
“Suapi aku.”
Kiara yang mengupas langsung memasukkan Sepotong ruas jeruk kedalam mulut Khenzo.
Happ.
yammy...........
Eh.
Wajah Khenzo berubah Kecut–Jeruk yang di kupas Kiara membuatnya ingin segera memuntahkan Makanan di mulutnya.
tapi Khenzo tidak melakukan itu dia masih bisa menjaga perasaan Istrinya.
“Apa itu enak Tuan?”
Tanya Kiara dengan senyum indahnya.
“Tentu saja enak, Rasanya manis.” berbohong, mungkin saat ini berbohong adalah hal yang baik di lakukan.
“Kenapa kau tidak membiarkan Mereka berdua mencicipinya.” ujar Khenzo, menatap Nan dan petter dengan ekor matanya.
Kiara menatap kedua anak buah itu, Mereka berdua berbinar, Apalagi petter.
Dia tidak mungkin kan suka buah-buahan sampai air liurnya mau menetes begitu, Pikir Kiara.
Jika saja kedua pria itu menginginkan buah seperti itu, mereka bisa membelinya kapan saja, tapi melihat Khenzo makan membuat air liur mereka tertantang.
di sisi lain, Khenzo dengan jahilnya menikmati buahnya dengan wajah Enak, Wajah enak?
entahlah pokoknya di buat-buat agar terlihat enak.
“Memangnya mereka Mau?” tanya Kiara pada Suaminya.
“Mau Nona.” ujar Petter Langsung.
“Iya Nona, Mau....” di susul oleh suara Nan.
Kiara meletakkan Buah jeruk yang masih tinggal separoh itu, memilih Buah di atas nampan dengan hati-hati.
Sialan, kenapa Kiara memilih Jeruk untuk berengsek berdua itu. bagaimana kalau hasilnya manis nanti. tidak bisa!.
“Berikan sisa jeruk yang itu.” ujar Khenzo.
Kiara menatap bingung, sampai tangannya menyerahkan sisa buah jeruk.
Mungkin Tuan Khenzo suka.
pikirnya.
“Sini kalian berdua.” Khenzo memerintah, sambil mengupas Buah Itu.
menyuapi kedua orang-orangnya.
Happ.
nyam nyam.
“Nagaimana rasanya.” wajah Khenzo berubah Serius.
Asam. jeruknya sangat asam.
Batin Nan.
Tuan anda sengaja kan.
Grutu Peter di dalam hatinya.
Khenzo menatap tajam, mengintimidasi Kedua pria itu.
“Manis, Rasanya manis.” Ujar Nan dan petter.
“Enak?” tambah Khenzo.
“Enak tuan.”
“Benar tuan, rasanya manis.”
Kiara langsung ceria, Niat berbagi mulai tersalurkan lagi.
“Apa Kalain mau tambah.”
Kedua pria itu saling berpandangan.
Seraya menggeleng perlahan.
Nan dan petter menerimanya, mereka tidak ingin menolak, meski ini sangat asam, Mereka akan menghabiskannya dengan wajah suka.
“Tuan, apa anda masih menginginkannya?”
“Boleh, Kupas yang merah untukku.”
“Baik.” Kiara mengupas kulit apel merah dengan tipis. membentuk ruas untuk di makan suaminya.
menyuapi Khenzo dengan tangannya sendiri.
pria itu amat sangat bahagia.
Sisi lain, Kedua pria itu menderita, di siksa rasa Asam yang tajam.
Tapi raut wajah mereka masih bisa di pertahankan bahagia. meski hati itu sudah merana.
Nona! Ini Jeruk beli dimana sih.
kenapa rasanya sangat asam.
batin Nan, pria itu semakin tak kuasa. jangankan menghabiskan satu Buah, satu ruas saja dia tidak akan bersedia makan. tapi karena sudah seperti ini, jeruk di tangannya tinggal beberapa ruas lagi.
Menoleh kearah petter dan Nan, Kiara terlihat ceria.
“Apa kalian suka, Aku membelinya di Tepi jalanan tadi.” ujar kiara.
“ Aku kasian sama yang penjual. dia sudah tua dan aku memborong semua jeruknya.”
Apa Nona? Memborong, Lalu, siapa yang akan menghabiskan semua itu.
Batin letter curiga.
“Tapi semuanya sudah habis, Aku membaginya kepada Anak-anak di koridor rumah sakit, dan membagikannya kepada siapa yang mau tadi.”
Nan dan Peter menghela nafas lega, Mereka tidak akan menderita lagi setelah ini.
Khenzo mengusap pucuk kepala Istrinya,
Bangga, Mungkin Seperti itu.
“Lihat Nan, Nona muda kalian sangat dermawan kan.” arti tatapan Songong Khenzo, memamerkan istri baiknya.
Di ruangan pasien Itu Mereka bersendau gurau, mengukir tawa di atas bahagia.
Kiara juga amat sangat gembira, melihat suaminya yang di vonis sekarat itu mulai aktif bicara.
Beberapa menit berlalu,
“Tuan, Aku Akan berkemas dulu.”
“Kau mau kemana?”
“Aku ingin pulang, dan memasak untukmu.”
“Ooo.” bibir Khenzo membentuk huruf O.
Setelah beberapa saat, Kiara berpamitan kepada suaminya.
Ruangan itu hening tanpa Kiara, hanya ada sorot mata tajam dari Khenzo.
Berbaring, pria itu seprti akan berbuat sesuatu.
“Berikan gawainya.” ujar Khenzo.
Nan menyerahkan.
“Ini Tuan.”
“Ingat, Jika Kiara datang nanti, Berpura-pura lah kalau aku sakit lagi.” ujarnya memberi pendapatnya.
Tuan, Apa anda tidak keterlaluan!?
“Bukankah Nona sudah tahu anda tidak kenapa-napa? bagaimana kalau Nona muda curiga nanti.” Nan memperingati Tuan mudanya.
“Kau Bosnya atau Akau.” Bentak Khenzo.
”Maaf Tuan, Tuan adalah Bosnya.”
"Sudah Nan, biarkan saja Dia berbuat sesukanya, dia kan Tuannya. nanti kalau Nona Kiara marah kita nikmati dan menonton saja.” bisik petter kepada Nan.
dan sialnya Khenzo mendengar–di sambut tatapan mengkilat dari Tuan muda itu.