
"Huaaaaaaa.. ibu.. tulang-tulang ku terasa ingin patah!.” Kiara berteriak sakit, tatkala bibi Mel mengurut pinggangnya yang encok karena di banting prianya.
“Nona! tahanlah sedikit. pinggangmu akan bengkak kalau tidak di urus dengan benar!.” bibi Mel mencoba menenangkan nona mudanya.
Huhu.. sakit sekali! ini semua gara-gara tuan songong yang semena-mena itu. dengan tidak berperikemanusiaan melempar tubuh mungilku terhempas ke ranjang. meski itu empuk, tetap saja bisa mematahkan tulang-belulangku yang masih dalam perkembangan.
“Bibi Mel! aku ke kamar tidur Khenzo hanya ingin melihat foto Sita! kenapa kalian malah menghubunginya agar pulang secepatnya. Jadinya seperti ini kan, pinggangku sangat sakit tau!.” Pungkas Kiara sudah sangat geram.
“Maafkan kami nona! kami siap di hukum untuk kesalahan besar ini.” bibi Mel mengaku salah.
“Aishhhh, sudahlah.
bibi Mel kam.bisa lakukan.sesuaty untuk kan.” Tanya Kiara, tapi lebih seperti perintah.
“Apa yang harus saya lakukan nona.” balas bibi Mel.
“Sangat mudah.
katakan... siapa Sita sebenarnya”
Klekk
Karena kaget bibi Mel memencet otot mulus dan terawat itu.
“Aduhhhh bibi! aaaaah sakit sekali.” Ujar Kiara meringis.
“Maaf Nona.” Bibi Mel kian panik saat Kiara meringis kesakitan karena perbuatannya.
Wanita paruh baya itu terdesak untuk selanjutnya, karena melihat tuan mudanya berada di depan mata.
Khenzo menjentikkan Jari, memberi isyarat agar bibi Mel keluar dari Kamar.
Tangan sehalus sutra itu menekan dan mengelus Pinggang yang sakit itu.
“Aku penasaran siapa.Sita itu, makanya aku pergi ke kamar Khenzo, tapi kalian malah menghubunginya.
Sita itu siapa sih.” Tanya nya.
namun tidak mendapat jawaban.
karena yang sekarang ada bersantai adalah Suaminya sendiri.
“Sita itu istri pertama Tuan Khenzo ya?” Tanya Kiara.
“Bibi Mel, Aku berencana ingin berpisah dengannya, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi apa yang harus ku pertahankan, suamiku saja sudah pernahenikah, pasti dia sangat mencintai Sita kan.” Kiara membenamkan Wajahnya di bantal,
“Bibi Mel, kenapa kau diam saja sih, untuk pijatanmu enak, kalau tidak aku pasti akan duduk dan bertanya lebih banyak lagi tentang Ibu kandung Falerian itu, tapi lupakan saja, aku jadi ingin tidur. Hoammm.” Kiara menguap lebar–Gadus itu terlelap dengan cepat.
“Tuan.”
bibi Mel menghampiri Khenzo, Saat tuan muda itu memanggilnya pelan.
“Selimuti dia, atur suhu ruangan untuknya” ujar Khenzo, lalu bergegas meninggalkan kamar Kiara. Wajahnyaerah padam Sepertinya ia murka mendengar semua ucapan Kiara.
Bergetar, Tangan yang di gunakan mengurut Pinggang encok itu kini menggapai Falerian.
Bayi menggemaskan yang sudah terlihat gembul itu masih Tertidur dengan nyamannya.
“Tidak akan! kiara tidak boleh meninggalkanku bersama Falerian. Apa yang di pikirkan gadis itu, dia memberi kehangatan layaknya kasih sayang seorang ibu kandung kepada bayiku. kenapa tiba-tiba ingin meninggalkanku pergi.
apa dia tidak punya perasaan, Falerian adalah hukuman untuknya. Karena berani mempermalukanku saat itu.”
Khenzo menempelkan bayi itu di pelukannya.
“Berpikir aku akan membiarkannya pergi! mimpi saja, Itu tidak akan pernah terjadi.”
Khenzo marah, benar-benar marah, saat ia mulai menyukai sikap lembut Kiara kepada anaknya, tapi gadis itu berniat ingin berpisah darinya, tentu saja ituembuat Khenzo dan bayinya tersakiti.