
Dokter Petter dan yang lainnya juga berada di dalam kamar Khenzo, sang tuan muda itu begitu khawatir, Wajahnya tidak tenang, keringat dingin sedikit timbul di dahinya.
Petter yang baru membersihkan darah di hidung Kiara lalu bangkit, menghadap Khenzo yang sedang tertunduk lesu.
pria itu menggeleng kepada sahabatnya.
“Apa yang kau lakukan kepada Nona Kiara, sungguh keterlaluan.” ucap petter begitu berani, karena telah kesal oleh perbuatan temannya.
Khenzo hanya diam di bentak dan di salahkan begitu, karena dia memang salah.
“Aku Minta maaf.”
cuihhh minta maaflah kepada istrimu tuan.
“Keadaan Nona baik-baik saja, nona hanya butuh istirahat, jangan membuatnya banyak pikiran.” ujar Petter menasehati, kali ini dokter itu memang benar.
“Aku mengerti, Kalian keluarlah, tinggalkan aku sendiri bersama istrriku.” ujar Khenzo.
“Baik tuan.”
Petter, Han dan pak min keluar dari kamar itu.
sekarang Khenzo terdiam.
matanya memerah.
menyesal?
sepertinya begitu.
pria itu berjalan dan duduk d tepi ranjang.
membelai pipi Kiara yang tidur dengan nyenyak nya.
“Maafkan aku.” ujarnya penuh dengan penyesalan.
cekrek.
pintu kamar terbuka.
seorang wanita berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri ranjang.
“Apa yang terjadi, kenapa Kiara terluka.”
ucap Zahrana khawatir dengan Menantunya.
“Aku membuatnya terluka mi.” Ujar Khenzo penuh dengan wajah memelas.
“Apa yang kau lakukan sampai membuat istrimu pingsan bengini. Petter bilang Kiara sampai Mimisan.” tanya Zahrana, Sambil membelai wajah menantunya memeriksa apa ada luka lain Disana.
“Aku bersalah, aku mendorong Kiara dan mengusirnya dari kamar.”
“Bodoh! apa kau gila.” Zahrana mengamuk, baru kali ini ia semarah seperti sekarang.
Zahrana menarik tangan Khenzo untuk bicara dengannya di kamar Khenzo yang dulu.
“Apa masalahnya, kenapa kau sampai mengusir dan menjatuhkan istrimu.” ujar Zahrana yang ngintrogasi Putra pertamanya.
“Aku khilaf Mih, aku tidak berniat mengusirnya serius, aku hanya bercanda. maaf aku mendorongnya terlalu keras.”
ungkap Khenzo yang di sambar amukan oleh Zahrana.
“Apa kau bilang? Mendorong Kiara.” Zahrana memegangi dahinya yang terasa sakit, Ia tahu. pasti hanya masalah sepele. karena dia tahu terkadang Anaknya ini tidak bisa bersikap dewasa kalau masalah rumah tangga.
Zahrana mendengus kasar.
“Khenzo, mami tahu, kamu orang hebat. bahkan kamu lebih kaya dari kami sekarang. tapi Mami benar-benar kecewa atas sikap senonoh kamu terhadap istri sendiri.
Kau tahu! Kiara itu istrimu bukan babu. Dia kita pinang baik-baik untukmu karena Mami dan Papi tahu dia gadis yang baik.
tapi kau malah membuatnya terluka.
mami pikir kamu akan berubah dan akan bersikap lembut padanya.. ternyata mami salah.
kamu kejam kepada istrimu sendiri.
Kalau begitu, Mami akan menyerahkan kembali menantu Mami kepada orang tuanya.
dan jangan menyesal jika Kiara menikah dengan pria yang lebih mencintai nya Nanti.”
Khenzo menatap Zahrana kaget, Sampai sejauh itu Mami bertindak pikirnya.
“Mami, jangan.” Khenzo menggenggam Tangan ibu kandungnya.
“Untuk apa kau menahan Kiara, jika mencintainya saja kau tidak bisa.”
“Aku sangat mencintai Kiara, aku akan berubah. akan ku pastikan istriku tidak akan pernah menderita.”
“Omong kosong, mami tidak percaya.”
ujar Zahrana, meskia a tahu jika Anaknya akan selalu menepati kata-katanya, disisi lain Zahrana butuh jaminan Agar menantunya tidak menderita lagi.
“Mih, aku akan menjadi suami yang baik kedepannya, aku mencintai Kiara. jangan pisahkan kami.”
“Mami tidak bisa Khenzo! Keputusan mami sudah bulat. Kiara akan di jemput oleh mertuamu. Sebentar lagi mereka pasti akan sampai.”
