MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Aku menyukai mu



Menatap pantulan wajah di cermin. selagi menyisir rambutnya, Kiara cemberut tak karuan selama di depan kaca itu.


Apa yang membuatnya sangat kesal? sepertinya memang telah terjadi sesuatu yang mengakibatkan resah hati pada gadis itu.


Aku kenapa sih, Melihat Tuan Khenzo tidak memakanku aku jadi sedikit kecewa.


apa dia tidak tertarik padaku ya.


Gumamnya sambil menyisir rambut lurusnya.


Kiara menatap Jam pada layar Gawainya, waktu menunjukkan Pukul Sebelas malam.


waktu yang sudah larut untuk terus terjaga.


Masih menunggu Khenzo, Sesekali Kiara menatap ke ambang pintu kamar, berharap sang suami ia temui di ambang pintu itu.


Tapi tidak, Khenzo tidak menemuinya meski malam sudah selarut ini. Kiara memutuskan untuk tidur, menemui Khenzo di dalam mimpi adalah pilihan saat prianya sibuk di dunia nyata.


Di dalam ruang kerja.


Khenzo duduk di sebuah Sova sambil melipat kaki dan menggoyang-goyangkannya.


terlihat sekali dia sudah mulai tidak betah berlama-lama di tempat itu.


Di hadapannya, terpampang layar komputer yang terkoneksi dengan seorang dokter terkenal dari Singapura.


jika bukan karena Mengenai kesehatan Brian. Khenzo pasti sudah lama menemui istrinya di dalam kamar sana.


“Aku sudah menyetujuinya.”


berbicara kepada seorang dokter yang melakukan Video call bersamanya.


“Lakukanlah yang terbaik untuk brian.” jelas Khenzo mengatakan bahwa dirinya menyetujui jika sahabatnya harus di operasi di bagian otak.


Setelah semua izin itu terkontaminasi, sambungan video call itu di putuskan.


Khenzo terlihat murung memikirkan keadaan Sahabatnya.


Disana Sekertaris Nan menyemangati Tuan mudanya. ia berkata bahwa semua akan baik-baik saja.


“Tuan, anda tidak usah cemas. semua pasti akan baik-baik saja.”


“Aku harap juga begitu.


Pulanglah, aku pasti lelah Nan.”


“Baik, selamat malam tuan.”


.


.


.


Di dalam kamarnya dan Kiara, Khenzo melepaskan jas perlahan. mengedarkan pandangan ke setiap ruangan.


bibirnya tersenyum samar melihat Kiara yang tertidur pulas di balik selimut putih.


Khenzo menghempaskan tubuhnya, ambruk di samping gadis tercintanya.


menatap Kiara bag permata yang membuatnya takjub, seolah tak berdaya bila harus memalingkan pandangannya.


Tangan Khenzo mulai bergerak, menyusuri setiap sudut wajah manis Kiara. menyesap satu kecupan bibir yang tak berizin.


Khenzo begitu Bebas, karena kapan lagi ia bisa seleluasah ini kepada istrinya.


Kiara yang tidur seakan tak terusik oleh setiap tindakan Khenzo, bahkan Sekarang gadis itu mulai mengigau sebuah nama yang membuat Khenzo semakin gemas kepada gadisnya.


“Aaa Tuan Khenzo.” ucap lembut Kiara dalam tidurnya. saat tangan Khenzo mulai nakal menggerayangi tubuhnya.


Khenzo tersenyum, Saat tahu bahkan di mimpi Istrinya dialah yang bertahta.


Khenzo lagi-lagi tergelak saat Kiara menyebut indah namanya.


*******


Pagi hari begitu cerah, sinar mentari samar-samar menampakkan sinarnya, rasanya begitu hangat. menembus permukaan kulit yang membuat para penduduk bumi bersemangat di pagi hari.


di dalam kamar, Kiara duduk di atas Sova sambil termenung dalam lamunannya.


sesekali menyeka wajah yang terlihat memerah itu.


