau tidak mau mengakuinya.” ujar Kiara tanpa rasa malu. Dia sadar. sepenuhnya sangat sadar. tapi dorongan obat perangsang yang di hadiahi Lily dan Nayra membuat Sarafnya sedikit miring.
Khenzo mengerut tak suka, Menempelkan Telapak tangan di wajah istrinya.
“Ini tidak benar.”
Khenzo langsung mengangkat tubuh istri menuju kamar mandi. menjatuhkannya kedalam Bathub berisi air dingin.
Membasahi seluruh tubuh Kiara dengan air, agar efek obat perangsang yang sudah meracuni tubuhnya bisa keluar.
“Siapa? Siapa yangelakukan ini padamu.”