
Perintah sang raja, Siapapun tidak boleh membantah titahnya.
Begitupun dengan Khenzo yang perintahnya adalah sebuah titah.
Di sebuah Ruangan Presdir. Sekertaris Nan masuk menemui Khenzo.
“Tuan.”
“Kita pulang lebih awal, Aku ingin makan Malam di rumah saja.”
“Baiklah Tuan.”
Memasuki Mobil Waktu masih Sekitar magrib.
Khenzo memutuskan pulang, tidak seperti biasanya sang Tuan muda pulang lebih larut. kali ini seperti ada yang hendak ia pastikan.
Sekertaris Nan memgemudi Dengan Baiknya, Tangannya Berkutat dengan Stir.
Membawa sang tuan muda pulang kerumah besar yang mulai hangat itu.
Beberapa menit berlalu mobil mereka Sampai di rumah.
Sekertaris Nan keluar dari mobil Untuk membukakan pintu untuk Khenzo.
Di depan Pintu, Kepala pelayan Min sudah menyambut kedatangan mereka, membungkuk hormat sambil bersalam santun.
“Selamat Malam tuan!.”
Khenzo Mengangguk membalas salam itu kemudian berjalan ke dalam rumah.
Kaki panjang itu berjalan menyusuri Anak tangga membuka kamar Kiara yang kosong tanpa Seonggok daging bernyawa di sana.
sambil di ikuti Sekertaris Nan dan pak Min dari belakang.
“Tuan, Nona sedang menidurkan Falerian di kamar bawah.” Seperti paham apa yang di cari tuan mudanya. Pak min berseru Terang.
Tanpa basa-basi, Pria dengan Iris hitam yang menawan itu menuruni tangga, menuju kamar Bayi yang sudah di anggap seperti putra sendiri itu.
Membuka pintu, Perlahan.
kaki panjang Khenzo mendekati Kiara yang sedang Tiduran miring di atas Ranjang.
kalau sebelumnya tidak ada ranjang, sekarang Sudah tersedia ranjang dengan kasur empuk.
Damai, perasaan yang tak selalu singgah di hati pria tampan itu.
melihat Kiara yang begitu Tulus menyayangi Bayi yang bukan anaknya. membuat Khenzo betah berlama-lama memandangi Fenomena indah di hadapannya.
Menjadikan tangan kanan sebagai penyanggah kepalanya. Kiara tertidur miring dengan Falerian yang telentang di sampingnya.
Hoaamm,
Kiara membuka mata, menatap Falerian yang masih tidur dengan antengnya.
Popok yang sudah membesar itu Tidak menjadi penghalang tidur pulas bayi menggemaskan itu.
“Anak endut Ibu kok tidur terus sih.. Kapan mainnya, Ibu ingin melihat tawamu yang menggemaskan itu Falerian.” Kiara bergumam, di barengi senyum yang indah.
Mendengarkan itu, seseorang yang berdiri di di sana menarik bibir tipis Itu sempurna.
Melengkung dengan indah Dan sangat menawan.
Khenzo ikut berbaring dengan Kiara dan Falerian.
menatap wanitanya lekat tanpa kedipan.
“Kapan anda pulang.” Kiara kaget tiba-tiba melihat Khenzo datang ke kamar putra mereka.
“Baru saja!.”
“Ah.. Apa sudah lapar? Sebentar aku ganti popok untuk Falerian Dulu. takut kulitnya akan iritasi nanti!.” ujar Kiara.
“Lakukanlah, Aku belum ingin makan.”
“Baik.”
Dengan cekatan Kiara membersihkan Popok bekas Falerian. menggantinya dengan yang baru.
Setiap gerak-gerik Kiara tidak lepas dari amatan Khenzo. baginya itu seperti menyaksikan sebuah keseruan.
“Sudah selesai!.” ujar Kiara.
“Secepat itu.” jawab Khenzo.
“Iya . Apa anda mau makan sekarang? sebenarnya dari sore aku belum mandi. kalau di ijinkan boleh kah aku mandi terlebih dahulu.” Kiara meminta Ijin.
Kasihan, Gara-gara mengurus Falerian dia jadi lupa mengurus dirinya sendiri.
“emm. pergi dan mandilah. Kita makan Habis isya saja.!”
Netra segelap jelaka itu Berlinang, memancarkan cahaya Surya yang benderang kala melihat Sosok Kiara yang keibuan di layar Gawainya.
Dia benar-benar Cantik, Tapi aku tidak akan jatuh cinta pada dia kan. Aku memiliki pujaan hati sendiri!
gadis SMU ku.
Kemana Dia yang sekarang ya.
meski tidak secantik Kiara. tapi wajah itu dapat mengalihkan Duniaku.
