
Beberapa pria tampan berjalan, saling beriringan menuju sebuah ruangan di sebuah rumah sakit ternama di kota London.
“Brian Mengalami cedera otak yang parah. sampai sekarang Dia masih koma.” tutur Jordan kepada Keponakannya itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi paman.”
“seminggu yang lalu, Rahel datang ke London, Seperti biasa. dia menginap di rumah kami. aku tidak curiga kepadanya saat itu, Karna memang dia sangat sering berkunjung kemari. tapi di balik itu, Rahel malah menganiaya Brian di rumah itu. aku sendiri sangat kaget.” Ujar Jordan lagi, menceritakan.
Kemudian mereka masuk kedalam ruangan yang di tempati Brian.
kepalanya di perban sangat tebal.
Alat-alat medis menempel di tubuhnya.
Brian sangat menyedihkan.
Khenzo hanya diam, Sahabatnya kesakitan seperti itu. apa yang harus ia lakukan. semua adalah salahnya kenapa Rahel tidak di buang saja ke benua Antartika.
Jordan menepuk Bahu Khenzo,
“Kita masih perlu menemui seseorang?”
“Rahel?” tanya Khenzo.
Jordan Tersenyum, bukan? yang Jordan maksud adalah Lily.
“Apa Jenazahnya sudah di kebumikan.”
Jawab Khenzo.
Jordan mengerut dahi seketika, segitu Pengennya Khenzo melihat Rahel Tiada.
“Apa kau bercanda, Adik mu itu masih Selamat.”
“Tidak Mungkin, bukankah Paman yang mengatakan kalau Rahel di tempak dengan mengenaskan di Rumah itu?”
“Memang, Saat di bawa ke rumah sakit, kondisinya sangat mengenaskan. Dia juga kritis, entah mendapat Ilham dari mana. sekarang Rahel sudah membaik meski keadaannya sangat rapuh.”
Khenzo menatap heran, bagaiman bisa seperti itu. Peluru menembus Dadanya apa masih Ayal Wanita itu bisa hidup.
“Kau Seperti tidak mengerti saja, Wanita itu titisan iblis yang seperti mempunyai ribuan nyawa. Dan menurut kebiasaan, orang jahat hidupnya lama.” ujar Jordan, sambil menepuk bahu Khenzo lalu berjalan meninggalkan pria itu.
“Aku ingin membawamu kepada seseorang.”
Mereka berjalan.
kali ini tanpa Nan, karena Sekertaris itu masih berada di rumah Jordan.
Khenzo memerintahkan agar Sekertaris Nan tidak usah menemuinya lagi. karena ada Tugas yang lebih penting untuk dilakukan sekarang.
.
.
.
.
Sekertaris Nan menghampiri Kiara yang sedang termenung, wajahnya sedikit Pias.
“Nona.” Sekertaris Nan menyodorkan Air putih kepada Nona mudanya.
“Terimakasih Nan.
Kenapa kau disini, bukankah kalian harus Kerumah sakit sekarang?”
“Oh itu Nona, Tuan menyuruh saya menghampiri Nona, Dan mengurus Hotel Untuk anda dan tuan muda.”
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu? bukankah Tuan Khenzo sudah setuju akan tinggal disini beberapa hari.”
“Maaf Nona, ini adalah perintah Tuan muda.”
Baguslah, kalau di pikir-pikir juga. setelah kejadian tadi aku juga akan berpikir seribu kali untuk tinggal disini.
“Nan, Apa Falerian Juga boleh ikut?”
“Iya Nona, Tuan mengatakan Nona yang akan mengurus Falerian sampai Pak Brian kembali sehat.”
“Benarkah.” Kiara begitu Riang.
“Terimakasih Sekertaris Nan.”
Sekertaris Nan tersenyum dangkal.
anda tidak perlu berterimakasih Nona.
Kiara mengemasi barang-barang Falerian seadanya, jika ada kurangnya mereka akan memenuhinya nanti saja.
Mengemas Susu bubuk yang paling di butuhkan Falerian. lalu menggendong bayi itu hendak membawanya pergi.
