
Kiara mendekap perlahan. menyentuh Dada bidang Khenzo dengan telapak tangan selembut sutranya.
Menatap Suaminya dalam. jemari indahnya menari-nari di wajah Khenzo yang masih menyadarkan diri itu.
Hei, apa yang kau lakukan! Jangan menyentuh wajahku seperti itu. Itu menggelikan.
Batin Khenzo.
“Kau sangat Tampan. Bahkan saat tertidur.
Puasnya... memandangi anda tanpa harus malu-malu begini. rasanya sangat nikmat.” Gumam Kiara pelan.
Khenzo yang mendengar itu ingin sekali Tersenyum. tapi Dia bisa mengatasinya meski sebenarnya dia sudah tersenyum samar.
“Tuan. Kau mau punya anak berapa?" tanya Kiara kepada suami yang menurutnya sedang tertidur.
Khenzo bergerak. mengusap wajahnya dengan kelima jemarinya yang merenggang.
mengisyaratkan dia ingin memiliki Lima anak dengan Kiara.
“Satu atau Dua? Kita bisa mendiskusikan itu Tuan.” ujar Kiara. sambil memcolek Perut Khenzo di dalam selimut–lantas memasukkan tubuhnya didalam pelukan Khenzo yang nyaman.
Satu atau dua apanya. aku mau lima! Li-ma!!.
Hati kecil Khenzo bicara.
Di dalam selimut. tangan Kiara dengan nakalnya menerawang jauh di balik kaus polo Abu-abu milik Khenzo.
“Tuan, Ayo kiat lakukan.” Ujarnya tanpa malu.
memang, Kapan lagi dia bisa seleluasah ini. saat prianya bangun–menatap saja rasanya sangat enggan. menatap Khenzo, kiara merasa seperti menatap matahari. Indah tapi Silau.
Tiada henti-hentinya Tangan nakal itu. membuat Khenzo meringis Sedih tidak bisa berbuat apa-apa. Pria itu merasa ternoda oleh Istrinya sendiri. jangankan mengelak, menyentuh tangan Kiara saja dia sungguh tidak berani. membatalkan sandiwara nya. itu tidak akan ia lakukan.
Khenzo akan berjuang sampai batas Rangsangan.
Cup.
kiara menciumi Istrinya.
“Tuan, Semalam aku bermimpi Di Cium olehmu.” bisik Kiara ke telinga Khenzo.
Itu bukan mimpi. aku memang mencium mu semalaman.
Batin Khenzo.
“Tuan. Boleh tidak aku mencintaimu.”
Kiara mengeratkan pelukannya. membenamkan wajahnya di dada bidang Khenzo. lalu mengangkat kaki mungilnya–meletakkannya di atas kaki Khenzo. Kiara menindih kaki yang di perban itu.
“Arggghh.” Khenzo Bangun dari baringnya. menyingkirkan Tubuh Kiara yang menindihnya.
“Kaki ku Sakit.” teriaknya mengundang Nan dan petter masuk kedalam kamar.
*****
Terjerambah pilu, Diam menatap Luka.
seperti ada semacam belati menusuk jantungnya.
“Tuan apa yang terjadi dengan kaki anda.” ujar Kiara, matanya berkaca-kaca.
kaki manis itu terlihat Bengkak kebiruan. di luka bekas tancapan Bling itu terdapat benjolan keputih-putihan yang di duga kuat adalah Nanah luka.
sangat menyakitkan.
“Tuan, sepertinya kaki anda sudah parah, kita Harus ke rumah sakit secepatnya.” ujar Petter terlihat serius.
“Cepat Dokter. bawa Tuan Kerumah sakit.” ujar kiara begitu sedih.
Nan dan petter membawa tubuh itu kedam mobil. di ikuti oleh Kiara, hari pun sudah mulai pagi.
********
Menembus malam yang dingin. Nayra meringkuk di dalam selimutnya. wajah Manisnya terpejam nyaman. seperti bukan dirinya yang baru saja menangis dan mengumpati suaminya.
Chup.
Jordan mencium ubun-ubun sang istri. lalu berjalan menuju kamar mandi. Berendam air panas adalah rencananya saat ini.
tubuh gagahnya sangat lelah seharian bekerja.
Drtttt drtttt
Gawainya berderit pelan.
menandakan sebuah pesan masuk.
“Paman. aku di depan rumahmu.”
Aishh.
Jordan menghela nafas berat.
melihat siapa yang menghubunginya.
“mengganggu saja.”
Jordan yang baru saja berendam itu langsung memakai jubah mandi, karena ia masih ingin melanjutkan Mandi setelah ini.
Berjalan menuju Pintu utama. Jordan membuka pintu itu–Menemukan seorang Gadis seusia Istrinya.
“Ada apa kau kemari.”
“Hehe Paman apa kabar.” Rahel masuk dengan cara Menyelinap di bawah ketiak Jordan. Wanita itu duduk di Sova yang berada di ruang tamu.
“Kenapa kau kemari.” Jordan berkacak pinggang melihat Seorang yang tak begitu ia sukai itu.
“Ih, paman kenapa galak sekali. aku kemari ingin bersilaturahmi.” ujar Rahel dengan senyumnya yang menyeblkan. dan itu sukses membuat Jordan Kesal.
“Bibi Nayra Di Mana? aku membawakan oleh-oleh”.
“dia sedang tidur, Kau kalau ingin menginap Tidur di gudang saja.” ujar Khenzo Lalu menunjuk Sebuah ruangan.
Rahel tertawa gemas. Lalu masuk kedalam kamar yang di sebut gudang itu.
sebenarnya itu bukan gudang. itu adalah kamar tamu. karena Jordan kesal ia menggunakan kalimat itu untuk menyinggung Rahel. tapi sayang, Rahel tidak mengerti.
Rahel sering mengunjungi Jordan Dan Nayra. entah kenapa Jordan tidak bisa mengusir ponakan angkatnya itu.