
Menyantap makanannya.
Kiara menatap Kedua pelayan yang sibuk Memindahkan beberapa porsi makanan lagi dari dapur ke ruang makan.
Di hadapannya sudah sangat banyak terhidang makanan lezat.
Kiara Memakan satu persatu sampai makanan itu ludes tak bersisa.
Hhuaaaaakkkkk
Sendawa yang sangat kencang.
Sampai Bibi Mel memandanginya Cengengesan.
“Aduhhhh.” Ringis Kiara kala ingin bangkit dari duduknya
“Nona, Apa anda susah bergerak. Biar Bibi bantu menuju kamar ya.” tawar Bibi Mel.
orang yang selalu memberikannya makanan lezat dan banyak itu.
Kiara mengangguk pelan.
menggerakkan lehernya saja terasa berat. apa lagi menggerakkan badan yang sudah tak seringan beberapa Minggu yang lalu.
Memasuki kamar. kiara berdiri tepat di depan cermin. memandangi Kaca dengan mimik wajah yang menyedihkan.
“Ini benar-benar aku Bibi Mel.” Ujar Kiara Matanya tetap melekat pada pantulan Dirinya di cermin.
“Ya Nona. Anda terlihat berisi dari mana-mananya.” Ujar Bibi Mel menyemangati.
Berisi Dengkulmu. ini namanya Obesitas. Lihatlah Perutku yang di penuhi dengan lemak. dan dagu ini sekarang sudah menjadi dua lapis. Dimana-mana ada lemak. Apa ini yang di maksud dengan tubuh berisi seperti yang Bibi Mel sarankan.
Kiara mulai Resah.
“Apa bibi Mel yakin Tuan Muda Khenzo akan melirikku kalau tubuh ramping ku di buat berisi.”..
“Tentu saja nona. Tuan muda sangatlah menyukai Gadis yang berisi. seperti Nona sekarang ini.” jelas Bibi Mel menyemangati Kiara.
“Tapi Bibi Mel, Bukankah ini terlalu gemuk.” memandang ke arah tubuhnya. “Aku terlihat bulat dan pendek. bagaiman kalau tuan muda semakin tidak tertarik padaku.” Kiara mulai ragu dengan saran Bibi Mel.
Setelah kepergian Khenzo beberapa Minggu lalu. Kiara sempat meminta pendapat pada pelayan paruh baya itu.
Dan yang terjadi, Bibi Mel menyarankan Kiara agar mengubah tubuh rampingnya menjadi tubuh yang sedikit berisi.
Alhasil,, bukannya berisi dengan bagus malahan tubuh yang dulu ideal itu sekarang sudah seperti bola ping-pong, Bulat.
Dukkk
Kiara menjatuhkan bokongnya yang besar di sova yang ada di sampingnya. Sova mahal itu sudah kelihatan kempes dan tidak terlalu nyaman lagi karena berat badannya. Gendut! Ya.. Untuk bergerak saja dia sangat kewalahan.
“Aduh bibi Mel kepalaku sangat pusing. aku tidak ingin memikirkan hal yang banyak. cepat buatkan aku kudapan. Akau ingin nyemil malam ini.” perintahnya kepada bibi Mel.
“Baik Nona.”
Pelayan wanita paruh baya itu melangkah mundur beberapa langkah, kemudian berbalik keluar dari kamar kiara. Dia menuju Dapur mempersiapkan Apa yang di inginkan Nona mudanya.
Dari luar Rumah. mobil Sang tuan muda sudah terparkir di halaman Beberapa detik lalu.
hujan membasahi setiap sudut halaman dan taman.
Pak Min membuka payungnya untuk memayungi Khenzo yang baru saja Tiba bersama Sekertaris Nan.
“Selamat malam Tuan.” sapa santun Pak Min.
“Emmm.
Apa dia sudah tidur?.”
Tanya Khenzo.
“Belum tuan. Nona Sedang menunggu Kudapan yang akan di buat Bibi Mel.” Pak Min menjelaskan Seakan tahu siapa yang di maksud Tuan mudanya.
“Kudapan? Apa dia makan banyak selama Aku tidak ada?.” ujar Khenzo lagi.
Pak min tersenyum Samar. Gemetar, karena takut sang tuan muda akan marah melihat keadaan istri yang berubah total itu.
“Nona makan dengan sangat baik tuan.”
“Baiklah. Aku akan menemuinya. Berikan itu padaku Bibi Mel.” Ujar Khenzo.
mengadahkan tangan siap menerima Nampan yang berisi Boba dan kripik balado kesukaan Kiara.
“ Baik Tuan.”
Khenzo menaiki Tangga. menuju lantai atas, Dimana Kamarnya dan kamar Kiara berada.
Dia sangat suka makanan seperti ini.
Ini tidak teratur sehat jika di makan dalam jumlah banyak kan.
Krekkk
ruangan itu sangat gelap.
hanya Lampu Tidur yang menyala remang-remang.
“Bibi Mel Taruh saja di situ ya. tiba-tiba perutku sangat sakit tadi.” ujar Kiara dari dalam kamar mandi.
"Dasar Aneh kenapa ke kamar mandi saja harus mematikan Lampu segala. apa dia sangat suka kegelapan." gumam Khenzo. sambil menaruh Nampan itu di meja samping Sova. pria itu lalu duduk di atas Sova.
Eh kenapa Sovanya cepat kempes. Padahal ini kan masih baru. kualitas tinggi lagi.
Batin Khenzo kebingungan.
Masih di dalam kegelapan hanya ada sedikit cahaya remang-remang dari lampu tidur.
Ceklek.
pintu kamar mandi terbuka.
Ctakk
Kiara menyalakan lampu kamarnya.
Nyiuuuuuu.
silau lampu terasa menerpa Netra segelap jelaka milik Khenzo. lantas Khenzo langsung menutup kedua matanya dengan lengan. agar Cahaya Bohlam yang terang tidak terlalu silau di indra penglihatannya.
Kaget, Di lengkapi dengan Sensasi Dah Dig dug serrrrr dari Sebongkah merah yang ingin meloncat-loncat ingin keluar.
Lidah dan Beberapa Indra Kira mulai keluh, kakinya seketika ikut Lumpuh. tidak bisa berlari atau bersembunyi.
Hanya bisa diam mematung menatapi pria yang sudah di nanti.
Perlahan tapi pasti, Khenzo menurunkan lengan yang di gunakan untuk melindungi matanya tadi.
Terpaku, Memandang sesosok Bulat di hadapannya.
“He bulat!. DiMana istriku.” Ujar Khenzo kepada Kiara gendut.
“A A-ku istrimu.”
Ujar Kiara gagap.
“Omong kosong.”
“Kau menyembunyikannya di dalam Dastermu kan. Cepat keluarkan Kiara dari sana.” ujar Khenzo menatap dengan sangar.
“Tidak tuan! Ini tubuhku, lemak dan darahku menyatu semuanya.” Ujar Kiara sangat panik.
Khenzo mendekat.
Mencubit Lemak di bagian perut Kiara.
membuat gadis itu berteriak sakit.
”Aaaaa sakit..!.”
"Dia Benar, isinya Lemak semau, Jadi Kiara dimana.”
ujar Khenzo Dengan wajah datarnya.
“Ini aku. Aku Kiara. istrimu.”
Ujar Kiara meyakinkan.
Khenzo merogoh Gawainya. Membandingkan foto Kiara dengan gadis gendut di hadapannya. tidak ada mirip-miripnya sama sekali membuat pria itu tidak percaya dengan kata-kata Kiara ya g mengaku sebagai istrinya.
BERSAMBUNG......