
Kiara berjalan menuju kamar, berniat menghampiri Khenzo dan Bayinya.
Sepertinya aku keterlaluan tadi. yang salah kan si tuan muda Khenzo. kenapa aku ogah-ogahan merawat bayi itu.
Sudahlah.. Biar aku meminta maaf dulu padanya.
Kiara tetap berdiri di depan kamar Khenzo. kamar yang terbuka Sedikit itu mengeluarkan sedikit Suara.
“Hum.. emangnya dia siapa. Aku juga bisa mencari Ibu untuk Bayiku” Celoteh Khenzo Terdengar kesal.
“Mungkin Nona Kiara tidak suka jika Tuan mengakui bayi ini punya tuan” Ujar Sekertaris Nan yang juga ada di sana.
“Persetan dia suka atau tidak. bayi ini memang milikku” Ujar Khenzo sangat marah. sambil memeluk erat Bayi Sita.
Tuh kan. benar apa yang aku pikirkan, pria kurang ajar Ini sudah memiliki Anak sendiri. sedangkan aku dimana-mananya masih perawan. Aku terlalu perfect Untuknya. Aaaa aku benci sama orang-orang yang menjodohkan kami.
Kiara yang sedang menguping itu mengoceh kesal di dalam hatinya.
Oekkk oekkk oekkk ooooeekkk Bayi di gendongan Khenzo terbangun dan menagis dengan nyaringnya.
“Tunggu dulu” merasakan Aura yang tidak baik “Apa kau mencium sesuatu Nan?” Ujar Khenzo menoleh ke arah Sekertaris Nan.
“Iya Tuan, Aku sangat Familiar dengan Aroma ini.” ujar Sekertaris Nan.
“Nan! Cepat periksa.”
Khenzo mengeluarkan keringat dingin. Merasakan sesuatu yang basah kekuning-kuningan mengenai lengannya.
“Aisshhh Sial.. Siapa suster yang memakaikannya bedong. kenapa tidak memasang popok yang bagus untuk Bayiku” Ujar Khenzo kesal.
Khenzo membuka Kemejanya. membersihkan lengannya ke Wastafel di dekat kamar mandi miliknya.
“Apa kau juga Dapat..?” tanya Khenzo sambil melihat ke arah Sekertaris Nan yang menggendong bayi.
“Tentu saja tidak tuan. sebenarnya masalah ini aku lebih ahli di banding Tuan” Ujar Sekertaris Nan dengan kepercaya diri tinggi.
“Baguslah.. sekarang kau yang menggantikan popoknya” Ujar Khenzo Menyerahkan.
“Baik tuan muda.”
Kiara yang menguntit di depan pintu itu menyimak dengan seksama.
Dengan raut wajah yang sudah lelah karena tertawa dengan tingkah kedua pria yang tidak bisa mengurus bayi itu.
Kiara berjalan menuruni Anak tangga. Memasuki kamar bayi di lantai bawah, mengambil beberapa peralatan yang di perlukan saat menggantikan popok bayi.
Keadaan kamar yang sudah tidak bisa di jelaskan. Sekarang bukan hanya Khenzo yang tidak memakai baju. Sekertaris Nan juga Harus melepaskan beberapa Pakainnya karena terkena noda Akut ke kuning-kuningan itu.
“Tuan. Apa Anda menyerah sekarang.. boleh kita memanggil salah satu pelayan?” Ujar Sekertaris Nan.
“Tidak boleh. Cepat selesaikan pekerjaan mudah ini” Ujar Khenzo sambil sibuk menggantikan popok Bayi.
Kedua pria tampan itu dengan fokusnya menoleh ke arah layar Tablet, Tutorial Mengganti Popok bayi.
itulah judul video yang mereka saksikan saat ini.
“Kapas Dengan Air? Diman kita mendapatkannya Nan!?” Ujar Khenzo sangat panik saat mendengar Bahan dan peralatan yang harus di siapkan untuk membersihkan kotoran bayi.
