
Meski waktu tidak mau kompromi, Bahkan terasa lebih cepat berlalu. Aku tidak masalah. Tapi perasaan ini. Ini adalah getaran Cinta.
Membuka mata, Kiara menatap Suaminya dengan binar Rona di pipinya. menunduk perlahan, Bukan tidak betah memandang, hanya saja rasanya sangat malu dan tidak tertahankan.
Khenzo Menatap,
Bergetar, bahkan orang yang biasa kalem dan Cuek itu bisa bercucuran keringat dingin.
Apa yang aku lakukan.
Batinnya, tangannya bergetar, melepas pelukan dari tubuh Kiara.
Tanpa Sengaja dan Tidak Di rencana tangan yang bergetar itu Menyenggol Handuk Di tubuh kiara, membuat handuk yang terselip di tubuh Kiara melorot tanpa Aba-aba.
memperlihatkan bagian-bagian yang di penuhi dengan lemak itu.
Dengan sigap Khenzo meraih handuk yang melorot, memakaikan lagi ke tubuh sang istri.
Diam, Kaku, Kiara tidak bisa bergerak sama sekali. Hanya saja bibirnya bergetar merasakan guncangan di dalam dada yang mendominasi Rasa malu.
Brakkkkkk.
keluar dari kamar mandi meninggalkan Khenzo, kiara seperti Orang yang melarikan diri dari penjahat saja.
********
Pagi di kota Yang indah, Sekertaris Nan melaju kencang kendaraannya.
membawa sang Tuan kesebuah tempat.
“Kita sampai tuan.” Sekertaris Nan keluar dari mobil membukakan pintu untuk Tuan muda itu.
Masuk kedalam rumah, kedua mertua sudah menyambut kehadiran nya.
Duduk begitu sopan, Khenzo membuka kaca mata yang ia kenakan akhir-akhir ini.
“Ayah, dan ibu mertua, Sepertinya aku harus meninggalkan lagi Putri kalian yang bulat itu. Masalah pekerjaan yang tidak bisa di sambung tangankan.
aku tidak punya pilihan lain, Lagipula aku sudah mengajak Putri kalian untuk ikut serta, Tapi kalau tahu sendiri untuk berjalan ke kamar mandi saja dia sangat kesulitan, jadi dia menolak untuk ikut.
Tapi ayah, Bu. aku akan membawanya liburan setelah pekerjaanku selesai.” ujar Khenzo.
“Kau benar Khenzo, membawa Kiara akan merepotkan, selagi dia tidak mengotot untuk ikut kau lebih leluasa menjalankan aktivitas mu di sana.” jawab Aditya.
“Benar Nak, Kiara tidak usah ikut, Ibu akan menjaganya.” ujar Ririn dia sangat mendukung agar Kiara tidak ikut, karena tujuan Khenzo sekarang adalah Kota London.
“Baiklah, Aku harap Ibu bisa menjaganya dengan baik, dia bukan seperti putri ibu yang dulu, Dari fisik sampai hati semuanya telah berubah. Aku menitipkan istrku kepada kalian.” ujar Khenzo.
Setelah melakukan percakapan singkat, Khenzo dan Sekertaris Nan undur diri. sore ini mereka akan segera lepas landas menuju Inggris.
Menuju rumah, pria dengan perawakan yang hampir sempurna itu menatap kejendela, Gerimis tak diundang datang membasahi permukaan kota, jalan aspal terlihat menghitam karena guyuran hujan yang baru saja mereda.
Tidak ada yang berputar di otaknya kecuali Seorang gadis gendut bernama Kiara.
Khenzo menyentuh Bibirnya, bibir yang kemarin baru mencicipi indahnya ciuman pertama.
mengingat-ingat lagi bagaiman rasa itu di bibirnya, bibir mungil yang sedikit berisi milik istrinya Tak lagi dapat di temui rasa.
ingin sekali mengulang Rasa itu sebelum kepergiannya.
“Kenapa lama sekali Menyetirnya!” Bentak Khenzo kepada sang Sekertaris Nan.
“Maaf Tuan.” Nan mempercepat laju kendaraannya dengan sangat ugal-ugalan.
“Hei Sinting! kau Bosan hidup atau bagaimana, Ini jalanan yang ramai! bagaiman kalau kau menabrak pembatas jalan atau apa. aku masih ingin menemui kiara Ku, Kau tidak tahu itu ya.” Bentak Khenzo lagi, memarahi Sekertaris kesayangannya.
Ya Allah, Saya harus bagaiman tuan. Mengemudi Dengan kecepatan sedang salah, di percepat sedikit juga salah.
“Maafkan saya tuan.” ujar pria bernama asli Nandar Hamidi itu.
Di percepat sedikit apanya, Jelas-jelas Sekertaris itu melajukan Mobil seperti orang yang kesurupan saja, sangat ugal-ugalan.
Khenzo membuang pandangannya, malas beradu argument dengan Sekertaris nya.
Dipikirannya sekarang hanya ada Istrinya.
pria itu memandang setiap pohon-pohon di tepi jalan yang mereka lintasi dengan cepatnya.
Memasukkan tangan ke dalam saku jasnya.
Berpikir tentang sesuatu yang akan membuatnya bosan.
Menjauh dari istri itu untuk beberapa Minggu lagi.
menghembus napas dalam, Khenzo memejamkan netra segelap jelaka itu.
Mengucap Nama Kiara di dalam benaknya.
Mungkinkah Khenzo mencinta, Atau ini hanya sebatas rasa peduli karena sang empu adalah Istrinya.
Perbedaan Mencintai dengan peduli sangat tipis. Dia sendiri tidak yakin. Jelas-jelas Kiara bukanlah tipenya.
yang ia tahu, ia hanya mencintai satu gadis, Meski tidak jelas asal-usulnya dan keberadaannya sekarang.
Gadis SMU yang tidak akan pernah hilang dari ingatannya.