MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Mengendap



 


"Buatlah dia betah dan enggan meninggalakn Rumah ini."


Perkataan tuan muda Khenzo membuat suami istri itu kini sibuk di dapur.


“Bu apa kamu yakin dengan begini Nona Kiara akan betah tinggal di rumah ini.”


pak Min bicara sambil sibuk memainkan centong di tangannya.


“Iya Pak. nona sangat mencintai makannan. Jika nona mencicipi makananmu yang lezat itu. aku percaya dia akan ketagihan.” mengobrol sambil mencuci sayuran.


“Haha kau benar. Masakanku memang paling enak.” ujar pak Min dengan percaya diri.


“Hemm, Kau memang handal dalam segala apapun tapi tidak untuk urusan membuat anak.” Bibi Mel memulai lagi. memulai percakapan mengenai kelemahan suaminya.


Pak Min hanya terdiam. Wajah yang tadi tersenyum ria berubah menjadi sebuah kesedihan.


“Tapi.... di dalam satu kelemahan mu. kau menyimpan sejuta kelebihan. Aku sangat mencintaimu Minun.” Ujar bibi Mel, tatkala melihat suaminya itu bersedih.


“Aku juga mencintaimu Melan ” balas Pak Min. euforia bahagia kembali terpancar di wajah keduanya.


“Wahh wahh. aku sudah lama tidak melihat kehangatan keluarga seperti ini. aku jadi iri kepada pak Min dan bibi Mel.” Ujar Kiara yang tiba-tiba saja muncul.


“Eh nona.”


Gawat! Apa nyonya mendengar percakapan barusan.


“Nona sejak ka....


hem maaf atas ketidak sopanan kami nona.” Ujar Bibi Mel sambil menunduk hormat.


“Tidak apa bibi. Aku bukan tuan muda Khenzo. jangan terlalu kaku.” duduk di meja makan sambil melahap sebuah Apel segar yang tersedia.


“Aku suka kehangatan seperti tadi. oh ya! aku mendengar sedikit percakapan Kalian. Apa benar Pak Min dan Bibi Mel tidak mempunyai keturunan?.” Tanya Kiara.


Syukurlah nonaa sepertinya memang tidak mendengar yang tidak perlu ia dengarkan


“Benar nonaa! yang Maha kuasa mungkin belum memberikannya.” Jawab pak Min di barengi senyum.


“Sabar ya pak Min. Kalian tidak kekurangan anak Kok! Tuan Khenzo, Aku, dan juga Farelian! Kalian bisa menganggap kami sebagai anak kalian juga.” ujar Kiara menghangatkan.


Uwahhhhhhh nona Kiara memang jago menghangatkan hati yang beku. aku percaya Suatu saat dia akan bisa menaklukkan hati tuan muda.


pak Min membatin senang.


“Terimakasih atas perhatian Nona.


Apa nona ingin makan sekarang?” tawar bibi Mel.


“Boleh bi. kebetulan Falerian sedang tidur” ujar Kiara sambil menghabiskan suapan terakhir buah di tangannya.


Bibi Mel dan Suaminya menyajikan masakan enak dan bergizi itu. Kiara melahapnya dengan sangat senang sekali.


“Hummmm sup ini begitu enak.”


“Pak Min yang memasaknya khusus untuk nona!.”


“Uwahhhh, Bibi Mel beruntung sekali.” ujar Kiara, terus melahap makanannya.


Pak Min dan bibi Mel saling berpandangan. Pasutri yang sudah tidak muda itu memang sangat saling mencintai satu sama lain.


Kling


menaruh Sendok


Kiara yang biasanya ceria itu sedikit menunjukkan beban perasaannya.


“Ada apa nona! apa ada yang salah dengan hidangan ini.”


“Dimana yang tidak nona sukai? agar lain kali kami tidak usah menyajikannya lagi.”


“Tidak! masakan ini sungguh sangat enak! aku begitu terharu, melihat kalian begitu mesra.”


hatiku tersayat.


Teringat kepada Ayah dan ibuku yang sudah berpisah sejak Tiga tahun yang lalu


Tidak di sangka! Aku di jodohkan dengan tuan muda Khenzo. yang paling menyebalkan adalah Aku tidak bisa menyalahkan ibu. Karena aku percaya ibu menginginkan yang terbaik untukku.


"Aku tidak akan berencana kabur lagi! Bertahan di Rumah ini mungkin adalah hal yang lebih baik dari pada mengganggu kehidupan rumah tangga ibu yang baru."


