
“Sayang, Anda harus segera turun ke bawah. sekertaris Nan pasti sudah menunggu anda.” Ucap Kiara. masih setaia mengusap-usap rambut Khenzo menggunakan handuk kecil.
“Apa? Kau mengusirku?” jawab Khenzo, langsung sensi parah.
“Bu-bukan.”
Kiara memijit bahu Khenzo.
“Kasian Sekertaris Nan sudah menunggu lama.”
Khenzo menatap Kesal,
“Oh, jadi kau lebih perhatian kepada Sekertaris itu, dibandingkan suami mu sendiri.
kalau kau lebih perhatian padanya kenapa tidak menikah saja dengannya.”
Tuan, anda kenapa sih, saya hanya lelah jika berada di dekat anda.
saya ingin Istirahat, itu saja.
Batin kiara.
“Berani sekali kau mengusir ku ya.” Ujar Khenzo lagi.
“Sayang, aku tidak mengusirmu. aku hanya Kawatir kalian akan terlambat bekerja.” ucap Kiara, sudah semakin lemas.
“Siapa yang ingin bekerja, aku ingin Cuti hari ini.” Khenzo berdiri dari hadapan Istrinya, memakai kaos oblong dan celana selutut yang tersedia di lemari.
“Suruh Nan ke perusahaan sendirian. aku tidak ingin bekerja hari ini.” ucap Khenzo di dalam sambungan telpon rumah itu kepada pak Min.
Dibawah sana, wajah pak min berubah heran, sedangkan Sekertaris Nan berwajah Pias.
jika sudah seperti ini dirinya yang akan kelelahan nanti.
Di dalam kamar. Kiara terlihat kikuk, ia tidak sengaja telah membuat tuan mula yang mulai Khenzo itu badmood, Kiara sungguh bingung,
antara harus menghindar atau membujuk.
Aku harus gimana? apa yang harus aku katakan.
Tuan Khenzo sudah marah sekarang.
Apa aku harus pergi saja.
atau harus ku bujuk dia?
tapi bagaimana caranya!? jika salah sedikit saja. pasti dia akan menendang ku keluar nanti.
Persetan dengan ketidak sukaannya. biar ku coba membujuk saja.
“Sayang, anda kenapa?”
“Tidak usah bicara, kau lebih perhatian dan khawatir terhadap Nan.” ujar Khenzo, masih menatap Kiara dengan tatapan kekesalan.
“Tidak sayang, aku tidak perhatian pada Sekertaris Nan kecuali padamu. seluruh perhatianku hanya padamu sayang.” tahu Kiara yang terdengar lawas.
“Cih, Penipu. jelas-jelas kau tidak mau aku berada didekat mu. kau mendesak ku pergi karena tidak mau melihat tampang ku kan.”memyebalkan, jadi untuk apa. kau membujukku sekarang.
“Sayang, bukan seperti itu sayang. aku suka, aku bahagia saat kita bersama. tapi masa depanmu kan lebih penting, masa depan perusahaan juga lebih penting, jika sayang tidak bekerja hari ini. pasti K.R Group akan mengalami penurunan.” Ucap Kiara.
“Idihh, tahu dari mana kamu.
Meski aku tidak bekerja bertahun-tahun pun Perusahaanku tidak akan mengalami penurunan. Sok tahu kamu.
sudah, enyah dari hadapanku atau kau akan ku tendang lewat jendela.” Khenzo semakin murka.
Aduh kiara! kau ini kenapa bodoh sekali sih, dia kan orang kaya. mau tidak bekerja selama hidupnya, dia tidak akan kehabisan harta kan.
Tapi Btw tuan Khenzo ngomongnya sombong juga ya.
“Tidak mengulangi katamu, jadi kau sudah mengaku bahwa kau lebih perhatian kepada Nan. aku tidak mau melihat wajah orang yang tidak menyukaiku. pergi sana!”
“Ah tidak sayang, aku menyukaimu kok.” Kiara melangkah beberapa langkah sampai ia dekat ke ranjang.
“Aku menyukaimu sayang.”
Cuihhh.
“Jangan sok manis padaku, aku tahu kau sangat membenciku kan.”
“Tidak sayang, aku tidak membencimu. aku sangat mencintaimu.”
“Omong kosong, tinggalkan aku sendiri. aku sudah muak melihat kepalsuan mu.”
“Tidak mau, aku tidak mau pergi. aku tidak akan meninggalkanmu sayang. aku benar-benar menyukaimu sayang.” ujar kiara, penuh penekanan di dalam setiap kalimatnya.
“Kau berbohong.”
“Tidak sayang.”
“Pergi atau aku akan membanting mu keluar jendela.”
“Tidak sayang, aku ingin bersamamu aku menyukaimu.” Kiara melompat ke atas ranjang, menimpa Khenzo yang sedang duduk sambil berselonjor kaki.
“Wahhh wahhhh. kau agresif sekali ya.” ujar Khenzo saat wajah Kiara sudah terbenam di dada bidangnya.
Kiara berusaha bangkit, tapi Khenzo menekan punggung Kiara agar tetap melekat di atas tubuhnya.
“Maaf sayang, aku tidak bisa bergerak.” ujar Kiara samar, karena wajahnya tertutup oleh dada Khenzo.
“Kau sangat menyukai tubuhku sampai tidak bisa bangkit dari sana ya.” ucap Khenzo lagi. yang membuat Kiara sedikit kesal, jelas-jelas pria itu yang menekan tubuh mungilnya agar tidak bisa menghindar.
“Sayang, aku tidak bisa bernafas” uajr kiara merasa sumpek dan tidak mendapat oksigen Disana.
Khenzo langsung menarik bahu Kiara, Menyenderkan kepala Kiara pada tangannya. lalu mencium gadis itu. memberi nafas buatan ceritanya.
Kiara terbelalak, jantungnya berdegup Khenzo, meski bukan yang pertama kalinya ia di cium Khenzo tapi rasanya masih tetap sama. seperti ciuman pertama.
Kiara mendorong tubuh Khenzo agar menjauh darinya.
sontak membuat pria itu merubah air mukanya.
“Kenapa? kau tidak mau aku cium.” ujar Khenzo terlihat kesal.
Kiara hanya terdiam, tentu saja ia mau. tapi harus bagai mana ia mengakuinya, rasanya sangat memalukan.
“Pergi.” Khenzo mendorong tubuh kiara, sampai gadis itu terseret ke tepi ranjang.
“Istri macam apa kamu, di sentuh suami saja tidak boleh, dasar pelit. enyah dari hadapanku.” Khenzo mendorong bahu Kiara sangat keras.
membuat gadis itu terjatuh lari ranjang.
“Aaaaaaaaaa.” teriak kiara, saat kepalanya terbentur di lantai.
Khenzo masih diam, ingin sekali ia menoleh dan membantu Istrinya berdiri, tapi rasa Gengsi pria itu begitu tinggi.
ia lebih memlih menunggu Kiara bangkit sendiri.
selang beberapa menit, Kiara pun berdiri. tapi keadaannya membaut raut wajah Khenzo berubah khawatir.
“Sayang, aku menyukaimu kok” ujar Kiara yang baru saja berdiri. Hidungnya di penuhi darah, sepertinya dia mimisan setelah kepalnya terbentur.
Tidak Lama setelah itu, Kiara kembali tumbang, gadis itu pingsan di lantai.
“Kiara! Kiara!” kepanikan terjadi kepada Khenzo, takut Istrinya terluka gara-gara sifat kekanakannya.
Khenzo menggendong tubuh istri ke atas ranjang, lalu menghubungi Nan dan pak min dengan paniknya.