
Menghampiri Kiara dengan langkah gamang, Pria yang tidak pernah cemas akan sesuatu hal itu mulai ragu akan keahliannya.
Menghampiri Ranjang yang di tempati sang istri, Khenzo duduk di ujung kasur di samping Kiara.
“Kau marah!.” Khenzo bersuara.
“Untuk apa aku marah, Kau adalah bosnya. Menepati atau mengingkari janji itu adalah hakmu karena kau bosnya.” Ujar Kiara dengan nada lemah tapi menohok.
Khenzo mengepalkan tangannya, Kesal dengan perilaku Kiara yang menyindirnya seperti itu.
“Ya, Itu adalah Hak ku. Terserah padamu mau berbuat apa memangnya kau siapa.”
Khenzo berjalan berlalu. kesal, mungkin saja.
Aku bukan siapa-siapa, Aku hanya lah Baby siter berkedok istri. Aku sadar akan itu.
Batin Kiara.
"Falerian... Ibu Rindu padamu."
Meski Kiara bukan ibu kandung bayi yang di rawatnya, Cinta untuk Falerian sangatlah tulus.
Meski baru tiga bulan Kiara sudah menganggap Falerian Seperti anak kandungnya sendiri.
Tentu saja ia sangat kehilangan saat Falerian tidak ada di setiap pandangannya.
Kesal, menaiki mobil. Khenzo tidak ingin berlama-lama lagi di rumah itu.
mendengar Kiara pingsan tadi jantungnya seakan copot.
Setelah menemui istrinya, Pria bersurai Hitam kecoklatan itu malah kesal di buatnya.
“Apa kau sudah melacak keberadaan Brian.”
Ujar Khenzo kepada Sekertaris Nan yang sibuk mengemudi itu.
“Sudah Tuan. Brian membawa Tuan kecil Kerumah Lama nyonya Sita” menyerahkan gawai kepada Khenzo.
“Itu adalah beberapa foto Brian yang membawa kabur Tuan kecil kedalam rumah itu.” menjelaskan tentang foto yang di kirim mata-mata padanya.
“Bagus! kita kesana.”
Sekertaris Nan melaju ke arah yang di inginkan tuan mudanya.
Hari baru siang, waktu masih lapang.
mendapatkan Falerian atau membuat Kiara Bosan.
menganggap perkataan Prianya adalah Palsu. menganggap janji yang diucap itu hanyalah semu.
Di pinggiran kota, Sebuah rumah sederhana yang tidak cukup terawat.
Khenzo memandangi dari dalam mobil.
tempat itu adalah tempat pertemuannya pertama kali dengan Sita sepuluh bulan lalu.
Khenzo masih mengingat dengan jelas saat itu.
Brian sendiri meminta pertolongannya, Agar membawa istrinya ke tempat yang aman.
Dan Khenzo melakukannya atas pertemanan dan kekeluargaannya dengan Brian.
Keluarga, Ya.. mereka adalah keluarga.
Dimana Chila menikah dengan Kakak tiri Brian.
Mereka saling mendukung dalam hal apapun.
Tepat Sepuluh bulan yang lalu. Waktu itu Sita Sedang mengandung Falerian selama Tiga bulan.
Khenzo menyelamatkan Istri Sahabatnya dari Pemeran antagonis Wanita, yaitu Rahel.
Wanita yang Pernah menjalin hubungan dengan Brian itu tidak terima, kekasihnya meninggalkannya demi wanita lain bahkan rela di usir dari keluarga hanya untuk hidup bersama wanita Miskin seperti Sita.
Rahel sangat marah atas peristiwa itu. Membuatnya semakin gila, menyekap Sita beberapa kali sampai ingin menghilangkan nyawanya.
Demi keselamatan Sang istri Brian rela berkorban, Melepaskan Sita demi keselamatannya.
....
Di dalam Rumah sederhana yang menjadi tempat Brian dan putranya.
Barang-barang berserakan, perabot rumah berantakan.
Ulah seorang Wanita gila yang berada di hadapannya.
Tangan di kekang kebelakang, Mulut Brian di Bungkam dengan selotip membuat pria bersurai pirang itu tidak bisa bersuara.
Matanya melotot dan memerah memandang seorang wanita yang sedang menggendong Falerian.
Rahel.
Wanita Setengah Waras itu melaju tiga langkah, Masih dalam posisi menggendong Falerian.
Srakk
Melepaskan Benda hitam yang menempel di mulut Brian. membuat pria itu meneteskan air mata menahan sakitnya.
Jemarinya menari-nari Di atas Susunan Indra yang menawan itu, sangat mirip dengan Sita.
“Dasar Wanita Iblis, Laknat! Sekali kau membuat Anakku kesakitan Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia Rahel.” Emosi yang berapi-api.