________


Tertegun, Memandangi wajah mulus dan murni itu, sangat tenang benar-benar tidak memiliki dosa apapun.


“Benar Nona! Tuan kecil sangat menggemaskan sekali.”


“Ngomong-ngomong! Kenapa dia tidak mirip sama sekali dengan tuan Khenzo ya. bi Mel apa Falerian mirip dengan ibunya?.”


“Sepertinya begitu. mata dan bibirnya memang sangat mirip dengan Nyonya Sita”


“Oh ya... aku jadi penasaran dengan Nyonya sita itu!.”


.


.


.


Di ruang belakang, Kiara mengendap-endap menuju Pak Min yang sedang membenarkan Aliran air kolam.


“Nona.”


“Hustt.!”


“Ada apa nona mencari saya malam-malam begini” Ujar Pak Min Sambil berbisik.


“Saya ingin bantuan pak min. pinjamkan saya kunci kamar tuan muda yang satunya dong,” ujar Kiara berbisik.


kedua bola mata pak min membulat. iris kecoklatan itu kian tangkas.


Hehe! Sepertinya Nyonya ingin mempersiapkan kejutan kepada tuan muda!


“Baiklah nyonya! Ini adalah kunci kamar Tuan muda. Apa nyonya butuh Bantuan? Saya akan membangunkan Istri saya untuk membantu nona bersiap”


“Eh Tidak usah Pak Min. Ini antara aku dan tuan muda.”


“Baiklah nona!. Cahyo.........!” Pak Min menyemangati.


“Tentu saja! Terimakasih sudah membantuku!.”


“Sama-sama Nona.”


Hehe


akhirnya nona sudah terpikat dengan Tuan. apa Tuan kecil akan segera mempunyai adik!?.


Batin pak min sambil tersenyum Kuda.


Kiara tergesa-gesa kedalam kamar Khenzo. yang tidak boleh di masuki itu, meski mereka tidak bersama tapi Khenzo memiliki kamar pribadi yang tidak boleh orang lain masuk termasuk Kiara, karena itulah Kiara merasa ia perlu menyelidiki kamar Khenzo agar ia bisa menggalih sedikit informasi mengenai Sita.


Seperti menggali harta karun gadis itu sibuk mencari Foto wanita bernama Sita itu.


“Aneh... Kenapa aku tidak menemukannya. Begitu banyak Foto yang tersusun rapi, kenapa tidak ada satupun yang Foto selain foto keluarganya.”


Benar-benar tidak ada foto orang lain selain foto-foto narsis dirinya dan foto Keluarga. aku semakin penasaran dengan wajah Sita itu.”


Kiara terus mencari! diman Khenzo menyimpan foto wanita itu.


Kiara menangkap satu foto aneh dengan kedua matanya.


gadis itu merinding, seperti Familiar dengan wajah dan bentuk Tubuh itu.


“Hah! Ini kan fotoku pas masih SMU. ya... waktu masih imut-imut nya. Kenapa Tuan Songong itu menyimpannya. Apa dia masih mengingat kejadian itu? kejadian empat tahun lalu. aku menamparnya dan mempermalukannya beberapa kali. Apa dia ingin balas dendam kepadaku?!.”


Apa ini, tiba-tiba aku merasa merinding.


Kiara memegangi tengkuknya.


Di luar Kamar.


Khenzo Sudah berdiri di depan kamarnya. memegang gagang Pintu itu.


“Pak... apa waktunya pas. Atau jangan-jangan nona Kiara belum selesai bersiap-siap”


“Sepertinya sudah pas bu... nona menghampiri saya satu jam yang lalu. aku rasa satu jam saja sudah cukup bersiap-siap.”


“Aduh pak! satu jam! Itu adalah waktu yang sangat sedikit untuk seorang gadis mempersiapkan diri di malam pertamanya. Kenapa Bapak tidak bertanya terlebih dahulu. Kita bisa lebih lama menunda tuan agar tidak memasuki kamar ”


“Tenang bu. bukankah nona sudah mempersiapkannya terlebih dahulu. Kalau tidak manamungkin nona mendatangiku untuk meminta kunci.”


“Bapak benar sekali”


Pak Min dan bibi Mel menguntit dari kamar bawah, setelah melihat tuan muda mereka itu pulang. keduanya tidak bisa jika tidak bertingkah histeris.


Dan begitulah akhirnya, Kiara tidak tahu apa yang akan menimpanya malam ini. salah sendiri, kenapa terlalu berani mengendap-endap ke kamar tuan muda Khenzo.