MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Milikku akan tetap milikku



Menuju Inggris, kota London.


Khenzo menyapu wajah dingin Kiara yang di terpa sejuknya AC Jet pribadinya.


menciumi wajah itu sampai bertubi-tubi.


kaki yang di perban itu berselonjor di atas kursi jet yang di tata panjang.


Dia sangat lucu.


Batinnya sambil mencubit hidung istri yang sedang tertidur pulas di pelukannya itu.


entah mengapa, sepanjang perjalanan mereka, Kiara sangat nyaman tidur di dalam pulang Khenzo.


“Tuan, apa anda lelah. biarkan saya membantu anda melepaskan Nona.” arti dari gerak-gerik Nan yang mendatangi Khenzo dan Istrinya.


Khenzo mengangkat tangannya, seperti mengatakan tidak usah.


“Baik Tuan, kalau anda butuh sesuatu tolong panggil saya.” Ujar Nan pelan.


Khenzo mengangguk, Secepat itu pula Sekertaris Nan beralih dari dekat kedua atasannya itu. ia berjalan pelan menuju Kursinya yang berada di samping Dokter petter.


“Jangan ganggu Tuan, biarkan saja orang lemah itu menikmati Kebersamaan bersama Nona Kiara” ujar Petter memberi saran yang malah di balas tatapan mengerikan dari Sekertaris Nan.


Jangan mengatai Tuan begitu.


seperti itu sorot matanya.


Beberapa jam berlalu.


Mereka sampai di kediaman sang paman, yaitu Jordan.


Khenzo merasa malas sebenarnya bila harus datang kemari.


Tapi Apa boleh buat, Istrinya ingin menemui Falerian yang sekarang berada di rumah ini.


dengan kaki malasnya Khenzo menyeret langkah berat untuk masuk.


Seorang Wanita paruh baya membukakan pintu, dengan senyum sambil membungkuk santun, ia mempersilahkan Khenzo dan Kiara masuk.


“Tuan, Nona. silahkan masuk.”


“Terimakasih Bi.” jawab Kiara Ramah.


Kiara melangkah, tapi tangannya di cegat oleh Khenzo, sampai langkah itu terhenti.


“Tunggu.”


“Ada apa tuan.”


Melingkarkan tangan Kiara di gandengannya.


“Gandeng tanganku. kau harus terlihat bahagia memiliki suami sepertiku.”


“Baik,” Kiara dengan semangat menggandeng tangan Khenzo, Karna memang itu adalah impiannya.


Menyusuri rumah besar itu, rumah yang di beli oleh Jordan meski Cicilannya belum lunas.


Dari Ruang tamu, Suara Bayi menangis sudah sangat jelas.


“Tuan.” Kiara menggenggam erat lengan Khenzo. “Tangisan ini, Dulu.... aku pernah mendengarnya setiap hari.” menatap Khenzo dengan Perasaan tak terjelaskan, haru dan sedih.


“Pergilah, temui Anakmu.” ujar Khenzo mengarahkan pandangannya ke ruang tengah, tempat yang di duga adalah ruangan Falerian.


Kiara berlari menemui putra mereka.


sedangkan Khenzo Duduk Di temani Nan, petter, dan Bibi Siti. asisten rumah tangga di rumah itu.


Kiara menghampiri Falerian yang sedari tadi hanya menangis saja. melihat sekeliling hanya ada pelayan muda yang tidak bisa mendiamkannya.


“Nyonya Nayra Dimana?” tanya Kiara, karena tidak menemukan Nayra Disana.


“Nyonya Di kamar, sedang Siap-siap Nona.” jawab pelayan muda itu.


“Oh.”


Kiara meraih Falerian dari box bayi, memeluk putra angkat yang sangat ia rindukan.


“Sayang, apa kabarmu. Ibu sangat merindukanmu.”


Falerian tertawa gemas, menampilkan Gusi ompong yang mulai ada tanda kedatangan Gigi grigi itu.


Cilukkk Baaaa.


.


Klotak


klotak


klotak.


Suara sepatu bergetak menuruni anak tangga.


Nayra memasang senyum percaya diri yang indah.


“Khenzo.”


