MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Mertua.



“Dimana Kiara?” Khenzo berseru tajam–kala sang istri belum juga datang menemuinya, sedangkan janji yang mereka ikrarkan tadi siang–kiara hanya pulang sebentar untuk menyiapkan makanan untuk Khenzo.


Hati mulai panas, kala sang gadis tercinta tak kunjung menerima panggilan dari Nan bahkan dirinya.


“Bagaimana?”


“Belum ada jawaban tuan.” jawab Sekertaris Nan.


“Coba hubungi lewat Nomor telponku.” perintah Khenzo.


Nan pun mengangguk kepala–tapi nihil, Kiara tidak menjawab panggilan Khenzo.


Frustrasi berkolaborasi dengan Kekhawatiran, membuatnya menjadi suami paling aneh di rumah sakit itu.


meneriaki kedua orang yang selalu berada di sisinya.


“Cepat cari istriku sampai ketemu.” berteriak


“Kalian berdua begitu bodoh, kenapa membiarkan dia pergi sendiri tanpa pengawalan.” bentaknya membuat Petter ingin berteriak juga.


“Nona Kiara kan istri Anda! kenapa anda membiarkannya pergi sendiri dan Anda Berpura-pura sakit seperti orang bodoh. dan lebih parahnya anda menyalahkan kami tuan.” Nada tinggi itu hanya bisa bersuara di dalam hati petter.


Nan dan petter. kedua orang itu sudah tertunduk lesu.


sebentar, Sepertinya petter tidak.


dokter itu tersenyum sinis penuh arti. sepertinya dia tahu akan sesuatu.


Wajah Khenzo berubah Kawatir, Kiara Istrinya tidak pernah seperti ini. tidak bisa di hubungi sama sekali.


Hati mulai gelisah.


Melepas selang infus buatan itu dari tangannya.


untuk apa berpura-pura, jika sasaran tak mengenai Busurnya.


Khenzo berdiri tegap, seakan luka tancapan kaca itu tak berarti apa-apa.


memijaki Marmar keras dan dingin itu tanpa alas.


hanya ada beberapa balut perban yang menggantikan sepatunya–pria itu tampak khawatir.


**********


Di sebuah alun-alun Kota.


Dua perempuan yang terpaut usia Jauh itu sedang bercengkrama Ria.


membahas apa saja yang ingin mereka bicarakan.


seolah waktu dengan tenang berputar.


seperti masalah musnah diingatan.


Menampilkan kebahagiaan dan keharmonisan di genggaman Mertua dan membatu itu.


Sambil menikmati Secangkir koffi di ujung senja.


Zahrana menceritakan sesuatu informasi yang ia dapat dari petter.


bahwa Khenzo sedang Berpura-pura sakit parah.


hal itu tentu membuat Kiara marah. dia sudah panik setengah mati. Kawatir akan keadaan suaminya. ternyata itu hanya tipuan belaka. tentu saja dadanya terbakar amarah.


menikmati secangkir koffi di senja yang mulai teduh.


gelap sebentar lagi menyapa Bentala–tapi mereka masih asik bercanda ria.


“Isssss Ngilu.” Zahrana mendesis ngeri karena sesuatu mengganggu indra pendengarannya.


Krekkk krekkk krekkk.


Sedangkan di sebelahnya, Kiara sedang mengunyah bongkahan Es batu yang terdapat di cap koffi miliknya.


Tuan Khenzo sialan. aku akan mengunyahmu sampai habis, aku tidak akan menyisakan sedikit saja. bahkan tulang belulang mu sekali pun.


Kiara teramat puas mendengar bunyi krekkk krekkk dari mukutnya–ia berfantasi itu adalah tulang_belulang Suaminya.


Melihat pemandangan itu, Zahrana tersenyum samar.


“Gigi mu kuat juga.”


Hah,


Kiara terbangun dalam lamunannya.


Dia tidak sadar karena telah menggigit es batu keras yang ada di Cap pelastik minumannya.


“Hehe iya mih, maaf sudah membuat mami ngilu dengan suara Krekkk krekkk yang tadi.”


Ujarnya dengan lugu.


Zahrana tersenyum Simpul, beginilah Menantunya. sangat polos.


“Tidak. Mami ngilu bukan karena bunyi krekkk krekkk yang Kamu timbulkan. sebenarnya mami suka Suara itu.” ujarnya sedikit menghibur.


“Oh ya. apa seperti ini Mih.”


Krekkk krekkk krekkk.


Kiara mengigit es batu yang keras itu sampai hancur berkeping-keping di mulutnya–Tidak lupa ia menebarkan senyum kebanggaan miliknya itu.


