MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Nestapa



Semua orang memiliki kesalahan di dalam hidupnya, meski ia adalah pria terkaya Seperti Khenzo sekalipun. dia sebenarnya tahu, Sebuah sikap buruk tidak bisa di tutupi oleh kekuasaan.


dan pada akhirnya istri yang ia cintai di tarik oleh mertuanya.


hampa sudah yang ia rasakan.


hari-harinya berlalu tanpa semangat, meskia ia berjalan membawa raganya–tapi hati itu hanya tertuju pada gadis yang juga begitu tega meninggalkannya.


Tidak banyak yang terucap dari lisannya akhir-akhir ini, Seperti saat sekarang ini.


mobil telah berpacu membelah jalanan kota.


Khenzo masih merenung–menatap keluar jendela.


menghawatirkan keadaan Kiara Istrinya.


Mengalihkan pandangannya menghadap kedepan. memperhatikan kursi Sekertaris Nan.


“Apa Falerian sudah di jemput dari Rumah mertuaku.”


“Belum tuan.”


“Kenapa?” jawab Khenzo sedikit khesal.


“Bukankah aku sudah mengatakannya, suruh seseorang menjemput Falerian kesana.”


“Maaf Tuan, Mungkin Pak Min Lupa. saya sudah menyampaikannya kepada pak min tadi malam.”


Menyebalkan. Bagaiman aku bisa bertemu Kiara kalau bukan karena Falerian.


satu-satunya alasan agar aku bisa dengan mudah masuk Kerumah itu ya dengan membawa Falerian. dan sekarang orang-orang bodoh ini malah membiarkan Bayiku berlama-lama dengan ibunya. Apa alasanku nanti untuk bertemu Kiara. padahal aku sudah ingin bertemu dengannya.


Batinnya sambil menggigit bibir bagian bawahnya.


Jika bukan karena hukuman atas perbuatannya, Khenzo pasti sudah membawa Istrinya pulang dengan Rasa tidak tahu malunya. tapi karena para orang tua mencelanya, ia hanya bisa pasrah. menunggu sampai tiba masanya mereka di satukan kembali.


Mobil berhenti di depan lampu merah, bersamaan dengan kendaraan-kendaraan sejalur lainnya.


Suasana sedikit hening, Mata Khenzo terus berlarian melihat kondisi jalanan kota yang begitu ramai di pagi hari.


Tiba-tiba ia melihat seorang wanita menyebrang di hadapan mereka yang sangat mirip dengan Kiara Istrinya.


dengan sigap Khenzo membuka pintu mobil keluar dan berjalan menghampiri gadis itu.


“Tuan Anda mau kemana?” tanya Sekertaris Nan heran.


Khenzo terus berjalan tidak memerdulikan Nan, Saat Khenzo hampir bertemu dengan gadis itu Seorang nenek-nenek terjebak di tengah jalan penyebrangan.


melihat lampu merah akan berubah hijau. Khenzo akhirnya membantu Nenek-nenek itu. memapahnya dengan sangat hati-hati.


“Terimakasih nak.” ujar sang Nenek.


“Sama-sama.” Jawab Khenzo wajahnya tampak pucat, mencari-cari sesuatu yang hilang itu.


“Anak muda, apa kau sedang kesulitan.”


“Benar, Saya sangat merindukan Istri saya. tapi kami tidak di beri kesempatan bertemu. saya melihatnya tadi menyebrang jalan. tapi saya kehilangan jejaknya.”


Wajah Khenzo terlihat kecewa. ia menyeka butiran embun di kelopak matanya serindu itu kah pria itu pada Kiara.


“Baiklah Nek, aku harus pergi, hati-hati di jalan.”


Anak muda yang baik. sepertinya dia sangat mencintai istrinya. semoga Tuhan cepat menyatukan mereka.


Khenzo bersender di tiang listrik yang menjuntai ke atas.


merenungi Nasibnya yang bagai Nestapa, betapa kacaunya perasannya tanpa kehadiran Kiara. istrinya yang ia cintai.


Sebuah mobil terparkir di hadapannya. itu adalah Nan.


“Tuan. Anda kenapa.”


“Bukan apa-apa.”


Khenzo berjalan dari tempatnya, memasuki mobil, mobilpun berjalan menuju perusahaannya berada.


Di sisi lain. Kiara Tampak menggendong Falerian yang sudah semakin besar itu.


Sesekali Kiara menciumi pucuk kepala putra angkatnya.


Ririn datang, membawa sarapan untuk anak semata wayangnya.


“Kiara, Letakkan anak itu. Kelihatannya dia sangat berat, ibu takut Postur tubuhmu akan rusak bila harus menggendong Falerian terus menerus.”


“Ibu, Tidak Apa-apa. Falerian masih kecil tidak mungkin kan tubuhku akan melar jika menggendongnya.”


“Pokonya ibu tidak suka, Ibu tidak ingin kamu terlihat jelek di mata suamimu.”


“Memangnya kenapa kalau aku berubah memjadi jelek. hubungannya sama Tuan Khenzo apa Bu. bertemu saja, ibu tidak mengijinkan kami.” Kiara cemberut tak karuan, Dia juga merasakan kehampaan tanpa Khenzo disisinya.


“Kami melakukan itu untuk memberi Suami mu pelajaran, agar dia tidak memandang remeh dirimu. agar tuan Khenzo bisa menghargai mu sebagai wanita. agar dia bersikap dewasa memperlakukanmu sebagai istrinya.


Ibu, ayah dan kedua mertuamu melakukan itu demi kebaikan kalian, demi kebahagian rumah tangga kalian.”


Ujar Ririn.


Kiara Tersenyum lebar, dia juga ingin Khenzo lembut kepadanya.


“Bu, Tapi Tuan Khenzo boleh ya datang kemari nanti malam.”


“Terserah saja,”


“Tapi Bu, jangan cepat-cepat mengusirnya ya.”


“Itu tergantung pada kelakuanmu. kalau kamu terus saja menggendong anak itu, ibu akan menyuruh suamimu pulang bersama anaknya.”


“Aaaa ibu jahat.” rengek Kiara.


“Makanya, bikin anak sendiri aja. jangan sibuk ngurusin anak orang kamu.”


Kiara tersipu malu, ia menyelipkan rambutnya di balik kuping dengan malu-malu berkata.


“Soal itu, aku dan tuan Khenzo belum pernah melakukannya.” ungkapnya kelewat jujur.


“Apa katamu!” Jawab Ririn syok. bagaimana tidak kaget.


menantunya terang-terangan mengaku cinta, dan sangat terpukul saat mereka merebut Kiara. tapi di usia pernikahan yang sudah satu tahun putri dan menantunya belum menjadi suami istri yang seutuhnya.


Ririn bersedekap dada meninggalkan kamar Kiara. rongga dadanya terasa sesak.


ia mencoba menghubungi bessannya di seberang sana.