
Untung saja!
Khenzo mengelus dadanya.
Setelah sang istri ambruk di sampingnya.
Pria itu memerintahkan dua bawahannya itu untuk membopongnya keluar dari kamar Kiara.
Khenzo Melempari bantal kearah kedua pria tampan yang berdiri di samping ranjangnya.
sambil menatap tajam.
“Kenapa kalian membawaku kemari.”
Kedua pria itu saling berpandangan.
“Tuan yang mengatakannya.”
jawab keduanya serentak.
“Apa! emangnya aku bicara apa.”
“Tuan bilang, tuan ingin keluar dari kamar Nona.” jawab mereka lagi, serentak.
“Bodoh! Aku hanya bilang bawa aku keluar, kenapa kalian membawaku masuk kedalam kamar ini. Cepat antar aku balik ke kamar istri ku.”
“Baik Tuan.”
Tokk tokk tokk.
Suara pintu kamar di ketuk.
“Siapa Itu Nan.” Tanya Khenzo sambil memandang kearah pintu yang terkunci.
“Saya tidak tahu Tuan,”
“Biar ku periksa.” ujar Petter sambil berjalan menuju Pintu.
Petter membuka pintu itu selebar Lima Centi, Kepala pirangnya keluar memandangi keadaan.
“Nona.” ujarnya kaget saat melihat Kiara sudah berdiri di hadapannya.
“Ah Hai Dokter.” ujar Kiara sambil tersenyum.
Mendengar percakapan itu. Khenzo dan Nan kaget. dengan sigap Khenzo berbaring Dan Sekertaris Nan ikut membereskan selimut.
“Nan bantu aku, Kita bersandiwara.”
“Bersandiwara seperti apa Tuan.” Tanya Nan bingung.
Mungkinkah Berpura-pura sakit?.
Di luar sana.
“Aku mau masuk.”
Ujar Kiara, mendorong pintu itu, sampai Dokter petter terpingkal ke belakang.
Mendekati Khenzo yang Berbaring di atas ranjang. Kiara menatap Sekertaris Nan dengan seribu pertanyaan.
Kenapa Dengan Tuan Khenzo?
Apa dia sakit?
Siapa yang membuatnya jadi begini?
Sekertaris Nan Menggeleng pelan.
Pria itu memasang wajah Cemas dan Lesuh. sungguh sangat-sangat pandai bersandiwara.
“Tuan Kenapa?” tanya Kiara lantang.
“Tuan sakit Nona.” jawab Sekertaris Nan.
“Sakit.?” Kiara memandang Khenzo dan Sekertaris Nan bergantian.
“Sakit apa?”
“Demam Nona.” ujar Nan tanpa berpikir.
dasar si Nan Bodoh, kenapa dia mengatakan aku demam,
Bilang saja kalau aku tidak ingin di ganggu. biar Kesannya lebih Cool dan arogan.
Nan Bodoh.
Batin Khenzo.
menyentuh dahi dingin yang tidak ada Panas-panas nya.
“Apa kau yakin Nan?”
Sekertaris Nan tersenyum Kuda sambil menggaruk hidungnya yang tak gatal. berbohong, itu bukan ahlinya.
Seharusnya aku tidak mengatakan Tuan sedang demam, jadinya ketahuan kan.
“Nan, Bisa kalian Tinggalkan Aku dengan Tuan muda saja.” ujar Kiara menatap Nan dan dokter Petter.
“Baik Nona.”
Nan jangan lakukan itu, Kau tidak boleh pergi.
Batin Khenzo, tapi dia tidak bisa berucap karena sedang bersandiwara.
“Dimana yang sakit.”
Chup
mencium Kening Khenzo.
Membuat jantung sang pria meloncat-loncat tidak karuan.
Kiara memeluk pria itu tanpa Was-was, Toh orang yang di Peluk tidak akan sadar karena dia sedang tidur.
“Aku mencintaimu Tuan.” ucap Kiara lantang.
Deg deg.
Pipi Bening Khenzo kian merona seperti Buah delima.
Mendengar ucapan cinta itu, diam-diam Ia menikmatinya.
“tidak apa-apa jika kau tidak mengenaliku lagi, Yang penting adalah, aku bisa melihatmu Setipa hari.” Ujar Kiara sambil mengeratkan pelukannya.
Khenzo menungging senyum, ingin sekali ia bangun dan membalas pelukan itu, tapi itu tidak mungkin. Khenzo dengan segudang misi di kepalanya harus menuntaskan keinginannya.
“Kau punya kekasih ya.” ujar Kiara sedikit menohok.
“Kata Bibi Mel, Kau keluar Negri untuk menemui Kekasihmu. ibu juga bilang begitu. Apa itu benar.” menatap wajah tampan itu, berharap Khenzo menggeleng, tapi pria itu hanya tidur dengan nyenyaknya.
Ya, aku sedang mencari kekasihku di luar Negri dan aku sudah menemukannya.
Batin Khenzo.
“Tuan Khenzo! Kalau kau punya Kekasih aku tidak masalah, Tapi kita tidak usah bercerai ya.” Ujar Kiara lirih.
Khenzo tertegun, jika saja dia tidak usah bersandiwara, dia akan mengusap pipi itu dan menghibur Istrinya.
“Aku tidak ingin kehilanganmu.”
Aku juga tidak ingin kau pergi Kiara.
*******
Di sisi Kota London.
Jordan membaringkan Istrinya di kamar.
Sekarang sudah tengah malam, Tapi pria itu masih sibuk mengerjakan sesuatu.
Nayra menembus malam yang sepi, sedangkan sang suami sedang terjaga di ruang kerjanya sendirian.
Membuka Matanya, Nayra menitikkan air mata.
Entah sampai kapan Jordan terus mendiamkannya dan tidak memperhatikannya seperti ini.
Dia bilang cinta padaku, tapi apa. Dia hanya bisa meninggalkanku setiap malam.
lalu tidak bisa membahagiakanku sedetik saja.
Jika hanya bisa menggores luka. kenapa kau tidak menceraikan aku saja!.
Air matanya bercucuran.
Nayra
Jordan