Menoleh, semua pasang mata melihat kecantikan Kiara, berjalan dengan anggun menuju Sova di depan Khenzo.


duduk sambil melipat kakinya menampakkan betis mulus dan terkesan sexy itu.


Khenzo membalas senyum itu sekenanya,


Dengan muka datarnya ia bertanya.


“Paman dimana?”


Nayra tersenyum hambar, Kenapa hanya Jordan yang di tanya. begitu pikir wanita cantik itu.


“Dia di rumah sakit.”


“Eumm.”


Khenzo menarik tegap pandangannya, memikirkan Kiara, apa yang sedang ia lakukan di sana sekarang, membayangkan Istrinya sibuk menciumi bayi Falerian, membuatnya panas dan sedikit cemburu.


Khenzo menjentikkan jarinya, memberi isyarat kepada Nan.


“Tuan.” Nan mendekat, lalu membisikkan Sesuatau ketelinganya Khenzo, akan tetapi semua orang dapat mendengarnya.


“Tuan Jordan, sudah menunggu kedatangan tuan di rumah sakit.”


“Baik, kita kesana sekarang.”


Khenzo berdiri, Acuh tak acuh kepada wanita sang pemilik rumah ini. Khenzo melirik ke ruang tengah, dengan wajah sedikit kesal.


Kenapa dia tidak keluar-keluar juga dari dalam sana. aku kan ingin melihatnya sebelum pergi Kerumah sakit.


Gerutu Khenzo di dalam Hatinya.


Mereka pergi menuju rumah sakit, dimana Brian dirawat sekarang.


Di ruang tamu, Nayra benar-benar merasa di acuhkan. wanita itu tidak habis pikir. kenapa dunianya semembosankan ini.


Tuhan, apa salahku. aku hanya ingin di perhatikan. apa aku salah.


Nayra meremas gaun mahal yang dikenakannya.


Memandang Siti yang bersedia menemaninya.


“Dia ada dimana?”


“Di ruang tengah, Nona itu sedang asik bermain dengan Bayinya.


Dengan langkah cepat, Nayra menghampiri Kiara Disana.


“Hai.”


Kiara yang sedang menggendong Falerian menoleh kearah Nayra.


Sambil memasang senyum tulus. ia membalas.


“Hai Bibi. Anda apa kabar?”


Bibi? Bisakah kau memanggilku Dengan Nama saja. kita hanya berbeda usia beberapa tahun saja. aku tidak suka di panggil seperti aku sudah setua itu.


Kesal Nayra di dalam hatinya.


Kiara mana Tahu. Ia hanya tahu pasal sopan santun. Karena Nayra adalah Istri dari paman Suaminya, Gadis itu memanggil Nayra dengan sebutan bibi sesuai dengan anjuran suaminya, Kiara tidak tahu masalh ketidaksukaan Nayra pasal panggilan itu.


Di ruang santai, Kedua perempuan itu duduk berhadapan. Kiara sedikit lebih tenang karena Falerian baru saja selesai ia tidurkan.


Sekarang gadis itu hanya Fokus kearah wanita di hadapannya, mengagumi tanpa kata.


Wah Istri paman Jordan Cantik sekali.


Batinnya.


Nayra menyeruput Matcha latte kesukaannya, sambil memandang Istrinya dari mantan kekasih sekaligus keponakannya sekarang.


“Anda sangat beruntung Nona Kiara.” ujar Nayra terkesan iri kepada Gadis itu.


Apa yang ia bicarakan, dan kenapa aku merasa aura Bibi Nayra sangat tidak suka kepadaku ya.


“Maksud Anda apa Bi, Saya tidak mengerti.”


Balasnya yang sedikit polos itu.


“Hehe.” tersenyum kecil, Nayra meletakkan gelasnya.


“Anda memiliki segalanya. orang-orang yang mencintai Anda, bahkan suami yang sangat mengagung-agungkan Anda.”


Hah? Apa sih yang di bicarakan Wanita ini.


apa dia Cemburu? bukankah Paman Jordan sangat mencintai Wanita ini. kenapa aku merasa dia sengaja memperofokasi ku.


apa sebenarnya maksud Nayra.