Segitu berharapnya kah diriku ini. sampai2 bermimpi Seperti itu. Pikirnya, masih terhanyut di dalam kejadian tadi malam yang dia anggap sebagai mimpi.


Pintu kamar mandi terbuka, Khenzo keluar sambil memegang handuk kecil di tangannya.


Memerhatikan istri kecilnya yang sedari tadi memandangnya.


glegg.


Suara yang dapat Khenzo dengar dari tenggorokan kiara, Ya gadis itu memang beberapa kali menelan Salivanya.


“Sudah puas melihatnya. kamu begitu terpesona dengan tubuhku sampai-sampai Air liurmu mau menetes Tuh.” ujar Khenzo, menggoda Kiara, dan gadis itu mulai memerah seperti buah delima.


“Tidak Tuan, saya hanya.” ujar Kiara, kata-katanya terpotong oleh Khenzo.


“Bukan begitu tuan.”


“Lalu apa? kau mau bilang kalau kau tidak tertarik padaku.”


“Bukan,” Aishhhh, Kenapa tuan Khenzo seribet ini sih.


“Aku Tertarik dengan anda Tuan.” ucap Kiara dengan terbata.


Khenzo menyeringai, mendekati Kiara untuk jarak yang lumayan dekat.


“Apa kau menyukai ku.”


“Ha?” Kiara mendongak saat Khenzo sudah terlalu dekat dengannya.


“Kenapa tidak di jawab.” Khenzo mencengkram bahu Kiara dengan kuat.


Apa! Apa yang harus ku jawab tuan. aku bukan hanya menyukai anda tapi juga mencintai anda.


Kiara menatap Khenzo dengan netra seindah senjanya.


mengangguk perlahan.


“Aku menyukai anda tuan.”


“Apa? Aku tidak bisa mendengarnya. katakan dengan jelas.”


“Aku menyukai anda.”


“Kurang jelas.”


“Saya menyukai Anda.”


“Katakan sekali lagi.”


“Saya menyukai anda tuan.”


“Apa katamu? Tuan! jangan panggil aku begitu.” ujar Khenzo kesal.


“Lalu, aku harus memanggil anda Apa?”


“Terserah.”


“Yang mulia?”


Khenzo melotot, tidak suka dengan panggilan yang baru saja di ajukan oleh Kiara.


“Ah maaf, Saya tidak tahu harus memanggil anda apa.” ucap Kiara dengan suara kecil dan Terdengar manja.


Khenzo tergelak sedikit, membalikkan tubuh Kiara menghadap kaca besar, lalu memeluk istrinya dari belakang.


“Kau bingung mau memanggilku apa! Bukankah kau sudah memanggilku dengan sebutan sayang waktu itu.”


Zhebbb.


Jantung Kiara seakan tertancap ribuan anak panah. rasanya sangat menggelikan bila mengingat sepenggal perlakuan memulangkan itu.


Kiara memejamkan matanya, tak kuasa menahan malu, apalagi sekarang Khenzo berada didekatnya.


Khenzo yang menyaksikan raut wajah itu terlihat sangat gembira. entah kenapa Khenzo selalu suka melihat wajah malu Istrinya.


“Kenapa kau diam.”


“Maaf Tuan.”


“Panggil aku sayang.”


“Sa... Sayang.” jawab Kiara gugup.


Khenzo tertawa puas, Ia melepaskan pelukannya pada Kiara. lalu duduk diatas Sova.


“Keringkan rambut ku.”


“Baik tuan.”


“kiara! Kau mau aku mencincang tubuh mu.” ujar Khenzo, kesal dengan sebutan lama Kiara.


“Panggil aku sayang.”


“Maaf. Sayang.”


“Sepertinya kau harus di hukum agar tidak mudah lupa seperti orang pikun.”


“Maafkan saya sayang.”


Katakan kalau kau mencintaiku Sebanyak-banyaknya, baru ku maafkan.”


“Baik sayang.”


Kiara mengeringkan rambut Khenzo sambil berkata.


“Aku mencintaimu sayang.”


sebanyak yang di inginkan yang mulia tuan Khenzo itu.