MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Melepaskan



 


Berjalan Lesu di pinggiran kolam, Kiara melangkahkan kakinya perlahan mengitari Taman belakang rumah.


Tanpa Warna, seperti orang yang kehilangan harapan. keputusasaan menyelimuti akal sehatnya.


Berjongkok memandangi pantulan dirinya dari air kolam yang biru.


Menyedihkan, Baru beberapa hari tidak bertemu dengan Falerian, Kiara sudah seperti merasakan kematian anak yang sangat pilu.


Dari Aula Depan, Khenzo melangkahkan kakinya menuju keberadaan sang istri.


“Kiara!.” panggilnya kepada gadis Lesuh itu.


Tanpa jawaban, Sahutan, Atau sekedar tatapan untuk orang yang memanggilnya. Kiara lebih memilih tetap menatap Bayangannya yang menyedihkan itu.


membuat sang suami berdecak kesal karena tidak suka di acuhkan.


“Ck,


He.. Aku menemukan Falerian.”


Ujar Khenzo seketika.


Menatap, wajah Kusut Kiara Mulai menunjukkan Senyum indahnya.


berdiri dan melangkah.


Alih-alih menghampiri Khenzo, gadis manis itu malah melewatkannya dan berjalan memasuki rumah.


“Falerian...”


Deg deg


Berhenti, menebarkan pandangan ke seluruh ruangan.


tidak ada siapa-siapa kecuali beberapa pelayan dan kedua pelayan Pak Min dan Bibi Mel.


“Dimana Fa-le-ri-An?.” Ucap Kiara sambil memandangi Pria yang mengatakan itu barusan.


“Bukan disini, Ikutlah denganku.”


Khenzo menggandeng istrinya menuju mobil.


Sekertaris Nan membukakan pintu mobil untuk Khenzo dan Kiara.


“Benarkan kita akan bertemu Falerian!? Kau tidak berbohong kan?.” Ujar Kiara masih curiga pada suaminya.


“Aku tidak Bohong.”


Kiara mendengus pelan. Sebelumnya dia sangat mempercayai kata-kata Khenzo tanpa ragu, karena pria itu sangat memegang kata-katanya. tapi sejak hari itu, hari Diman dia harus membawa Falerian kembali Khenzo malah mengingkari janjinya.


Sekertaris Nan melajukan mobilnya menuju Airport Terbesar Kota. membawa Kedua pasangan muda itu kesana.


“Tunggu, kenapa kita ke Bandara?.” ujar Kiara bingung.


“Kau ingin bertemu Falerian kan!.”


“Iya.”..


“Kalau begitu Jangan banyak protes.”


“Baiklah.


em Tuan Khenzo terimakasih.”


“Emmm.”


Mereka sampai Di bandara.


Khenzo menggandeng tangan istrinya menemui Brian yang Sedang menunggu di lobi Bandara.


“ Khenzo!.” Brian menghampiri Temannya, bersama dua orang pelayan Wanita yang sudah tidak muda lagi, salah satu di antara mereka menggendong Falerian.


Khenzo tersenyum membalas sahabatnya itu.


Gadis di sampingnya Celingak-celinguk merasa Bingung.


“Falerian.” Kiara mengulurkan tangannya. bersiap menggendong Bayi mungil itu.


“Nona Kiara!. Mari kita bicara.” ujar Brian sambil mengambil langkah menjauh dari kerumunan pengunjung bandara.


Kiara merasa bingung, mengembalikan Falerian pada Pelayan paruh baya itu. mengikuti Brian sambil di iringi Khenzo.


Duduk di kursi panjang di samping Brian Khenzo melipat kakinya.


“Kau, kenapa kau ikut Khenzo, Ada hal penting yang harus aku sampaikan kepada Nona Kiara.” ujar Brian.


“ Kenapa aku tidak boleh ikut. dia istriku!.” Khenzo bicara sambil menunjuk Kiara, matanya melotot kepada Brian seperti ingin keluar.


Aku tahu dia istrimu dan tidak ada yang ingin merebut Kiara darimu, Aku hanya bertanya saja. kenapa kau menjawab penuh emosi Begitu.


“Baik, aku hanya bertanya saja.” ujar Brian pelan.


“Emmm.”


“Hai Nona Kiara, Aku teman Khenzo. kita belum pernah bertemu sebelumnya. jadi Nona pasti belum tahu siapa aku kan.” Brian mulai bicara.


Kiara Mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


“He he baik.


Nona Kiara.” menatap Gadis yang masih kebingungan itu.


“Ini ada apa ya pak Brian. kenapa Putra kami Ada pada anda?” kiara menjawab.


“Em, Nona, Saya akan membawa Falerian tinggal bersama saya.” Ujar Brian menjelaskan.


