MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Animal Call



 


Di dalam kamar Kiara, Beberapa orang telah berkumpul.


Khenzo duduk di sofa sambil memandangi Seseorang bulat yang tidak ia ketahui siapa. sorot matanya sangat tajam mengintimidasi sang gadis yang sudah Gemetaran.


Di sampingnya, Sekertaris Nan ikut memperhatikan. Sama seperti Tuannya Sekertaris Nan juga tidak mengenali Si gendut di hadapannya.


“Nan, prosopagnosia yang ku derita memang tidak kambuh kan. kau juga tidak mengenali dia bukan.” Menunjuk Wajah Gendut Kiara yang sudah merasa di perlakukan tidak adil.


“Benar Tuan. Penyakit anda tidak kambuh, Saya sendiri tidak mengenali Orang yang mengaku sebagai Nona muda ini.".Jawab Sekertaris Nan Membenarkan perkataan tuan mudanya.


Kiara menatap sendu, tidak ada yang mempercayainya.


Gadis itu menoleh ke arah kedua pelayan Pak Min dan Bibi Mel.


keduanya hanya tertunduk.


Berapa kali pun mereka menjelaskan kepada Khenzo dan Sekertaris Nan bahwa gadis gendut itu memang Nona muda mereka,


kedua pria tampan itu tidak percaya. malah membungkam Pak Min dan Bibi Mel dengan balasan mengatakan;


"Omong kosong."


Kedua Pelayannya itu tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya tertunduk. menatap Nona muda mereka dengan tatapan bersalah dan seolah berkata;


"Maafkan kami Nona, Kami tidak bisa membantu anda."


Kiara menarik nafas Panjang. Menatap Tuan muda yang berstatus Suaminya.


“Baiklah jika Tuan tidak mengenali saja dalam wujud seperti ini. Tapi sesungguhnya saya memang Kiara.


Istri yang anda persunting dengan terpaksa. ini buktinya.” Mengangkat tangan kiri, memamerkan jari manisnya.


“ini adalah cincin pernikahan kita Tuan.”


Semua orang melongo, memandang Jemari gendut dan mungil di tangan Kiara.


Khenzo menarik Keningnya berkerut, mengalihkan pandangan sambil tersenyum kecut.


"Penipu."


Sekertaris Nan melangkah maju, memastikan apa yang dia lihatnya memanglah benar.


Ternyata benar.


Kosong. di dalam kelima jari-jari pendek, tembem, dan mungil itu tidak ada apa-apa Atau cincin pernikahan Yang di maksud gadis itu.


“Maaf. Di jemari Anda tidak ada apa-apa Nona.” ujar Sekertaris Nan jujur.


Kiara tersentak.


"Tidak mungkin."


Memandangi jemari imutnya. benar saja Tidak ada apa-apa kecuali jari-jari yang berisi dan kelihatan montok.


Aaaaah Aku lupa, ternyata aku mencopotnya Beberapa Minggu yang lalu. karena itu sudah tidak muat di jari manisku.


“Aaaa Aku, Aku melepasnya Cincinnya Tuan. sebentar akan aku ambilkan.” Ujar Kiara sambil bergerak menuju Laci Nakas.


“Cukup!.”


Suara Khenzo terdengar bergema.


Dia tidak ingin bermain-main lagi. yang pria itu butuhkan sekarang hanyalah melihat istrinya Kiara.


“Aku tidak peduli kau seorang pencuri atau penilu. kau terlihat jelek dan menyedihkan.


kau boleh mengambil apa saja yang kau inginkan. Tapi...


Kembalikan Kaira.” Ujar Khenzo lagi. dia berdalih Seperti menuduh orang gendut dihadapannya adalah orang dibalik hilangnya Kiara.


Masih menyeringai, Sepertinya beberapa hinaan tadi belum cukup untuk menyimpulkan siapa gadis itu di matanya.


“Kau! Sudah jelek, gendut, bau lagi.


Kau lebih mirip seperti panda.” Bentak Khenzo.


“Oh bukan! Panda terlalu imut untuk menjadi perumpamaan mu.


kau lebih cocok di sebut sebagai Sapi.” Bibir merah jambu Khenzo tersenyum kesetanan.


Mengepalkan tangan yang di penuhi lemak itu. menahan Diri agar Emosinya tidak meluap-luap Dan menagis.


“Aku tidak berbohong. Aku Kiara


Tuan...” Kiara bicara lagi dengan Nanda yang bergetar.


