
Marah, Wajah Ruoawan Sekertaris Nan mulai Memerah.
Setelah menjamah tangan Kepala prajurit di hadapannya.
Tangan Dengan jari-jari panjang itu sudah berair kala sudah kenyang menghantam Badan kekar pengawal tuan mudanya.
Khenzo hanya diam, Melipat tangannya menyaksikan kemarahan Sekertaris Nan.
Sikap dan perilaku yang berubah-ubah seperti empat musim itu sedang merasa Murka.
Mengangkat tubuh pria dengan seragam serba hitam itu. melemparnya ke Arah kedua pengawal lainnya.
“Cari dan bawa Falerian kembali.” Sekertaris Nan mengepalkan tangannya sorot mata merah itu sangat mengintimidasi.
“Baik Tuan.”
Ketiga orang itu mundur perlahan. melarikan diri dari Sekertaris garang itu dengan terbirit-birit.
“Kau menakuti mereka!.” Suara Khenzo terdengar Santai.
„Bagaiaman Tidak tuan. Falerian di bawa kabur oleh Brian gara-gara kalalaian mereka.” Adu Sekertaris Nan.
“Falerian tidak akan kenapa-napa Di tangan ayah kandungnya.”
Khenzo membuka permen asam manis dan mengulumnya.
“Tapi.. Aa Baiklah tuan.”
___________
"Kepergian mu membuatku mengerti, Bahwa kerinduan yang paling menyiksa ialah kepada orang yang sudah tiada.
Sita.... Aku benar-benar tidak sanggup melupakanmu."
Wajah Manis itu memandangi Seorang Bayi berusia Tiga bulan yang sedang tidur dengan nyenyaknya di atas kasur.
Bahkan kau tidak mengatakan kalau kau sedang mengandungnya.
Kalau tahu seperti ini, aku pasti akan memperjuangkan kalian apapun yang terjadi.
Netra berwarna perladuan lembah itu berkaca-kaca.
menciumi Putranya yang terlihat gembul dan menggemaskan.
“Aku akan menjaga Putra kita Sita! Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.”
Memeluk Falerian sambil berderai Air mata.
Brukkkk.
Suara bantingan pintu terdengar jelas.
Bersamaan dengan Rahrl yang masuk dengan perawakan sangar dan kejam.
“Sayang,,,,!.” merangkul Brian, Wajah Judes tadi hilang seketika ketika berada di dekat kekasihnya.
Brian memasang wajah tidak suka, menatap wanita yang menjadi perusak rumah tangganya dengan Sita.
Pria bersurai pirang itu mengangkat Putranya, meletakkannya dalam timangannya.
“Menyingkirlah, aku akan membawa Putraku pergi.”
“Tidak. aku tidak membiarkanmu.”
Rahel memeluk kaki Brian yang mencoba melangkah meninggalkannya.
“Sita sudah mati, dan seharusnya kau lebih baik membuang Anak Sial itu ke panti asuhan. Dia hanya akan menjadi beban dalam kehidupan Kita.”
Marah, Wajah ganteng itu berubah sangat merah, seperti ingin mencabik-cabik Mulut seseorang yang memegangi kakinya.
Mengangkat Lengan Rahel dengan Tangan kirinya, sedangkan tangan kanan itu masih setia menggendong Falerian.
Plakkk Plakkk
Plakkk
Beberapa tamparan menganak di kedua pipi Rahel.
“Coba katakan sekali lagi, Akan ku pastikan wajahmu akan cacat setelah ini.”
Brian berlalu meninggalakan Apartemennya menuju Rumah.
entahlah,,, Dia harus kemana. Tidak ada lagi yang bisa ia kunjungi.
Rumah Kakak tiri dan kakak iparnya, Rayhan dan Chila? Meski mereka sangat baik. Brian Tidak akan pernah berniat melangkahkan kakinya ke rumah itu. itu sama saja menyerahkan Falerian kembali kepada Khenzo.
Rumah orangtuanya? Sudah sangat lama ia pergi dari sana. Dan tidak berniat kembali.
Dia hanya memiliki Apartemen itu dan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota yang sudah tidak di huni.
Rumah Yang pernah di tinggalinya dan sang Istri. Brian Berencana ingin pergi ke sana.
