MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Pria bersurai pirang



Degg


Dasar Bibi Mel pembohong


Mana ada Dua ranjang disini.


Aku harus cepat-cepat Kabur sebelum tuan Khenzo menyadari keberadaan ku.


Berjalan terjinjit menuju pintu kamar.


Kiara bergetar, Tangan sehalus sutra itu memegang gagang pintu.


Bibi Mel, Sialan kamu.


Kenapa mengunciku dari luar.


Awas kamu ya.


“Sabar Kiara, Orang sabar di sayang Allah.”


mengelus-elus Dada, Kiara mencoba tetap tenang.


agar tidak menimbulkan suara dan membuat Khenzo bangun.


Berjalan perlahan ke arah Sova besar. Kiara menjatuhkan dirinya.


Kalau tadi dirinya sangat merasa kantuk, sekarang netra kecoklatan itu sangat Liar—memandangi sang suami di atas ranjang.


Glegg


menelan Saliva.


Kiara memandang lekat Pria tampan itu.


Dia sangat Tampan, Bahkan saat tertidur.


Aku ingin Mencubit Pipinya he he he.


“Kiara Reirein, apa yang kau pikirkan. Lihatlah Dirinya Sudah punya istri sebelumnya, Sudah punya anak. meski dia kaya raya–Dia bukanlah tipe kamu.


meski kamu miskin Segalanya dan tidak punya apa-apa. Kamu harus mencintai pria segelan sama sepertimu.


ya harus begitu!.”


Kiara bergumam panjang.


Tapi aku sangat ingin menyentuh pipinya. Dia sangat tampan.


batinnya lagi.


"Khenzo itu seperti Busa Shampoo. lembut, tapi busanya akan hilang saat menyentuh air.


Dia Seperti gulali Manis tapi Teksturnya akan lenyap saat berpadu dengan lidah.


Dia begitu Indah. Tapi keindahannya hanyalah kesemuan yang takkan pernah aku nikmati."


Kiara mendekati Khenzo, Hanya berjarak Lima Senti, wajah itu sangat dekat.


Menundukkan kepala mengamati sang suami.


Uwahhhhhhh Kulitnya sangat bagus.


Memaparkan pandangan.


“Tapi sayang, Dia pernah punya istri.” Kiara mencubit pipi itu dengan gemesnya.


Senyum samar sekilas melintas di bibir merah jambu milik Khenzo.


Apa yang ku lakukan. he tangan kondisikan dirimu.


kenapa kau mencubitnya, bagaiman kalau dia bangun nanti.


batin Kiara.


Benar saja, Khenzo bangun dan menagkap tangan Kiara, Mengambrukkannya di ranjang sambil memeluknya erat.


Khenzo membenamkan Wajahnya di dada gadis manis itu.


Degg deg.


Jantung yang berdetak kencang itu serasa ingin keluar dari tempat persembunyiannya.


beberapa kali menelan Saliva. Kiara tidak habis Pikir kenapa Khenzo memperlakukannya begini.


Melepaskan sekuat tenaga, Kiara berlari menghindari Khenzo yang sepertinya sedang mengigau.


Seram sekali, Bulukuduk ku merinding semuanya.


Aku harus keluar.


Dimana dia meletakkan kunci.


Kiara mencari-cari kunci di laci nakas.dan beruntung ia mendapatkannya.


Gadis itu terburu-buru menghampiri Pintu kamar dan meloloskan diri.


Khenzo Membuka mata, Bangun dari baringnya sambil menyeringai.


“Pernah punya istri!?. Dia bicara Seolah aku sedang menghianatinya.”


Bibir tipis itu tersenyum simpul.


__________


Hoaamm. Semalam aku tidak bisa tidur. Dari kamar Khenzo, aku langsung berlari ke kamar Falerian.


Dan aku tertidur walaupun Itu sudah tengah malam.


Sekarang waktunya bangun.


Kiara membentangkan tangannya, Merasakan aura-aura baik merasuki dirinya.


“Selamat pagi Nona.”


Sapa seorang pelayan bernama Nila yang bertugas membantu Kiara merawat Falerian.


“Pagi Nila, Di mana Falerian Apa dia sudah mandi?.”


“Sudah Nona, Tuan kecil di bawah oleh Tuan Muda bersama Sekertaris Nan.”


“Kemana? Kenapa aku tidak tahu!?.”


“Karena Nona tertidur sangat lelap. tuan muda bilang jangan membangunkan Nona.” ucap pelayan itu menerangkan.


“Apa masih pagi?!.”


“Sekarang sudah siang Nona. Nona silahkan mandi dan Makan!.”


“ Baik aku akan segera mandi.”


Pelayang itu undur diri saat Kiara menyelesaikan kalimat terakhirnya.


Aku merasa Dia menyembunyikan sesuatu dariku.