Kiara menatap Khenzo, Seperti Sedang bertanya;


“Kenapa dia ingin membawa putramu! Apa kau sudah menjualnya?.”


Khenzo hanya diam di tatap Kiara seperti itu. Pria itu akan Membiarkan Brian yang menjelaskan semuanya.


“Nona, Saya akan membawa Falerian Ke London!.” Ucap Brian lugas.


Diam, Kiara hanya bisa menatap.


bingung kemana Arah pembicaraan ini.


Dia pasti sudah gila, ingin memisahkan Anak dengan orangtuanya.


“Tidak bisa! Pak Brian Apa anda masih sehat. kenapa ingin memisahkan kami dengan Falerian.


kami orangtuanya.” Ujar Kiara sambil berdiri dari duduknya.


Orang-orang di sekitar mereka tampak memperhatikan.


Kiara memandangi sekelilingnya dan kembali bersikap tenang.


“Nona, Anda salah paham. Falerian adalah putra kandung saya dengan Sita. Tuan Khenzo adalah orang baik yang bersedia Merawat Sita dan bayi di kandungannya. kenapa anda tidak tahu.


Apa dia tidak memberitahu mu Nona.”


Brian menunjuk seseorang dengan Ekor matanya..orang yang di maksud malah menggaruk hidungnya yang tidak gatal.


“Omong kosong!. Falerian putra tuan Khenzo kau tidak boleh membawanya. jika kau ingin pergi pergi saja sendiri jangan membawa Falerian ku.” Ujar Kiara dengan galaknya. berdiri, meninggalkan kedua pria tampan itu


“Aishh merepotkan.” gumam Khenzo.


“Salahmu sendiri. Kenapa tidak memberitahu yang sebenarnya dari awal.” Uajr Brian menyalahkan temannya.


“Itu terserah padaku, Kau tidak usah ikut Campur.” Aku hanya ingin menyiksanya Dengan Merawat Falerian karena berani meninggalkanku di acara resepsi pernikahan. Tapi Bukannya tersiksa dia tampak menikmatinya.


Batin Khenzo Menyesal.


"Aku tidak ikut Campur, Sekarang bagaiman caranya Agar Aku bisa membawa putraku dengan kerelaan Nona Kiara." Gumam Brian.


Kiara berlari menghampiri pelayan paruh baya bernama Anna itu.


“Bibi Ann serahkan Falerian padaku.” Ujar Kiara, merebut Falerian dari gendongan Bibi Ann.


“Nona, kembalikan Tuan kecil. pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera lekas landas beberapa menit lagi.” Sekertaris Nan menghampiri Kiara.


“Tidak mau. Falerian harus pulang.” Gadis keras kepala itu memeluk Falerian Erat.


“Nona bisa bertemu dengannya kapan saja, Tuan Khenzo Akan membawamu berlibur ke tempat kami nantinya. Nona! Falerian dalam bahaya jika Saya tidak membawanya pergi, Rahel akan terus memburu Anakku Dia tidak akan tinggal diam jika dia tidak melakukan apa yang inginkan kepada Falerian.


Nona akan tetap menjadi Ibunya dan Khenzo juga tetap menjadi Ayahnya, itu tidak akan berubah. Aku sangat berterimakasih untuk cinta dan kasih sayang kalian pada Anakku Sangat-sangat berterimakasih.”


Ucap Brian.


Kiara Terdiam, Melepaskan Falerian sungguh sangat berat, Tapi mempertahankan Bayi


mungil itu sangat berresiko.


Kiara menciumi Bayi yang pernah menemaninya selama tiga bulan, Merawat penuh cinta layaknya seorang ibu pada anak kandungnya.


dengan berat hati, merelakan Falerian kepada Brian yang ternyata adalah ayah kandung Brian.


“Apa benar Kami boleh berjumpa kapan saja!.” Ujar kiamat cemas.


London Bukanlah tempat sembarangan yang bisa ia masuki seenaknya.


Ayahnya Akan menangkapnya dan membawanya untuk selamanya dari kehidupan Ririn.


Kiara tidak menginginkan itu terjadi.


Tapi,,, Bila tidak bertemu Falerian lagi dia pasti tidak akan sanggup.


“Tentu saja Nona.”


“Pak Brian. Kenapa harus London?.” Ujar Kiara resah.


Brian memandangi Khenzo.


Tanyakan padanya Nona.


Khenzo mempelototi Brian yang menatapnya.


Apa! Aku melakukan itu juga demi kebaikan semuanya.


Kiara bisa bertemu Falerian, Dan aku bisa sekalian mencari Gadis SMU ku.


Batin Khenzo.


Bersambung....