
“Kau jahat.”
Bahkan di dalam tidurnya Nayra masih terus memukul dada suaminya yang telah berani mengukir Luka itu.
Jordan tersenyum samar, mencium pucuk Kepala sang istri.
Mengeratkan lagi pelukan itu.
Tangannya sibuk Bekerja di sebuah komputer di ruang kerjanya.
Jika bukan karena Nayra yang merengek ingin di temani. Jordan sudah harus pergi keperusahaannya malam ini.
terpaksa pria itu hanya bisa memeriksa File Penting itu lewat Email saja.
“Pulangkan aku.” Mulut mungil Nayra kembali bersuara.
membuat Jordan semakin tak kuasa ingin menghabisi Istri kecilnya.
Chup.
mencium bibir manis itu mesra.
Hmmm.
Mel*matnya dengan lembut.
“Maafkan aku sayang.”
Ujar Jordan, Penyesalan tergambar jelas di pelupuk matanya.
tangannya sibuk menepuk-nepuk bokong sang istri, begitulah caranya menidurkan Nayra.
Jika bukan karena Keegoisan besar yang ia lakukan, mungkin Nayra tidak se sengsara sekarang ini.
Meninggalkan semua perusahaan yang di sponsori Kakak kandungnya, dan menolak semua harta warisan dan bagiannya.
melepaskan Perusahaan-perusahann yang berkembang atas kerja kerasnya.
dan memulai semua dari awal.
merintis Dari nol lagi.
ternyata itu tidak semudah Bicara.
jika saja Dirinya tidak angkuh dan menerima beberapa penawaran dari Roby. mungkin Dirinya akan bisa menghidupi Nayra dengan layak seperti ini meski tidak harus bekerja sekeras sekarang.
Tapi nasi sudah menjadi bubur.
menjilat kembali ludah yang di jatuhkan, itu bukanlah Tabiatnya merintis kembali asal Istrinya sabar. Jordan akan melakukan yang terbaik untuk Istri kecilnya itu.
********
Di dalam kamar Kiara begitu ramai.
kali ini dia tidak tidur sendirian.
Suaminya, Sekertaris Nan dan dokter Petter terlihat ikut meramaikan kamar itu.
Menatap dengan tajam,
“Jangan ada yang memperhatikanku dengan gadisku” Khenzo mengarahkan dua jemarinya ke mata lalu mengarahkannya kepada dua orang di hadapannya.
“Baik Tuan,” keduanya mengangguk mengerti.
“Tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini tanpa seijin ku, Kalau kalian nekat. Potong gaji.” ujarnya Ketus, kemudian masuk kedalam selimut sang istri.
“Baik Tuan.”
bukan tanpa alasan Khenzo Seperti itu.
melihat keadaannya yang sekarang, dia tidak mungkin bisa berlari jika Kiara tiba-tiba saja terbangun.
karena Khenzo tidak ingin Istrinya tahu tentang perasaan yang sebenarnya.
Khenzo menemani sang istri di Kasur, sedangkan kedua pria yang tersisa itu duduk di sova sambil menonton televisi.
pandangan mereka tidak teralihkan dari Televisi karena kalau tidak mereka akan menyaksikan Cumbuan Tuan muda mereka kepada sang istri.
“Ingat Nan, Kau harus terus memandang ke depan.”
Ujar Petter berbisik sambil mengintip sedikit ke arah Khenzo.
Menatap tajam, Sekertaris Nan menutup Indra penglihatan itu dengan majalah Yang berada di atas meja.
Seharusnya anda memperingati diri anda saja dokter petter.
Karena Tidak ingin selalu di salahkan dan tidak tahan dengan kecaman Sekertaris Tuan mudanya, akhirnya Dokter petter diam meskipun pria itu tidak sepenuhnya bisa diam.
“Nan ayo keluar,” Ajak Dokter petter.
“Tidak! Anda keluar saja sendiri, Aku tidak boleh keluar tanpa seijin Tuan.” Ujar Nan datar. pria itu tampak menikmati Siaran yang di putar di layar televisi itu.
menghela nafas panjang, Dokter petter menekan-nekan dahinya yang terasa berdenyut. jika bukan karena Perintah Khenzo, dia sudah dari tadi meninggalkan kamar ini.
Aku lebih baik tidur di Rumahku dari pada Menjadi V*pe di sini.
Pikirnya, sambil menyebut salah satu merek anti nyamuk yang ampuh menghalau serangga penghisap darah itu.
“Nan ayolah, Untuk apa kita Di sini!” Rungutnya terus meminta Sekertaris Nan agar pergi meninggalkan kamar ini bersamanya dengan tujuan jika memang di hukum, bukan hanya dirinya saja yang kena hukuman.
“Tidak mau” Ujar Nan dengan pandangan yang tidak teralihkan.
meninggalkan Ruangan ini sama halnya dengan kehilangan uang, Itu adalah Sesuatu yang sangat di hindari Sekertaris Nan. karena bagi pria tampan dan Multitalent itu uang adalah benda berharga yang harus selalu ada.
Tidak heran, pria dengan Bibir manis itu di juluki pria seratus juta dollar.
karena kekayaannya tidak main-main meski dirinya hanya seorang tangan kanan tuan Khenzo.
Dokter petter menggeleng perlahan, lalu berucap.
“Aku heran padamu Nan.”
Sekertaris Nan Menatap Aneh Petter sambil mengerutkan dahinya.
“Apa maksud dokter.”
“Lupakan, Aku tidak ingin bicara lagi.” dokter petter melipat tangannya.
“Oh.” ujar Nan.
Khenzo sibuk Mencumbu istrinya yang tidur tiada sadar itu.
“Dia sangat manis.
Aaa Kiara sayang. akhirnya aku bisa menemukanmu. kenapa kau tidak memberitahuku, kau sengaja Menghindari ku ya.
Sepertinya kau ingin dihukum.” Gumam Khenzo sambil menarik senyum yang kesetanan.
Cup
mencium bibir manis Kiara dengan lembut.
Pranggg
Suara barang jatuh terdengar menantang.
Khenzo membuka selimutnya, menatap kedua orang yang Disana, salah satu di antara mereka sudah bercucuran keringat dingin karena ketakutan.
“Mau mati ya.” ujar Khenzo hanya dengan gerak bibir.
“Maafkan kami Tuan.” ujar Petter sambil membungkuk pelan.
Tuan, saya tidak ikutan ya. itu ulah dokter petter.
Batin Sekertaris Nan acuh tak acuh.
“Awas saja jika Istriku bangun.”
tatapan Khenzo mengintimidasi.
“Anu Tuan, Itu,, Nona muda Duduk, Nona bangun.”
Lapor Nan yang membuat Khenzo langsung menatap histeris.
“Tuan khenzo.” ujar Kiara. masih dengan mata tertutup Kiara langsung ambruk kembali Tertidur.
Khenzo menghela nafas, untung saja Kiara tidak sadar dan mengetahui dirinya Disana.
jika sampai Kiara tahu perasaan Khenzo, tentu itu tidak semenarik yang pria itu bayangkan.
Khenzo berpikir, bermain perasaan dengan istri idamannya itu adalah keseruan baru yang harus ia lalui.
_______
Kiara Reirein
Khenzo Ran Ardiansyah