MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Di interogasi



“Jangan bercanda kamu Nak!” Suara Zahrana sedikit ragu mengutarakan kalimatnya.


“Kalian sudah saling Mencintai, tapi belum pernah melakukan nya.”


Kiara hanya menundukkan pandangannya, tidak berani berkata-kata, rasanya sangat malu. pasalnya bukan hanya dirinya bersama ibu dan mertuanya. tetapi para peria yang berstatus Sebagai Ayah tiri dan Mertuanya juga ikut campur Disana.


menatapnya dengan tatapan interogasi.


“Apa yang terjadi? apa suamimu seorang Gay. atau kau yang tidak tertarik padanya.” begitu sorot mata itu berbicara.


“Sayang, ayo jawab. kenapa kalian Sekacau ini.” ujar Zahrana sambil menggenggam erat tangan Kiara, di sisi lain Ririn mengelus-elus Kepala putrinya agar lebih tenang.


“Katakan sayang, mami tidak akan marah. kami semua tidak akan menyalahkanmu.”


Roby, Aditya, dan Ririn mengangguk perlahan.


tanda setuju Tidaka akan menyalahkan Kiara apapun yang terjadi sebenarnya.


Kiara hanya terdiam, Apa yang harus ia katakan coba. di hadapannya ada dua pria sebagai orang tuanya. rasanya sungguh sangat malu bila mereka ikut campur masalah yang seperti ini.


“Mih, Aku mau bicara.”


“Bagus sayang, bicaralah.” ujar Roby.


“Iya Nak, katakan.” Aditya menimpali.


“Tapi, Aku hanya mau bicara jika ayah sama Papi tidak disini.”


Ahhh Malu banget rasanya.


Ehh.


Aditya dan Roby saling berpandangan, sejenak Susana memjadi Kring-kring.


sampai akhirnya ke heningan itu terpecah oleh suara tawa.


“Baiklah, kami para bapak-bapak ini akan keluar saja.” ucap Aditya.


“Haha, Kalian saja yang membahas ini. kami menunggu hasilnya saja.” balas Roby.


Kedua Kepala kelaurga itu keluar dari kamar kiara. lalu duduk di sebuah Sova. sambil menikmati kopi pekat yang di suguhkan pelayan.


“pantas saja selama ini tidak ada tanda-tanda kehadiran Seorang Cucu. ternyata Anak dan menantuku belum pernah begituan.” pungkas Roby.


“Bro, aku harus marah atau kesal kepada putramu, kenapa tidak dewasa menjadi suami bagi putriku.” ungkap Aditya kesal.


“Tenang, intinya mulai dari sekarang, itu tidak akan boleh terjadi lagi. yang lalu biarkan saja berlalu. bukankah semua perbuatan perlu Perasaan.”


“Haha kau benar.”


Di dalam kamar. Ririn dan Zahrana Dibuat sakit kepala oleh cerita Kiara. Bagaimana bisa orang yang saling mencintai hidup satu atap tapi belum pernah melakukan hal yang lumrah bagus suami istri.


“Apa mungkin anak mu bermasalah Rana!” ucap Ririn menerka.


“Apa mungkin, tidak mungkin. Keluarga kami semua normal, sekalipun ia, dari siapa dia mendapatkan ketidak Normalan itu.” jawab Zahrana bingung.


Seketika Kiara membungkam mulutnya dengan tangan. kenapa aku sejujur ini. pikirnya.


Ririn dan Zahrana saling berpandangan penuh arti, sepertinya ada niat terselubung disana.


*******


Khenzo tampak tidak bersemangat, wajahnya Terlihat murung tak berkesudahan.


pria itu menandatangani beberapa dokumen penting yang bertumpuk di atas mejanya. semangat kerja pun sudah tidak ia dapati.


menggeser beberapa tumpukan dokumen itu.


jemarinya sibuk mengukir Nama Kiara di lengannya menggunakan tinta cair di tangannya.


Ceklek.


pintu terbuka.


Sekretaris Nan datang membawa berita suka.


“Tuan.”


“Hem.”


“Mertua anda mengundang Makan malam bersama di rumahnya nanti malam.”


Khenzo mendongak, kabar gembira yang selalu ia tunggu-tunggu sepanjang hari.


air muka Khenzo berubah ceria.


Pria itu bangkit dari kursinya.


“Ayo nan, kita berangkat sekarang.”


“Tapi,” Tuan, selesaikan dulu pekerjaan anda. ini masih jam sembilan pagi. masih bisa beraktivitas panjang.


“Sudah lah lupakan saja.” Sekertaris Nan mengikuti Tuan mudanya yang sudah kegirangan itu.


Mobil melaju dengan cepatnya. menuju rumah.


sesampainya di rumah. Khenzo tergesa-gesa memasuki kamarnya.


Manda sambil memakai wewangian yang semerbak.


berdandan rapi. padahal baru tiga jam yang lalu ia mandi dan mengganti pakaiannya.


berputar-putar didepan kaca besar.


“Bagaiamna penampilan ku Nan.”


“Sangat Perfeck Tuan.”


Ya ampun tuan. Jangan bilang Kita akan pergi sekarang. Undangannya kan nanti malam. aku mohon tuan. anda jangan mempermalukan diri anda di depan mertua anda ya.