
Sebuah hotel bintang lima di perkotaan Yang ramai.
Kiara bersama Falerian istirahat sejenak di kamar mereka.
Sedangkan sekertaris Nan pergi menemui Khenzo.
Di sebuah Rumah.
“Lily aman, aku menjaminnya dan dia dibebaskan dari kantor polisi.” ujar Jordan kepada Khenzo.
“Bagus paman, Lily tidak bersalah. kalau aku ada di posisinya pada saat itu, mungkin aku juga melakukan hal yang sama.”
“Oh, jadi kau tidak marah adikmu di tebak Oleh Lily.”
“Kau bicara apa paman, Dia bukan Adikku, Satu-satunya adikku yaitu Chila.
Aku perhatian kepada Rahel karena hanya kasian. dan ternyata dia sangat jahat.
Aku benci wanita seperti itu.” tuturnya.
Jordan menungging senyum. memang, sedari kecil Khenzo tidak pernah menyakiti hati Rahel meski Khenzo tidak menyukainya. Seperti yang dia katakan barusan. semua itu hanya rasa kasihan tidak lebih dari itu.
“Baiklah, aku akan memanggil Lily kemari.”
Jordan masuk ke salah satu ruangan. Disana Lily hanya termenung.
Memikirkan keadaan Brian dan bayinya.
“Khenzo datang mencarimu.”
“Baik.”
Lily berjalan mengikuti Jordan, sampai ke suatu ruangan. kakinya bergetar, melihat tatapan Khenzo yang menyeramkan.
Tapi kembali lagi kepada hati yang teraniaya, Lily merasa Seperti mendapat keberanian. jika saja Khenzo membentaknya, ia akan melawan karena dia tidak bersalah.
ya, meski Rahel mati saat itu juga, Lily tidak akan pernah merasa bersalah.
“Paman!” ujarnya sambil menunduk pandang.
“Kau yang menembak Rahel?”
Lily terdiam,
Ia sadar, perbuatannya saat itu sangat tidak terpuji, menembak manusia yang sekarat dengan membabi buta.
Mungkin saja perempuan itu sudah mati. dan Khenzo datang untuk membalaskan dendam adiknya.
Begitu pikir Lily.
tapi gadis itu tidak gentar, apapun yang akan menimpanya selanjutnya, ia akan menerima itu. karena berani berbuat berani bertanggung jawab.
“Kenap kau hanya diam.”
Lily memejamkan matanya,
sekarang dia ikhlas jika harus di bawa lagi ke jeruji besi itu. mungkin sekarang dia akan di siksa atas perbuatannya.
“Aku memang menembaknya, aku bersalah.” menghela nafas panjang.
“Tapi, sebelum paman membawaku pergi, aku ingin memberitahu sesuatu.”
“Katakan.”
Malam itu, Aku dan Brian sebentar lagi akan makan malam bersama.
Aku menyiapkan Makanan, sedangkan Brian menidurkan Falerian.
Tiba-tiba,
Rahel datang. memaksa Brian ikut dengannya, akan tetapi Brian menolak.
Brian mengusir Rahel, Tidak lama setelah itu Rahel datang dengan cangkulnya.
menghantam Brian.
Tapi Brian dengan sigap menembak Rahel dengan pistol yang ia bawa di sakunya.
Dan Rahel tumbang. aku sangat panik. darah ada dimana-mana. dan Brian akhirnya pingsan juga.
aku melihat Rahel ingin bangkit dan meraih Cangkul nya, ia membuat Falerian sebagai sasarannya. dengan sigap aku menembaknya dengan membabi buta.”
Lily menangis menceritakan kejadian itu, ia menangis bukan karena takut dirinya di penjara. Dia hanya sedih membayangkan. bagaimana kalau dirinya tidak siaga. mungkin bayi itu sudah binasa di tangan Rahel.
“Baik,”
Khenzo mulai bangkit dari duduknya.
“Bawa dia Nan.”
“Tunggu! Sebelum Paman menjatuhi saya hukuman. saya ingin bicara sekali lagi.”
“Silahkan.”
“Saya tidak menyesal melakukan itu kepada Rahel. Saya sangat puas bisa membunuh Wanita itu.”
menarik napas dalam.
“Baik, Jika paman ingin menghukum saya. saya bisa terima. tapi bolehkah aku bertemu Brian dan anaknya sekali lagi?”
Lily berucap sambil menitikkan air mata.
“Baik, Nan bawa dia menemui Brian.”
Sesampainya di rumah sakit, Di ruangan rawat Brian.
Lily masuk sendirian.
menjenguk Kekasihnya mungkin untuk yang terakhir kalinya.
karena dia tidak akan tahu, hukuman apa yang akan di jatuhi Khenzo kepadanya. mungkin saja hukuman mati, karena nyawa harus dibayar nyawa bukan?
Menatap Prianya dengan pilu.
Hatinya tersayat sembilu.
Menggenggam tangan yang di penuhi Alat medis itu.
Lily menciuminya.
“Aku mencintai mu, Jika harus tiada aku tidak masalah. asalkan kau dan Anakmu bisa selamat.
aku akan selalu mengingatmu meski raga tak menyatu lagi dengan jiwa.”
melepas genggamannya. lily mencium kening Brian untuk terakhir kalinya.
kemudian gadis itu keluar ruangan.
menatap keempat pria di hadapannya.
“Saya siap.”
“Siap Ngapain?” Balas Jordan.
“Saya siap di Hukum oleh paman khenzo.”
“Bodoh! Untuk apa aku menghukum mu.” Balas Khenzo.
“Karena aku sudah membunuh anggota keluarga Paman.”
Khenzo Tersenyum, pria itu menatap Jordan.
“Baiklah kalau itu Maumu. kita temui Falerian terlebih dahulu. setelah itu, kau di eksekusi mati. Mau?” tawaran Jordan begitu eksklusif.
Lily bergetar, Wajahnya merah takut, beginikah rasanya Mengetahui kematian.
meski Dia setegar batu karang, hatinya tetap meringis mendengar hukuman yang sudah ia duga sebelumnya.
Mati aku! Tuhan tolong jangan ambil nyawaku.