MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Berjumpa



“Tuan, anda harus memakai kursi roda agar tidak perlu berjalan lagi.” ujar Nan yang sangat Kawatir dengan kondisi Tuan muda nya.


“Tidak perlu.” Khenzo berjalan dengan pincang menuju Jet pribadinya.


Menatapnya, ribuan pasang mata tertuju padanya.


khalayak ramai di area Airport itu memandanginya iba;


Pria itu sangat Tampan tapi sayang dia pincang, Kasian!.


Mungkin seperti itulah kebanyakan sorot mata memandang.


Sekertaris Nan menggeleng perlahan, tidak bisa berbuat apa-apa. pria itu mendekati Khenzo sambil menuntunnya memasuki Jet.


******


Malam kelabu.


Sendu meregang pilu


Sayat-sayat luka Melabur di Hamparan kama.


memandang Balkon yang di basahi gerimis tak diundang.


desiran Angin menghentikan sejenak Hujan deras yang bergantikan Rebas-rebas.


permukaan Bumi basah, Gerimis begitu betah–mencumbu malam dengan desikan syahdu.


Membuat hati yang merindu selalu Temui Sendu.


menghela nafas panjang, memandang Foto pria idaman.


Mencumbu asa di malam tak berbintang.


Tuan Khenzo kapan kembali.


Aku di tinggal sendiri–malah sedang musim hujan lagi.


wajahnya tertunduk lesu.


Menatap foto wajah yang di cinta seperti candu.


menekan Rasa Rindu seperti tersayat beladau.


menunggu Cumbu yang tidak pernah menyatu.


“mungkinkah dia punya wanita disana.”


pikirannya menerawang, setetes Air hangat berjatuhan membasahi pipi.


Mengusap.


Jemari lembut itu membelai pipi yang basah lantaran di hujami air mata.


“Kenapa kau menangis.”


“Aku tidak menangis.” jawab Kiara dengan pandangan yang tidak teralihkan dari Poto itu.


“lalu kenapa pipimu basah.”


“Aku latihan pipis lewat mata.” jawab Kiara asalan, yang mengundang gelak tawa.


“pantas airnya hangat.”


Chup.


satu kecupan mendarat di pucuk kepalanya.


membuat gadis itu terperanjak kaget.


“Tuan khenzo.”


memeluk dengan erat, sangat erat seakan tak ada lagi hari esok untuk bersua.


Khenzo melepaskan gadisnya dari pelukan.


senyum samar Khenzo timbulkan.


Kiara menatap penuh perasaan seakan rindu yang tadi tergenang berangsur pergi perlahan.


“Tuan.” ucapnya tanpa suara, netra indahnya berkaca-kaca.


Menepis, Khenzo mendorong tubuh Kiara sampai tersungkur jatuh ke ranjang. membuat gadis itu berdebar-debar. apa yang akan di lakukan suaminya.


Khenzo mencari-cari, matanya sibuk menari-nari seperti mencari sesuatu yang tidak ia temui.


“Kau Siapa.” ujar Khenzo.


“Dimana Si bulat ku.” membuat Kiara heran kebingungan.


Jangan bilang kalau dia kambuh lagi. Aaaa Ibu! aku sudah Sampai ketahap ini. kenapa dia sama sekali tidak mengenaliku. apa aku harus berubah jadi gendut lagi.


Batin Kiara Frustrasi.


“Tuan, ini Aku. Kiara!” jawabnya penuh harap agar Khenzo percaya.


Menyeringai, pria itu menaiki ranjang. menindih tubuh gadisnya pelan. Menatap wajah Tirus Kiara yang seperti dulu.


Membelai Poni yang menutupi dahi, Khenzo menuding kening glowing milik Kiara.


“ Jangan menipu ku.


istrku Kiara tidak sejelek kau.


Si bulatku sangat Chubby dan menggemaskan.


sedangkan kau seperti boneka Barbie yang habis operasi.” makinya sambil tersenyum Samar.


Apa! Kau menghinaku lagi?.


sekian banyaknya pengorbanan yang telah aku rajut demi menjadi begini. kau tidak menghargai ku. dasar Tuan Khenzo tidak berperasaan.


Khenzo berguling ke samping, lalu turun dari ranjang. berjalan menuju pintu,


lalu hilang di balik Ding-ding.


Kiara menatap kepergian Khenzo. seperti mimpi tapi sungguh nyata.


Memejamkan matanya perlahan berharap kejadian ini hanyalah mimpi yang takkan terulang.


*******


Subuh di kamar Kiara.


seorang pria sudah berbaring sambil memeluk Istrinya yang sedang terlelap di bawah selimut tebal.


Tergelak beberapa kali, aksinya sungguh di luar kendali. menahan rindu semalam sungguh sangat berat. menjahili kiara dengan berpura tidak mengenalinya. membuat gadis itu menangis tersedu-sedu.


Membelai wajah kiara, tanpa memperdulikan Nan dan petter yang juga ada di sana.


Biasa saja, kedua pria itu bahkan tidak memerhatikannya.


Khenzo mengusap mata bengkak itu dengan jempolnya, mencium kening yang ia tuding tadi malam.


bibirnya tergelak lagi. gemas dan ingin sekali menghabisi Gadisnya.


Dokter petter sibuk di sana. membuka perban.


“Hei pelan-pelan! Kau pikir itu tidak sakit hah.” ujar Khenzo membentak Dokter petter.


orang yang di bentak itu menatap Khenzo.


“Maaf tuan.”


Membuka perban yang dihasilkan Sekertaris Nan. membuang perban jelek itu.


membersihkan luka Khenzo yang sudah semakin parah.


dokter petter menatap Nan.


“Apa yang terjadi. kenapa tuan bisa terluka separah ini.” begitu sorot matanya berbicara.


Sekertaris Nan menggeleng perlahan, tidak mungkin kan dia menjelaskan kepada Dokter petter kalau Tuan Khenzo seperti itu akibat menggendongnya karena Kesenangan.


bisa-bisa dokter Peter tertawa terbahak-bajak karena merasa puas.


Dokter Petter mulai menangani luka serius itu. orang yang tidak ada sakit-sakit nya kemarin itu mulai meringis.


Merasa perih yang tak tertahankan dari telapak kaki yang mulai infeksi.


__________


Hai Readers 💕.


selamat membaca.


maaf kalau Chapter nya masih pendek.


terimakasih atas dukungan kalian loveReaders.🥰😍🥰😍🥰❤️❤️❤️❤️❤️