Di dalam Apartemen, Wanita dengan rambut Lurus Di bawah bahu itu mengepalkan tangannya, Menggigit bibir bawahnya geram.
Kalau tahu akan semerepotkan ini, Aku pasti sudah membinasakannya Dari dulu.
tapi balik lagi, Demi Brian bersamaku, Aku harus membiarkan Sita tetap hidup. Ternyata Dia hamil anak Pria yang ku cintai.
Aku sangat kesal dan ingin membunuhnya sekali lagi.
Lihat saja Brian, Aku tidak akan membiarkanmu lari. dan anak sialan itu harus lenyap seperti Ibunya.
Rahel menggertakkan gigi-giginya sampai menimbulkan suara.
Tidak mau tinggal diam. wanita dengan iris ungu menyala itu meninggalkan Apartemen menuju Mobilnya.
mengejar Prianya meski sampai di ujung dunia
.
.
.
Tidak berdaya, setelah mendengar kabar melalui kepala pelayan Min tentang keadaan Falerian, Kiara tidak bisa tidur nyenyak, Makan tidak pernah habis, Mandi pun tidak basah.
Di Dalam kamar Megah itu, Belum mandi atau mengganti pakaiannya.
Duduk bersimpuh di atas kasur
Kiara meratapi bayi mungil yang ada di layar Gawainya.
Di ambang pintu, menatap penuh iba.
Khenzo menghampiri istrinya gak tidak pernah ia anggap itu. melihat keadaan istri yang sangat memperihatinkan itu membuat jiwa kelakiannya menggema.
“Jangan bersedih lagi, Falerian pasti akan baik-baik saja.” Khenzo menenangkan Istri mungilnya.
Netra seindah Senja itu menatap—Sambil berlinangan air mata, Kiara menangkap kedua pipi Khenzo yang ada di hadapannya
Mendongakkan wajah tampan suaminya sampai memandanginya lekat.
“Kau sedang menyuruhku Tenang? He Bagaimana bisa aku tenang, Falerian sedang di culik oleh seseorang apa kau pikir aku bisa tenang.
dia masih kecil.
Coba kamu bayangkan Sesuatu terjadi pada putra kita.
Memikirkan saja aku sungguh tidak sanggup.”
Kiara meneduhkan pandangannya, melepaskan tangannya yang ia gunakan menyentuh kedua pipi Khenzo.
Tetes-tetes Air mata membasahi Dress indahnya.
“Kiara! Jangan menangis.” Khenzo memegang pipi Itu seperti yang di lakukan Kiara tadi padanya. Menyeka air mata dengan jempolnya.
“Kau brengsek! Kau ayah kandungnya, Kau tetap tenang saja sedangkan putramu di bawa lari oleh Seseorang. apa kau tahu orang itu siapa?.
Kenapa kau diam saja, Hah?.”
Kiara memukuli Dada bidang Khenzo.
Hanya diam, tidak melawan dan juga tidak menolak, Dada bidangnya di pukuli sang istri dengan tenaga yang tersisa.
Kenapa pukulannya sangat keras, Padahal kata Pak Min dia belum makan seharian.
Batin Khenzo, menahan sakitnya pukulan.
“Kiara, Putra kita pasti akan ketemu, Sabarlah. kau akan melihatnya besok.”
“Benarkah...” Wajah Manis itu menatap Khenzo Penuh harap, Mata cantik dengan iris coklat ke jinggaan itu mulai bercahaya.
“Ya,,, Itu benar.”
“Kau berjanji...”
“Ya.”
“Kau harus menepati janjimu Tuan Khenzo.”
Memeluk, respon secepat kilat itu Membuat Khenzo ambigu. Kiara saja tidak menyadari atas perbuatan lancangnya memeluk pria yang kesunyian itu.
“Sama-sama. Tidurlah, Kau akan melihatnya besok.”
perintah Khenzo, Membantu Kiara berbaring di ranjang dan menyelimuti sampai dada.
“Jangan Pergi.” Kiara menarik Tangan Khenzo yang akan segera meninggalkannya.
"Hah!?."
“Jangan pergi, Aku tidak bisa sendiri.”
Kiara bangkit, Memeluk lagi tubuh kekar suaminya.
Kiara apa yang kau lakukan, Sadarlah ini membuatmu dalam bahaya.
Bersambung....