Melihat Bibi Siti berdiri di ambang pintu membuat Kiara menyapa.
“Bibi, Apa Nyonya Nayra Sudah tidur?”
“Belum Nona, Nyonya hanya termenung di kamarnya.” jawab Bibi Siti sambil menunduk.
Pelayan itu mendekati Kiara.
Kiara Tersenyum.
“Aku sudaha memaafkannya Bi, lagipula aku tidak membencinya.”
Kiara menyandang Rangselnya berisi barang-barang bayi. memeluk Falerian erat.
“Jaga Nyonya Kiara dengan baik Bi.”
“Baik Nona.”
Kiara meninggalkan Ruang tengah itu.
membawa serta Falerian bersamanya, menemui Sekertaris Nan yang sudah nunggu di ruang tamu.
“Anda sudah siap Nona.”
“Sudah.”
“Mari Nona, Kita Berangkat sekarang.”
“Sebentar Nan.” meneyerahkan Falerian ke gendongan pria itu.
“Aku ingin menemui Bibi Nayra sebentar.”
“Baik Nona. anda harus hati-hati.”
Kiara mengangguk, Ia memandang Siti,
“Boleh aku menemuinya.”
“Boleh Nona, Mari saya antar Nona.”
Memasuki Kamar Nayra, Kiara sedikit Ragu. memangnya apa yang akan ia lakukan di dalam. memanas-manasi sampai Nayra terbakar emosi.
bahkan jika dia bicara baik sekalipun Nayra pasti menganggap itu adalah Sebuah olokan.
dengan langkah mantapnya. Kiara membuka pintu.
Di ranjang, Nayra sedang menatap kosong kearah jendela.
“Bi.... em Nyonya Nayra. Aku Minta maaf jika perkataan ku menyinggung perasaan Anda.”
Suara Kiara terdengar ramah. memohon permaafan meski itu bukan sepenuhnya kesalahannya.
Nayra hanya diam, masih setia menatap jendela kaca. pemandangan kota London sangat Jelas dari sana.
“Kami Akan pergi, Aku tidak ingin memberi kesan yang tidak baik Di hadapan Nyonya. Aku ingin meminta Maaf bila ada perkataan yang menyinggung perasaan anda.”
Nayra masih tidak bergeming.
“Terimakasih sudah merawat Falerian dengan baik.”
Kiara menatap wanita itu. sepertinya kehadirannya di kamar ini memang tidak di harapkan.
“Kami pamit, terimakasih Nyonya.”
Kiara berbalik, ingin melangkah luar.
tiba-tiba.
“Berhentin.” suara Nayra Terdengar sangar.
Kiara berbalik, menatap Nayra yang juga menatapnya.
“Khenzo pasti mencintaimu kan.
Dia pasti sudah melupakan aku, Kamu sangat beruntung Kiara. kamu sangat beruntung.” Ujarnya dengan suara yang bergetar.
“Kiara mendekat, Anda juga beruntung. paman Jordan mencintai anda dengan sepenuh hati.”
memegang tangan Nayra.
“Paman Jordan memberikan segalanya kepada Anda.
Dan tentang Tuan Khenzo Dia tidak mencintai saya.
kami tidak melakukan apa-apa.
Yang aku katakan tadi hanyalah sebuah bulan.
memang, aku sudah mencintai Tuan Khenzo, tapi tidak dengan dia.
Anda benar, Tuan Khenzo memiliki Wanita. saat dia kemari beberapa waktu lalu, dia seperti sedang mencari Wanitanya.”
Nayra Tersenyum, bukan. Bukan karena lega sudah mengetahui yang sebenarnya. tapi setelah paham dengan Cerita Lily beberapa hari yang lalu.
Khenzo jatuh cinta kepada Kiara. hanya saja mereka tidak saling mengakui.
mereka benar-benar sudah saling mencintai.
“Suatu hati kamu akan mengerti.”
dan maaf sudah membuatmu membenci.
aku tidak bermaksud ingin merebut Khenzo kembali. tapi perasaan iri selalu menyelimuti hati saat melihat Dia memandang mu dengan pandangan itu. pandangan yang dulu hanya ada untukku.