Ayah dari anak yang di gendong Rahel itu sangat marah melihat anaknya di ancam seperti itu.
“Ho. Ho. Sayang, Aku sangat membencinya, Dari Mana-mananya dia terlihat seperti Jalang Sita.!” Ujar Rahel sambil tersenyum dengan senyumannya yang menyebalkan itu.
“Jadi bolehkah Aku mencek*knya?.”
Meronta, Brian sangat marah. Ingin sekali mencabik-cabik Tubuh Rahel Yang ada di hadapan matanya, Tapi tubuhnya di halangi oleh kedua anak buah Rahel yang Kekuatannya tidak main-main. Otot mereka juga sangat kekar, membuat Brian tidak bisa melawan mereka meski dia ingin.
“Jangan lukai Anakku. Aku mohon.” Ujar Brian dengan Isak tangis yang Pilu.
Jika bukan demi keselamatan Falerian, Dia sendiri tidak Sudi memohon kepada Rahel. Orang yang menghancurkan keluarganya.
Rahel mendekati Brian, berjongkok mensejajarkan wajah mereka.
“Emm, Kau mau Anak ini tetap hidup kan.
Nikahi aku, Aku akan menjamin Dia tetap bernyawa.”
Cuihhh.
Air ludah mendarat di wajah Pemeran Antagonis wanita itu.
Sambil Tertawa getir, Rahel membersihkannya dengan Tisu.
“Beraninya kau!...”
Rahel berapi-api, Menerima perlakuan seperti itu sungguh sangat menguras emosinya.
Mengangkat Falerian setinggi tangannya, dan mengempaskan Bayi yang tidak bersalah itu.
Tidakkkk....
Happp.
Khenzo menangkap Falerian sebelum Sang bayi menyentuh lantai.
Sedangkan Sekertaris Nan menghajar kedua anak buah Rahel dengan brutal.
Oee oeeee oee
Tangis sang bayi pecah Saat ayah angkatnya menangkap dan memeluknya.
Brian membuka matanya. Sambil berderai air mata.
betapa kaget dan bahagianya melihat Khenzo sudah menyamatkan Bayinya.
“Kak Khenzo!.” Ujar Rahel panik Melihat orang yang berpengaruh di dalam hidupnya.
Kalau Khenzo tahu Dengan Watak buruknya habislah riwayatnya seketika itu juga.
“Siapa yang kau panggil Kakak. Aku tidak memiliki kerabat kejam sepertimu.”
Brukkkk.
Berjongkok, memegangi kaki Khenzo, Kiara meminta Ampun kepada Kakak yang sangat dingin padanya itu.
“Kakak, maafkan aku
Aku tidak seperti itu.
Aku... Jangan Hukum aku huhu.” Memasang tampang iba yang selama ini sangat ampuh kepada Khenzo.
Bammm
Menendang tubuh Wanita itu terjatuh beberapa kelak darinya.
“Nan, Kirim dia ke tempat terpencil, Cari Tempat yang tidak pernah di kunjungi manusia, Jadikan Dia sebagai peternak Bebek dan ayam saja.”
Ujar Khenzo dengan tidak main-main.
“Baik Tuan,” Sekertaris Nan mengangguk, Setelah melumpuhkan kedua orang suruhan Rahel itu. sekertaris Nan menangkap Rahel dan akan menghukumnya seperti apa yang di ucapkan Khenzo barusan.
“Sialan, lepaskan Aku Nan. Kurang ajar kamu. Aku akan mengadukan mu ke Papa Aditya dan Papa Roby, Lihat saja kamu akan di tendang dari sisi Kak khenzo.” Ujar Rahel, menakuti Pria tampan itu agar tidak melakukan perintah Khenzo.
“Maaf Nona, Silahkan Anda mengadu sekarang juga, yang berhak menendang saya dari sisi Tuan Khenzo ya tuan Khenzo sendiri. bukan Pak Aditya atau Tuan Roby.”
Sekertaris Nan menjing-jing Lengan Rahel terlebih dahulu membungkus tangannya dengan Sarung tangan.
Sekertaris Nan tidak ingin tangannya kotor karena menyentuh Wanita menjijikkan seperti Rahel.
“Tidak mau, lepaskan aku sialan Kamu Nan.” Rahel memberontak agar Sekertaris Nan melepaskannya.
meski Sekertaris Nan tidak akan melepaskannya begitu saja.
Brian berlari menghampiri Khenzo yang menggendong Anaknya.
“Terimakasih banyak.” Ucap Brian Hari masih berderai air mata.
“Sama-sama.”
Brian memeluk dan menciumi Putranya, Khenzo hanya memperhatikan itu dari dekat, membuatnya tidak tega bila harus memisahkan lagi kedua Ayah anak itu.
Bersambung.....