Gendut? Buruk Rupa?. Jelas-jelas Bibi Mel bilang Tuan Khenzo sangat menyukai Gadis dengan tubuh berisi. kenapa sekarang dia malah menghinaku..


Bibi Mel membohongiku.


semua orang di sini menghianatiku.


Aku sangat marah.


“Memang! Aku sangat jelek dan Gendut. Jadi, Biarkan aku pergi dari rumah ini Tuan. Aku tidak pantas berlama-lama d sini.” Uajr Kiara. Tetes demi tetes Air mata membasahi pipi.


Saat kata-kata Tak lagi bisa menjelaskan semuanya, Airmata ikut berbicara.


seolah menjelaskan kebenaran, cairan bening yang berjatuhan di pipi Kiara menjadi saksi kekecewaan yang ia rasakan kepada penghuni rumah itu


Berlari meninggalkan kamar. meski tubuh berat untuk di bawa. gadis malang itu tetap berlari terhuyung-huyung menuruni anak tangga.


"Khenzo sialan. Memangnya kenapa kalau aku gendut dan jelek." mengusap air mata yang berderai di wajahnya. mengusapnya dengan ujung daster yang lebar itu.


"Aku memang benar-benar Naiff Bisa-bisanya percaya dengan omongan Bibi Mel. Saat cantik saja dia tidak pernah melirikku. apalagi kalau sudah se buruk rupa ini. dia hanya akan menganggap aku Sapi piharaannya."


Kiara keluar dari rumah.


menjatuhkan bokongnya di bangku taman bermuatan dua orang, tapi bangku itu sangat sempit untuknya.


Hosss hosss.


—Hosss


hosss.


Aihhh Kalau sudah se Gendut ini. jangankan berlari berjalan saja sampai ngos-ngosan.


Tuhan aku Benji menjadi bulat dan gendut. Aku seperti panda saja.


Di dalam kamar Kiara. Bibi Mel menyerahkan Sebuah kotak merah kecil yang di gunakan sebagai penyimpanan cincin pernikahan Kiara di sana.


“Tuan. Nona Kiara tidak berbohong. Saya sendiri menjadi saksi dalam perkembangan tubuh Nona. dan Cincin ini, saya ikut membantu melepaskannya.” jelas Bibi Mel memberitahu yang sebenarnya.


“Ijinkan saya bicara Tuan.” Suara pak Min ikut terdengar.


“Emmm katakan.”


“Beberapa Minggu ini Nona memang bertambah subur, berat badannya terus bertambah setiap hari. karena tuan sendiri yang mengatakannya kepada saya. untuk memasak berbagai makanan lezat penuh lemak dan protein. agar membuat tubuh ramping nona muda lebih berisi.” Pak min ikut membenarkan Istrinya. untuk melindungi Sang Nona muda yang ditindas tuan muda mereka.


“Bod*h! kenapa kian sangat Gobl*k.


Apa kalian tidak bisa membedakan mana tubuh yang berisi dan mana yang mendekati Obesitas.


Kalian mau aku hukum mati gendut sepertinya.


Cepat resep Obat penurun badan.” ujar Khenzo dengan emosi yang berapi-api.


“Ba-baik tuan.” Ujar pasangan suami istri itu serentak. serentak gagapnya serentak gemetarnya.


melangkah beberapa kali ke belakang, lalu memutar jalan keluar dari kamar itu.


“Ha ha ha ha.”


Si bulat itu. dia benar-benar Kiara hahaha.


Khenzo tertawa puas. membayangkan orang yang gendut tadi memang benar Istrinya.


“Tuan Apanya yang lucu.” Ujar Sekertaris Nan ingin tahu.


“Bukan urusanmu.” jawab Khenzo ketus, bibirnya menyeringai Seram.


“Cepat cari Kiara, kalau kau tidak menemukannya.. Aku akan menendangmu ke Benua Antartika.


Biar kau jadi beruang kutub sekalian.”


Sekertaris Nan menatap Sendu.


Bulukuduknya tidak merinding alias biasa saja, bahkan dia masih bisa bercanda seperti ini pada Tuan mudanya;


“Tuan,, Saya tidak masalah menjadi beruang kutub. asalkan anda bersedia menjadi beruang madu.”


“Kamvret! Cari mati ya!.” bentak Khenzo.


melempari Sekertaris Nan dengan sepatu mengkilapnya.


Sial.


Batin Sekertaris Nan meradang.


Bersambung...