Setelah mandi di kamarnya, Kiara mengganti pakaiannya dengan Baju santai. Karena Khenzo juga tidak ada di rumah, dia memutuskan tampil seadanya.


menggulung rambut panjang itu asal-asalan.


Tampak Natural tanpa sedikitpun make-up di wajahnya.


Berjalan menuju ruang makan, Pak Min sedang menyiapkan Makanan untuknya.


“Selamat siang Nona.”


pak Min menyapa saat melihat Kiara menghampiri meja makan.


“Siang Pak Min.”


Kiara menarik kursi, duduk manis. netra kecoklatan itu berbinar saat melihat makanan di hadapan.


Menyuapi mulutnya yang mungil.


mengunyah dengan gembira. seperti yang kita tahu Kiara teramat mencintai Makanan.


“Tuan Khenzo kemana Pak!.” Seru Kiara, Ia penasaran mendengar Khenzo pergi membawa Falerian.


“Tuan membawa Tuan kecil Jalan-jalan Nona.”


“Jalan-jalan? Bibi Mel Ikut.??.”


“Iya Nona.”


“Kenapa aku tidak di Ajak.”


Karena Tuan muda sedang menemui seseorang. Dan Nona tidak boleh tahu, Ini lah yang di sebut rahasia.


“Karena tuan Tidak ingin Merepotkan Anda Nona.”


“Merepotkan bagaimana. Jelas-jelas mereka jalan-jalan kan. bilang saja dia tidak ingin melihatku Bahagia.” Kiara cemberut. Kemudian menyuapi mulutnya dengan Tumpukan Nasi yang sangat banyak.


Pak Min hanya tersenyum, melihat tubuh ramping dan terawat itu tapi makannya banyak sekali.


Pantas saja tuan muda takut bangkrut..


Ternyata seperti Ini He he he.


Batin pak Min.


“Pak Min, Kemari dan duduklah denganku.” Kiara menunjuk kursi di sampingnya.


“Tidak Usah Nona, Saya di Sini saja.”


“Kenapa. Kemarilah dan duduk denganku. aku memiliki banyak cerita untukmu.”


Kiara menatap pak Min sambil tersenyum.


Pak Min tidak berkehendak, kalau dirinya nekat seperti itu, Khenzo akan mengeroyoknya nanti.


“Saya tidak Boleh Nona. Tuan Muda tidak memperkenankan...”


Hufff


Tuan muda lagi.


Batin Kiara kesal.


.


.


.


Di sebuah Villa, Khenzo duduk dengan seorang pria bersurai Pirang.


Adik tiri Rayhan Suami dari kembaran Khenzo.


Cihh


Khenzo menatap Sinis ke arah laki-laki perkasa yang membuat sahabatnya menderita.


Sang Pria yang ditatap Menahan emosi. Sejak percakapan mereka dari tadi. Khenzo tidak mau jujur dan bicara kepastian tentang keberadaan Wanitanya.


“Aku tidak akan bertanya Lagi. Jika kau mau mengatakan Dimana keberadaannya aku akan sangat senang sekali. Tapi jika kau tidak bersedia, tidak apa!


Aku bisa mencarinya sendiri.”


Lelaki bernama Brian itu menarik kursi, dengan gamblang-nya mengempaskan kursinya menimbulkan kesan kekesalan pada lawan bicaranya.


“He he. Kau menghubungi Sekertaris ku, kau yang meminta ingin bertemu denganku. kenapa kau yang kecewa dan kesal begini.”


Ucap Khenzo, bibirnya menyeringai, penuh dengan senyum penistaan.


Brian tetap melangkahkan kakinya, Tampa memedulikan Khenzo.


“Bukankah kau ingin mengetahui keberadaannya.” ujar Khenzo.


Memutar badan, duduk dengan tenang dan sopan.


“Ya, Khenzo tolong. aku mohon padamu.”


saat ini membaik-baiki Khenzo adalah


hal yang paling benar menurut Brian.


“Kau!, Sepenting apa Dia bagimu.” Khenzo menunjukkan Wajah wanita berwajah giok yang ada di layar Gawainya.


Wajah Manis Bryan berseri, Kala melihat wanita cantiknya tersenyum Indah di Galeri sana.


Pujaan hati yang pernah terpaksa ia tinggalkan demi keselamatan sang empu.


Mata yang agak sipit itu terlihat berkaca-kaca.


Sudah hampir sepuluh bulan ia tidak pernah lagi bersua.


“Dimana Dia, Dimana Wanitaku!.


beritahu aku Khenzo, Aku akan menjemputnya sekarang juga.”


Netra Sehijau Pegunungan itu mulai basah.


bibir Berisi Brian terlihat senyum bahagia.


merasa rindu yang menerpa akan segera sirna.


Khenzo mengembalikan Gawainya kepada Sekertaris Nan yang berdiri tidak jauh darinya.


Pria itu tersenyum penuh arti.


seperti mengintimidasi pria yang ada di hadapannya.


Bersambung....