Zahrana tertawa gemas. dari tadi ia tidak memiliki alasan untuk bersedih di samping menantunya–meski Kiara sangat kesal mendengar semua pengakuan mertuanya mengenai suaminya itu.


hentikan Kiara, nanti gigi mu patah.” ujar Zahrana sambil tertawa.


Biarin, Aku akan menggigit Tulang jemari tuan Khenzo.


beraninya menipuku seperti itu.


Batinnya teramat kesal.


Memang, Kiara sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa kecurangan dan kejanggalan yang di alaminya selama di rumah sakit.


Setelah Zahrana mengatakan yang sebenarnya Kiara baru mengerti, Ternyata Suaminya itu telah menipunya dengan berpura-pura sakit.


Sekarang hatinya sudah kesal. Tidak ada lagi makan malam yang tersisihkan. semuanya sudah habis ia lahab bersama Zahrana.


********


“Cari istriku secepatnya.” teriak Khenzo di koridor Rumah sakit–tidak memperdulikan penampilannya yang acak-acakan.


tidak punya sandal. baju pasien masih melekat di di tubuhnya.


Khenzo tidak menghiraukan pandangan orang-orang di sekelilingnya.


ia hanya mementingkan Kiara–keberadaan gadisnya itu.


“Kenapa kalian hanya diam saja. cepat cari Kiara ku.”


Terus saja berteriak sampai seorang nenek-nenek ber-ambut pendek menegurnya.


“Hei anak muda. cepat bawa orang gila ini Kerumah sakit jiwa.” saran Nenek rambut pendek itu.


Nan melirik Tajam. seolah marah Tuan mudanya di Katai seperti itu.


“Apa? pria itu gila? sayang sekali ya. padahal dia sangat tampan.” balas seorang Ibu muda yang sedang Duduk di samping Nenek yang memberi pendapat tadi.


“Orang jaman sekarang memang aneh. sudah tahu gila kenapa tidak bawa langsung ke rumah sakit jiwa. benar-benar merepotkan.” seorang kakek botak yang di duga adalah suami nenek berambut pendek itu juga berkomentar.


“Siapa yang kalian sebut gila.” Nan mulai tidak sabar kala tuan mudanya di Katai seperti itu.


Petter mulai curiga– sepertinya Nan akan berbuat sesuatu.


Pranggg.


benar saja, bangku-bangku di samping beberapa orang yang mengomentari Khenzo sebagai seorang gila sudah rontok karena tendangan kaki Nan.


pria tangguh itu mulai merapikan kemejanya.


“Kakian biacara apa tadi. Gila?


Kalian yang gila. sudah bau tanah masih suka bergosip ria.


jangan mengomentari hidup orang jika rambut Anda saja belum benar.” Nan menunjuk kepala botak Kakek itu.


“Nan.” seru Khenzo dengan suara judesnya.


“I-ya tuan.”


Bammm. meninju lengan Sekertaris itu.


“Dasar bodoh. kenapa kau merusak fasilitas untuk Umum. aku tidak pernah mengajarimu seperti itu. apa kau sudah merasa jago.” tiba-tiba Khenzo marah.


Di sisi lain, petter mulai kewalahan. pasti urusan akan terasa panjang jika Khenzo mulai marah-marah lagi.


sepertinya dia harus berbuat sesuatu.


Melihat Khenzo yang ingin memukul Nan lagi. petter akhirnya angkat suara.


“Tuan. saya sudah meneukan nona kiara.”


Khenzo masih tetap meneruskan pukulan lembutnya di pipi Nan. sambil tersenyum Khenzo berkata.


“Kerja bagus.”


Merangkul Sekertaris Nan.


“Urus orang untuk memperbaiki itu nanti.” menunjuk bangku yang di tidak nan.


Lalu keduanya saling merangkul menuju Petter.


mereka memang sudah curiga kepada petter. dengan cara seperti ini mereka akan menemukan Kiara dengan cepat.


******


Masih di suasana Alun-alun yang Damai.


Khenzo berjalan seperti gembel menuju Istrinya.


kali ini dia memakai sandal jepit yang di hadiahkan Nan untuknya, mereka membelinya di pinggir jalan.


Menarik lengan kiara yang duduk membelakanginya dengan seorang wanita yang tidak Khenzo tahun itu siapa. sepertinya dia tahu tapi dia tidak memperdulikannya.


Menarik Sang gadis kepukannya.


meraup ciuman mesra yang menggetarkan cinta.


selaksa rindu seperti nyata terobati dengan kehadirannya.


tidak mau ketinggalan.


Zahrana mengabadikan momen langkah di hadapannya. untuk ia Jadikan bahan argumen kepada Suaminya di rumah nanti.