“Mami tidak boleh berbuat seperti itu. Kiara istri ku. aku yang berhak atas Kiara. mami atau mertuaku tidak boleh membawanya pergi.
“Terserah, jika kamu memang merasa Suami yang baik tunjukkan Sama mami. Untuk Kiara, dia tetap akan pulang untuk pemulihannya.” Zahrana berlalu menuju kamar Kiara.
“Tidak bisa!” Khenzo menendang lemari hias, barang-barang i atasnya semua berjauhan dan berserakan di lantai.
“Sayang, aku sudah bangun.”
“Iya mih, Tadi itu suara Apa.” ujarnya karena Kiara mendengar Suara itu berasal dari kamar Khenzo.
“Suara apa? Mami tidak dengar Tuh.”
Zahrana menggenggam tangan Menantunya.
“Kau tersiksa ya menikahi putra mami.”
“Tidak Mih, Aku mencintai Tuan Khenzo. Dia juga mencintaiku. aku bahagia Menjadi Istrinya, menjadi menantu mami.”
“Jangan berbohong, aku tidak lihat kau bahagia.
Kiara, meski suami istri saling mencintai. jika saling melukai mereka tidak akan bahagia bukan.
kau mau suamimu berubah lebih baik lagi.”
“Iya Mih, Aku mau Tuan Khenzo lebih dewasa lagi. aku memang mencintainya. tapi Terkadang sikapnya membuat hati tak karuan.”
“Nah, Mami punya solusinya Nak, kamu harus mau membantu mami.”
Zahrana membisikkan sesuatu.
Kiara mengangguk paham.
Setelah beberapa menit berlalu. Ririn dan Aditya datang menjenguk putri mereka.
Ke Kawatir menyelimuti setiap wajah-wajah orang tua itu.
“Sayang, Kau tidak kenapa-napa kan nak.”
Ririn menghampiri putrinya di kamar, Sedangkan suaminya ada di lantai bawah bersama Roby.
“Kiata pulang ya sayang. Ibu akan merawatmu untuk beberapa waktu.”
“Baik Bu, terimakasih untuk Ibu dan juga mami.” ucap Kiara.
Khenzo yang berada di ambang pintu mulai tak terima jika istrinya di bawa pulang, tapi ia tidak akan menyela. karena Ini adalah kesalahannya.
“Aku ingin bicara kepada istriku.” ujar Khenzo.
Zahrana dan Ririn pun keluar dari ruangan itu.
Khenzo memberikan air putih untuk Kiara.
“Minumlah.”
“Terimakasih.”
ujar Kiara dengan wajah datar, Dia tidak boleh bersikap iba atau menunjukkan cintanya kepada suaminya. begitu Zahrana menyuruh Kiara.
“Aku minta maaf.”
“Aku sudah memaafkan Tuan.”
Jangan memanggilku seperti itu, panggil aku sayang.
untuk bicara kalimat itu, Khenzo sudah tidak berani lagi. ia hanya terdiam. menyesali perbuatannya di pagi tadi.
dan hari sudah mulai sore.
“Kau mau pergi.”
“Iya tuan.”
“Kenapa?” Khenzo meraih gelas kosong dari tangan Kiara.
“apa kau sudah membenciku. aku minta maaf istriku.”
Oh tuhan, melihat wajah iba tuan Khenzo membuat ku tidak tega. aku emang tidak bisa membencinya. tapi disini aku harus berpura-pura.
“Untuk apa tuan bertanya jika tuan tahu dengan jelas perasaan saya.”
“Aku minta maaf kiara.”
“Aku sudah memaafkan anda tuan.”
“Jika aku yang menyuruhmu untuk tidak meninggalkan rumah ini, apa kau mau menurut.”
“Tidak.”
“Jadi kau akan pergi.”
“Iya.”
“Kapan kau kembali.”
“Aku tidak bisa mengatakannya, semua tergantung Pada Tuan. jika tuan memang masih menginginkan saya kembali Tuan pasti akan berusaha menjemput saya.”
“Iya aku akan berusaha.”
Khenzo merasa sedikit lega, Meski Istrinya berubah secuek ini, dia masih bisa merasakan jika hati Kiara masih lah miliknya.
“Boleh aku mencium mu.”
Khenzo langsung menciumi Istrinya, meski belum memperoleh izin kiara.
dia akan tahu seberapa lama Kiara akan singgah di rumah mertuanya. mungkin sangat lama. dan itu akan membuatnya tersiksa secara perlahan-lahan.