
Hari demi hari Di lewati dengan sukses meski sangat berat tapi demi cinta Kiara bisa melaluinya.
Tidak ada lagi yang berani membelanya–kala harus menerima Ujian demi ujian agar menjadi Kiara yang dulu.
hari-hari makanannya di batasi tanpa ada yang protes dan keberatan Sampai memberinya makanan tambahan.
Memang sangat sulit, tapi itu ia lakukan demi menjadi kurus lagi.
Duduk di pojokan Taman, dengan air keringat yang bercucuran.
tubuh penuh lemak itu sekarang perlahan mulai meninggalkan tubuh gemuknya.
Menyerahkan Air mineral, Ririn bersama Bibi Mel sangat antusias menyemangati Kiara.
sedangkan Dokter petter bertarung dengan takdir antara bisa atau tidak mengembalikan bentuk tubuh Kiara. sekarang nasibnya ada di tangan istri tuan mudanya itu.
“Ayo sayang, semangat. kamu pasti bisa kembali seperti dulu lagi.” ujar Ririn kepada putrinya.
Membalas ibunya dengan senyuman paling manis. Kiara kembali mengelilingi rumah itu di sore hari yang masih cerah, membakar lemak-lemak di dalam tubuhnya.
********
Pagi di kota London, Pria dengan wajah tampan itu terlihat menikmati harinya, bersantai.
Dua Minggu lebih mereka berada disini dan proyek besar yang di buru hampir terselesaikan.
Menatap setiap sudut alun-alun dengan mata Jelakanya.
jika dulu Khenzo paling antusias ke London agar bertemu Gadis SMU nya dan sekarang masih tetap sama.
Sekertaris Nan sibuk menggalih informasi yang sama sekali tidak membuahkan hasil.
Duduk Di Bangku yang berada di alun-alun, Khenzo melepas earphone yang menempel di telinganya.
memandang Ke arah wanita di hadapannya. sambil tersenyum sekenanya.
Wanita di seberang sana terlihat menarik sudut di bibirnya hingga terkembang sempurna.
Mendekat beberapa langkah, gadis Cantik dengan rambut panjang yang menjuntai ke bawah itu menyapa.
“Hai khenzo.”
Beberapa menit setelah itu, keduanya duduk di Satu kursi yang selalu terdapat di pinggiran Alun-alun itu.
“Bagaiman kabarmu.” tanya sang wanita yang dulu pernah singgah di hati Khenzo.
“Aku baik-baik saja.” ujar Khenzo menjawab seadanya.
“Emmm, kau kemari Untuk bekerja atau sedang berlibur?” Tanya Nayra.
“Dua-duanya.” jawab Khenzo lagi.
Tersenyum, Bahkan Khenzo yang seslembut dulu tidak ia dapatkan di diri Khenzo yang berada di hadapannya sekarang ini. hanya ada Aura dingin yang mencekam, merem*s jemarinya. Nayra bersuara lagi.
“Apa kau masih marah.”
“Untuk apa aku marah.”
“Karena kejadian itu. Aku benar-benar telah menghancurkan hatimu dengan bersedia menikah dengannya.” Ujar Nayra.
“Sudahlah, lupakan saja masalah lama, Semua orang punya masalalu, begitu juga dengan kita! tapi masalalu biarlah berlalu, masa depan yang harus di tata agar tidak terulang masa lalu yang penuh dengan Lara dan duka asa.” bangun dari duduknya.
“Bibi Aku permisi dulu.”
Tersenyum Hambar, Bahkan sudah selama ini, dirinya belum bisa memperbaiki hubungan yang retak diantara mereka. Bibirnya bergetar sampai tiba memanggil nama yang pernah menggetarkan jiwa.
“Kak khenzo.”
Menghentikan langkah,
berbalik badan dan menoleh kearah Kekasih yang di rebut pamannya itu.
“maaf Bibi, Apa kau memanggilku?!”
“Bibi! Siapa yang Bibi mu.” cetus Nayra dengan Galaknya.
Lalu memeluk Pria yang sudah beristri itu.
“Aku Nayra Bukan Bibi mu.”
Berusaha melepaskan Dirinya, Meski harus dengan Nada paksa, akhirnya sang wanita jera memeluk pria yang bukan muhrimnya.
“Kenapa! apa aku sudah tidak pantas untuk mu.” Suara Nayra lirih.
Mengusap bahu Nayra dengan lembut,
“Tenaglah, Duduk dulu.” Khenzo membantu Nayra duduk di kursi yang tadi.
