
“Brian.”
Teriak Lily menggema berseru Nama pria yang di cintainya.
menyapu wajah bersimbah darah itu.
Wajahnya di penuhi air mata.
Lily sangat tidak terima dengan perlakuan Rahel.
mengambil kembali pistol dari genggaman Brian.
Melempar tembakan Brutal ke arah tubuh wanita itu.
Beberapa jam kemudian.
Rumah Berpagar Hitam itu di batasi dengan garis polisi.
para petugas mengevakuasi para korban itu menuju Rumah sakit terdekat.
Tangis Falerian terdengar nyaring, Bayi yang tidak tahu apa-apa itu seolah merana melihat keadaan ayahnya.
Jordan dan Nayra sampai di lokasi kejadian. mereka di hubungi pihak berwajib karena kontak mereka ada di ponsel Rahel.
dengan artian mereka adalah kerabat Rahel di negara itu.
Rahel dan Brian yang kritis di bawa ke Rumah sakit, sedangkan Lily di bawa ke pihak yang berwajib untuk di mintai keterangan mengenai kejadian itu.
Falerian kecil di serahkan kepada Nayra. mungkin hanya wanita itu yang bisa merawat Bayi itu sekarang.
Membawanya pulang dengan perasaan iba. Nayra tentu akan merawat Bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang.
*********
Di sebuah rumah sakit yang berbeda dan negara yang tak sama.
seorang pria itu tertawa puas karena sudah berhasil menjahili Gadis bernama Kiara itu.
“Hahahah, Kalian merekamnya kan tadi. coba perlihatkan padaku.” ujar Khenzo antusias.
sedari tadi, dirinya hanya bisa mengamati suara amatir Kiara yang menangis meraung kesedihan karena keadaannya. tidak dapat melihat mimik wajah Istri saat menghawatirkan dirinya.
Tuan, anda sangat keterlaluan! Kasian Nona sampai sangat Kawatir begitu.
“Ini tuan.” Nan menyerahkan Gawai yang ia gunakan merekam di saku kemejanya tadi pagi.
“Ya ampun! istriku sampai menangis seperti itu. hahah tentu saja dia sangat sedih, karena dia sangat mencintaiku.” ujarnya pamer.
Dokter Petter melirik sekilas, membuat Khenzo menjitak kepalanya.
“ Hei, apa-apaan Matamu itu. Kalian tidak boleh mengamati istriku, dia itu sangat cantik, bagaimana kalau kalain sampai tertarik padanya.” ujar Khenzo marah.
“Tuan saya hanya penasaran? bagaimana bisa seorang gadis menangis sangat cantik. jelas-jelas Andini kalau mengisi seperti badut. mata dan hidungnya merah dan membengkak.” Gumam Petter pelan, membandingkan Kiara dengan kekasihnya.
Khenzo melotot ke arah dokter pribadinya. jika Nan saja tidak mendengar gumaman itu, tapi dia mendengarnya jelas–karena pendengaran ultrasonic miliknya.
Aku Mulai penasaran secantik apa Nona Kiara saat menangis. Tadi Aku hanya sibuk menunduk, jadi tidak bisa memperhatikan Nona menangis.
Batin Sekertaris Nan mulai ingin tahu.
Tidak lama setelah itu, suara pintu mulai berderit.
Khenzo langsung melempar gawai ke arah Nan– Berbaring seketika dan memejamkan mata.
Kiara Muncul dari arah pintu, sambil membawa buah di atas nampan.
“Eh. Tuan belum sadarkan diri juga ya.” jelasnya sedikit kecewa.
Nan dan petter menggeleng seketika.
“Nona Bawa apa?” tanya Petter
Sontak membuat Khenzo sedikit mengintip.
“Aku membawa Buah untuk Tuan Khenzo, karena mengira Tuan Khenzo sudah sadarkan diri.” ujar Kiara lesuh.
“Tapi karena tuan Khenzo belum siuman. aku akan membagikan buah ini untuk kalian berdua saja.” menyerahkan nampan kepada Nan dan petter.
kedua pria itu tersenyum gembira menerimanya.
Tiba-tiba.
Khenzo menggeliat, mengeluar kan suara erangan yang membuat Sekertaris Nan dan petter Mengernyit curiga.
“Aighhhh, arghhhh.”
Kiara menatap suaminya. Pria itu mengerang Sempurna, membuat kesan kesakitan di seluruh tubuhnya.
“Tuan, anda siuman.” Kiara menghampiri sang suami dengan selaksa suka cita terpancar di wajahnya.
“Anda sudah bangun, Apa ada yang sakit?”
“Di sini. Sangat menyakitkan.” menunjuk Dadanya.
Kiara menekan bagian yang sakit itu. membuat Khenzo Tersenyum di dalam hatinya.
“ssssstt disini juga sakit.” meraba pipi mulusnya.
Kiara langsung menangkap pipi itu dan mengelusnya.
Tuan! Sepertinya yang sakit adalah kaki anda. kenapa dada dan wajah anda ikut sakit juga.
Kiara mulai curiga.
melihat tatapan tak percaya dari Istrinya membuat Khenzo berulah.
“Eum kau membawa apa tadi?” ujar Khenzo tak mau lagi berbasa basi.
“Saya membawa buah untuk anda.”
“Cepat kupas untuk ku.”
“Baik.” merampas Buah dari tangan kedua pria itu dengan wajah juteknya.
seperti bukan dirinya tadi yang berbagi buah dengan muka sedihnya.
________
Hai Readers.
kita berjumpa lagi.
hari ini hanya up satu saja ya.
selamat membaca.
dan selamat berjumpa di chapter selanjutnya.
love ❤️ READERS 🥰😍💕💕