Khenzo membatin Sekilas senyum samar-samar muncul dari bibir merah jambunya.
“Poligami enak kali ya!
Kiara istri untuk Menjaga Falerian, Sedangkan gadis SMU yang tidak ku ketahui keberadaannya itu yang akan mendampingi layaknya istri Sesungguhnya. Ck dimana keberadaannya.”
Memandangi lagi Foto itu Dengan seksama. melihat sekilas wajah tidur kiara yang tampak menawan itu Khenzo seperti pernah melihat.
Pria itu keluar dari kamar Falerian. meninggalkan Bayinya dengan seorang baby sitter sebagai penjaganya.
Melihat Sekertaris Nan yang masih berbincang dengan kepalanya pelayan Min. membuat Khenzo jadi bersuara.
“Pulang Kau Nan! Kenapa kau sangat senang bergosip dengan orang-orang Rumah ku.” Ujar Khenzo menghampiri dua pria yang sudah seperti keluarga untuknya.
“Haha. Tuan muda! tapi Kepala pelayan Min mengundangku makan malam.” Ujar Sekertaris Nan sambil tersenyum penuh makna.
Khenzo menatap tajam Pak Min. sorot matanya seperti mengatakan.
"kenapa kau mengundangnya makan malam, Dia itu makannya Banyak, Bisa habis sepuluh piring Porsi gede. Bagaiman kalau makanan kita habis nantinya. kita masih mempunyai kucing peliharaan yang suka makan. Nona muda kalian itu Porsi makannya bukan main-main.
Kalau begini terus kita bisa bangkrut."
Begitu kira-kira makna dari sorot mata tajam Khenzo yang melotot ingin keluar dari sarangnya.
Pak min hanya bisa menunduk tanpa bersuara. Dia sama sekali tidak mengundang Sekertaris Banyak mau itu makan.
“Bagaiman menurutmu Tuan.” ujar Sekertaris Tampan itu meminta saran.
“Emm.” Berpikir sejenak.
“Pak min. Sekertaris Nan Tidak suka makanan Rumah. kenapa kau mengundangnya Makan. Dia lebih suka makanan cepat saji seperti McD.” Khenzo memberi alasan. dia tidak akan bisa membiarkan Sekertaris Nan ikut makan malam. Takut mengacau Situasi yang ada.
Tuan muda. jelas-jelas kita sering makan makanan rumah di Apartemen milikku. bahkan aku sempat memasak untukmu dan kau menyukainya. kenapa kau sangat pelit sekali padaku.
Batin Sekertaris Nan.
“Pulanglah Nan, Aku akan memberimu Bonus hari ini.” Ujar Khenzo.
Seketika, Iris Hitam keabuan milik Sekertaris Nan berbinar. pria itu memang selalu berbinar kalau berbicara tentang uang.
Apalagi Uang cuma-cuma yang di berikan Tuan muda bukanlah upah yang semena-mena.
“Baiklah, aku akan segera mencek-nya setelah sampai di Apartemen. Tuan muda kau memang yang terbaik.” Ujar Sekertaris Nan. Pria bernama asli Nandar itu memang juara kalau soal memuji.
“Pergi sekarang atau Akau berubah pikiran!.” Khenzo bersuara lagi.
“Baiklah, terimakasih tuan muda. Selamat malam.”
sekertaris Nan membungkuk sopan.
Khenzo menaiki tangga meninggalkan kedua pria itu.
“Sekertaris Nan tunggu Sebentar!.”
Cegat Pak Min kepada Sekertaris Nan yang hendak berlalu.
“Kenapa lagi Pak Min.” Sekertaris Nan berhenti.
Pak min berjalan ke dapur, beberapa saat kemudian menghampiri Sekertaris Nan dengan kotak makan bertingkat di tangannya.
“Bawalah ini Sekertaris Nan. Makan di Apartemen. Rasanya akan jauh lebih nikmat tidak ada orang yang berebut makanan denganmu.”
Netra Abu hitam berkaca-kaca, Sekertaris Nan menerima kotak makanan itu dengan sukacita.
“Terimakasih pak Min, Kau memang Baik padaku. aku seperti melihat sosok Ayahku pada dirimu.”
Begitulah, Bibir manis itu mulai berkata-kata.
“Bahkan aku sangat senang jika aku menjadi menantu mu suatu saat.”
Kau mengatakan itu karena kau tahu aku tidak memiliki putri, coba kalau aku memilikinya pasti walau untuk sekedar berbicara kau pasti tidak akan mau.
“ Tapi aku tidak memiliki Putri Sekertaris Nan.”
“Benar juga pak Min, walau begitu aku sudah menganggapmu seperti Orangtua yang baik.”
Sekertaris Nan pamit undur diri.
Bersambung.....