Kiara mulai berperasangka buruk.


Tidak, Manamungkin Dia seperti itu, Aku mengenalnya, Dia wanita yang baik.


Kiara Tersenyum.


“Anda juga memiliki Orang-orang yang menyayangi anda. Paman Jordan juga sangat mencintai anda.”


Cuihhh, Sok tahu kamu. Dia hanya sibuk dengan dunianya, dia hanya sibuk dengan pekerjaan.


Nayra Tersenyum palsu.


Begitulah ia menyikapi Kiara yang benar-benar tulus itu.


“Kau mencintai Khenzo?” tanya Nayra tanpa ragu.


Tentu saja, aku sangat mencintai tuan Khenzo.


“Ah, Bibi Kenapa bertanya seperti itu. tentu saja aku.”


“Tapi aku dengar Khenzo tidak mencintaimu.”


Kiara terdiam sejenak.


“Kalian hanya di jodohkan, Khenzo hanya mencintai satu wanita. yaitu mantan kekasihnya.”


Kiara hanya tersenyum, meski hatinya kesal ia tidak boleh melawan orang tua. lagipula Nayra adalah istri paman Suaminya.


Tidak apa-apa Tuan Khenzo tidak mencintaiku. tapi aku tidak percaya dia masih mencintai wanita yang meninggalkannya.


Batinnya Kiara.


Nan Terlihat memasuki Rumah, Dia terpaksa kembali karena ada barang yang tidak sengaja di tinggalkan tuan mudanya.


Mendengar keributan dari taman belakang membuatnya penasaran. apalagi ia sudah sangat curiga dengan kelakuan Nayra.


Nayra mendengus kasar, senyum palsu yang sedari tadi ia timbulkan kini mulai berubah menjadi Seringai makian.


“Khenzo tidak akan pernah mencintaimu. jadi cobalah untuk bercerai dengannya. Karen Khenzo hanya mencintai satu wanita.”


Kiara tersenyum.


“Bibi, Anda kenapa?” tanya-nya heran.


Nayra yang dari tadi selalu mendengar gelar bibi mulai pusing, kepalanya penuh dengan suara-suara yang ia benci.


“Sudah cukup! aku bukan bibimu. berhenti memanggilku seperti itu.”


“Nyonya, Biarkan saya mengantar Anda ke kamar.” Tawar Kiara, mencoba menopang tubuh Nayra yang mulai lunglai.


“lepaskan, kau wanita ******, merebut Pacarku tanpa perasaan.” Nayra mendorong tubuh Kiara, membuat gadis itu terdorong beberapa langkah kebelakang.


Nan yang sedang menguping sambil merekam diam-diam tidak sabar ingin membantu Nona mudanya.


Sudah cukup, aku tidak akan sabar lagi.


“Bibi!” ujarnya lantang membuat Nayra memandang seram.


“Memangnya kenapa kalau aku memanggilmu Bibi. kau memang Bibi ku. istri dari paman suami ku. aku hanya mencoba santun kepada anda. tapi sepertinya anda tidak menghargai saya.


Apa masalah Anda.


Anda masih mencintai suami saya?


saya tidak akan membiarkan itu bertahan lama.


saya dan Tuan Khenzo sangat mencintai. anda tidak pernah membayangkan kan kalau saya dan tuan Khenzo sudah sejauh ini. dan sebentar lagi kami akan memiliki Buah hati. jadi tolong, Setialah pada suami anda. karena tuan Khenzo juga tidak akan menerima anda kembali.”


Nayra terbakar emosi.


Sedangkan Nan Tersenyum sendiri melihat tingkah Nona mudanya.


“Kau, beraninya menyentuh priaku, apa yang sudah kalian lakukan.” Nayra mulai terbakar api cemburu.


“Anda salah, tuan Khenzo bukan pria anda. tapi suami saya. tentu saja kami sudah melakukan semuanya.”


Nayra memegangi kepalanya, seorang pelayan datang menghampiri, menuntun wanita itu menaiki tangga menuju kamarnya berada.


pelayan itu memberikan obat yang berada di nakas.


Nayra meraung kesakitan menahan Emosinya.