“Bukan Maslah pantas atau tidaknya. serang kita sudah berbeda, Kau punya suami dan aku punya istri
kenapa kau begini, Apa yang membuatmu sangat kacau.” tanya Khenzo sedikit perhatian.
menepis, Khenzo memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Untuk apa, Menggores kembali luka Yang tertutup sehingga Harus menganga lagi.”
Membuka gawai, memperhatikan Foto gadis gemuk yang menjadi wallpaper di layar Gawainya.
“Tidak akan ada yang terluka.” jawab Kiara tanpa berpikir Luas.
Tidak ada. jangan konyol.
mengusap layar gawai dengan jempolnya.
“Kau tidak akan mengerti, setelah berlalu beberapa Tahun kau pikir aku tidak berubah.
Pulanglah, Paman mengkhawatirkan mu.”
“Tidak mau.”
“Terserah, tapi aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal Bibi.” berjalan menjauhi Nayra.
“Jangan pergi, Khenzo jangan pergi.
Kau tidak tahu bagaimana perasaanku. Bersedia tunangan dengan Jordan demi memperoleh kepulangan mu, tapi apa yang aku dapat. Kau malah menikahai gadis lain. aku menunggumu bertahun-tahun tapi apa balasanmu. kau jahat! kau orang yang jahat.”
Makian Nayra lontarkan. tapi Khenzo tetap berjalan menghindari dirinya.
Tersenyum sinis, Khenzo tersenyum Getir. Miris melihat wanita yang dulu pernah ia kagumi dan ingini, tapi perasaan itu hilang Sirnah setelah Kiara memasuki rumahnya.
Berjalan di ikuti Sekertaris Nan yang sedari tadi menjadi pengamat dari kejauhan, dia sendiri tahu apa yang sedang terjadi sekarang.
seorang mantan menemui mantan kekasih karena masih mengandung Cinta.
Tapi itu sangat sia-sia, Khenzo adalah orang yang sangat setia. jangankan Nayra meski gadis SMU nya ia dapatkan Khenzo tidak akan mau melepas Kiara. Meski ia tidak mencinta.
apalagi kalau Khenzo sudah mencintai Kiara. Jangankan Nayra gadis SMU nya saja tak lagi ada harganya.
Menatap Kepergian Khenzo. Nayra di banjiri Airmata.
memukul-mukulkan kepala bagian belakang ke sandaran kursi, dia merasa dirinya adalah seorang wanita yang tidak waras berani mempermalukan diri di hadapan pria yang jelas-jelas ia tinggalkan beberapa tahun yang Lalu.
Ada apa dengan wanita itu, Apa cinta Jordan padanya sudah luntur?
sehingga dirinya lari dari suami Syah–nya lalu mengejar mantan kekasih yang juga sudah memiliki seorang Gadis.
Menyesal dengan perbuatannya, Nayra mengeluarkan Gawainya, menghubungi pria yang berstatus Suaminya.
“Sayang, Kau dimana.”
Suara lelaki macho terdengar dari sebrang sana.
“Aku akan pulang.” Jawabnya tanpa memberitahu Dimana keberadaannya. langsung mematikan ponsel.
Menatap layar gadget nya. Memperhatikan Visual dari suaminya yang tidak kalah tampan dari Khenzo. Penyesalan tergambar jelas di raut wajahnya.
bukan karena tidak Bisa mencintai Jordan, akan tetapi melupakan Khenzo bukanlah hal yang mudah meski sudah berlalu begitu lama.
Di sebuah kamar hotel. Duduk sambil menyesap secangkir Mocchacino dari cangkir porselen bergambar bunga.
“Kapan kita kembali.”
“Lusa Tuan.”
“Beritahu aku Agenda besok hari.”
“Pagi hari Tuan masih mengadakan pertemuan terakhir kepada klien kita.
Dan tuan ingin pergi menjenguk Falerian bersama Pak Brian di rumah mereka.”
“Meletakkam Cangkir.
“Ada lagi.”
“Hanya itu tuan.”
“jadi, kita bisa pulang besok saja.”
setelah semuanya selesai, jangan ada kata-kata Lusa. sehari saja aku sudah tidak tahan ingin menemuinya.
“Baik Tuan.”
________
Hai Readers 🥰
apa kabar.
Selamat membaca ya.
Jangan lupa like komen nya ya.
Love ❤️❤️❤️❤️ sejagat buat para Readers tersayang ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️