
Aku tidak akan menyakitimu. jangan pernah menghilang lagi.
Tenggelam dalam Kama, memendam cinta sungguh sangat menyiksa.
di sisi lain, mengutarakannya menjadi sebuah cela.
Khenzo Meraup semakin dalam. mendekap Segenggam perasaan yang mekar di hati yang bergejolak itu.
Kiara mendorong dada suaminya, ia marah.
Karena Khenzo menciumnya tepat di depan Mertuanya yaitu ibu kandung Khenzo. tentu itu sangat memalukan sekali bukan.
“Tuan, apa yang sedang anda lakukan. Mami ada disini.” Kiara menoleh ke arah Zahrana.
Tempat duduk yang tadi bersih itu sudah kering, di tumpahi dedaunan pohon cempaka bak daun gugur di musim semi.
Mami kemana?
Batin Kiara bingung.
Khenzo menggeleng kesal. seolah tak terima ciumannya di cekal begitu saja.
“Kau sedang berhalusinasi ya.”
“Bukan Tuan, tadi Mami ada di sini. kami selalu bersama tadi.”
Khenzo mengusap pucuk kepala Kiara.
“Sepertinya kau merindukan mereka, sampai perhayal tingkat tinggi begini. sampai lupa membawakan ku makan malam lagi.” Khenzo mencubit pipi Kiara gemas.
Rasakan, siapa suruh Anda menipu ku. Dasar Tuan tukang kibul.
“aku tidak berbohong tuan. tadi mami bersamaku.”
“kau berhalusinasi.”
“Tudak mungkin Tuan.”
“Akhhh itu hanya sebuah halusinasi saja.”
Pasangan muda itu sibuk bertengkar kecil.
dari kejauhan.
Zahrana melepas kacamatanya. memperhatikan dari dalam mobil.
sambil menyeringai, Wanita itu melajukan mobilnya meninggalkan anak dan menantu beserta Dua pria yang sedari tadi menutup mata seolah buta.
Drtttt drtttt drtttt
Gawai berderit pelan.
Nan dengan sigap meraih Gawai yang sedang bersemedi di saku jasnya.
Ponsel Khenzo.
seseorang bernama Nayra menghubunginya.
“halo Nona, Tuan Khenzo sedang sibuk. anda bisa menghubungi Tuan Nanti atau besok.”
“Nan Apa itu kau. aku sangat perlu.
ada hal yang ingin ku katakan, ini masalah penting.” Nayra bersuara panik.
Nan sedikit tidak tega bila harus memutuskan Panggilan telpon itu. tapi Khenzo pasti tidak akan mau menjawab panggilan itu.
“Nan, apa kau masih Disana?
Tolong. ini menyangkut Brian dan Falerian.”
“Apa yang terjadi dengan mereka?”
.
.
.
Khenzo berlutut di hadapan Istrinya, mempersembahkan Bunga Kembang sepatu yang ia petik dari batangnya.
Sepertinya Ini adalah saat untuk Khenzo mengungkapkan perasaannya.
aku tidak kuat. anda sungguh sangat mempesona.
Batin Kiara kegirangan. meski ia kesal terhadap suaminya itu–tapi sayang tetaplah rasa sayang.
Jangan bilang anda ingin mengucapkan kata Cinta.
Aduh.. Mami Zahrana. anakku sangat menggemaskan.
Bagaiman bisa setangkai mawar di ganti menjadi sepucuk Kembang sepatu yang indah.
tapi tidak apa. apapun bunganya, mau reflesia atau Kantong serangga asalkan itu dari tuan Khenzo. aku siap Menerima.
Suasana romansa mulai ada–berpadu dengan warna lampu kelap-kelip menghiasi gelap yang sudah merata.
Tiba-tiba,
“Tuan!.” Nan bersuara, mengganggu suasana yang Sebentar lagi akan mencetak sejarah.
“Euhm.
Kiara, kenapa kau memakai Sepatu yang sangat polos seperti ini.” Khenzo tiba-tiba meyelipkan bunga kembang sepatu itu ke sepatu Kiara.
“Bunga kembang sepatu. yang harus di padukan dengan sepatu. sangat indah.” Khenzo mengalihkan pembicaraan, dari yang tadi ingin mengungkapkan rasa berubah menjadi Perancang hiasan sepatu dadakan. dan itu sukses membuat Kiara sedikit kesal.
Khenzo berdiri dari berlutut, menghampiri si pengganggu Nan.
“Apa!”
“Maaf sudah mengganggu anda.”
Sangat, kau sangat mengganggu. baru saja aku memujimu di rumah sakit tadi, sekaramg kau mulai berbangga diri. sudah bosan lihat uang ya.
Tatapan Khenzo sungguh mematikan.
Tapi Nan tidak akan gentar–Pantang pulang sebelum menang.
“Tuan. nona Nayra ingin bicara kepada anda.”
menyerahkan gawai.
“Sudah ku katakan. jangan pernah mengangkat telpon dari wanita itu.”
Tangan panjang itu mulai melayang, hampir mendarat di pipi Nan.
“Aku–hanya ingin berbicara dengan istrimu Khenzo.” Suara Nayra terdengar lantang, kala jemari Nan tidak sengaja mengaktifkan speaker panggilan itu.
Khenzo membatalkan aksinya untuk menampar Sekertaris Nan, ia meraih Ponsel.
“Kenapa kau ingin bicara dengan istri ku. sudah ku katakan aku tidak akan bersedia denganmu lagi.”
meski memaki. Khenzo tetap memberikan Ponselnya untuk Kiara.
“Ya, Ada apa Bibi Nayra?” ujar Kiara, saat Khenzo sudah menempelkan Ponsel ketelinganya.
eh bukan, lebih tepatnya ke telinga mereka berdua.
“Brian Koma, Dia di rawat di rumah sakit. keadaannya keritis.”
Tttutt tutt.
Sambungan telpon pun mati.
Apa?
Brian koma.
lalu? bagaimana dengan Falerian.
apa bayiku baik-baik saja?.
Kiara sangat Kawatir tubuhnya terkulai lemas, dengan sigap Khenzo menopang Istrinya.
“Hei, Bibi, apa yang kau bicarakan. apa yang terjadi pada mereka. kenapa main tutup saja telponnya.
aahhhh, dasar Bibi laknat.” Khenzo melempar Ponselnya.
Pria itu menggendong tubuh Kiara menuju mobil, Kaki yang mulai sembuh itu mulai mengeluarkan Darah sedikit demi Sedikit.