“Ini tuan.. Pakai Tisu basah saja” Ujar Sekertaris Nan.
“Cepat ambilkan tisu basahnya” perintah Khenzo kepada Sekertarisnya.
“Ini tuan” dengan sigapnya.
“Apa maksudmu aku yang harus melakukannya!” Ujar Khenzo. matanya melotot ingin keluar.
“Baiklah aku yang akan melakukannya tuan”
Setelah melalui beberapa insiden Terkena Bercak kuning. Kedua pria itu berhasil mengganti Popok untuk bayi mungil itu. meski tidak serapi yang seharusnya.
Oekkk oekkk oeekk
Tangis si kecil pecah kembali.
“Ouhhh Baby Ayah... Apa kau haus.”
Phhhhhhp Pretttt prett preeeetttt..
Suara yang berbunyi di barengi dengan Bau yang tidak sedap.
“Oh Sh'it. Apa dia belum selesai Phup Tadi” Ujar Khenzo merasa histeris.
“Tuan.. Sudahlah. panggil Nona Kiara saja.”
“Benarkah.. tidak membutuhkanku?” Kiara tiba-tiba nongol di dalam kamar. menjing-jing sebuah tas baby berukuran besar.
“Kalau tidak butuh bantuan ya sudah, Aku permisi ya... yang mulia tuan muda Khenzo.”
kiara berbalik badan.
“Hei, berhenti di tempatmu” Khenzo mengeluarkan suara yang keras karena tidak di dengar oleh Kiara.
“Apa!” Kiara menoleh kearah dua pria menyedihkan dan berantakan itu.
“Kau boleh bergabung jika kau mau!” ujar Khenzo dengan wajah songongnya.
“Baiklah akan ku bantu.” Kiara berjalan menghampiri Khenzo dan bayi itu
Kiara membuka Tas berukuran besar itu. mengeluarkan Alas Untuk bayi di letakkan.
“Berikan padaku.” Ujar Kiara. sambil mengadahkan tangannya ke arah Khenzo.
Khenzo menyerahkan bayi dengan sangat patuhya.
Kiara membaringkan Bayi mungil itu di atas alas.
Khenzo dan Sekertaris Nan memperhatikan dengan seksama.
sedangkan Kiara dengan cekatan membuka popok yang sudah kotor itu.
Kiara juga melihat panduan dengan menonton Video dari gadget miliknya. tapi Kiara benar-benar melakukannya dengan hati-hati dan perlakuan yang lembut.
Bayi itu terlihat sangat nyaman. Tidak seperti saat bersama kedua pria yang tadi.
“Oh ternyata bayinya laki-laki.” Ujar Kiara setelah baru melihat jenis kelamin Bayi itu.
“Iya.. dia seorang jagoan.” Ujar Khenzo dengan sangat bangganya.
“Siapa namanya.” tanya Kiara, sambil membersihkan Sisa kotoran di sela-sela ************ Bayi kecil itu.
“Aaa.. Nama ya! aku belum memikirkannya.”
“Kau ini bagaiman? kau ayahnya. seharusnya kau memikirkan nama untuk anakmu sejak dia masih Di kandungan ibunya. ayah macam apa kamu ini” Kiara mengomel.
Sialan berani-beraninya Dia mengataiku begitu.
Batin Khenzo.
“Nona sebenarnya bayi ini bukan..
“Nan!... ” Sorot mata Tajam mengarah kepada Nan.
“Sebenarnya Apa Sekertaris Nen. Apa kau ingin mengatakan sesuatu” ujar Kiara masih fokus mengoleskan Telon dan Pelembab untuk kulit bayi itu
Khenzo berdiri dari Tempat duduknya. menghampiri Nan yang berdiri di dekat Kiara.
“Kalau kau bicara lagi. Potong gaji dua bulan” Ujar Khenzo semena-mena.
Sekertaris Nan langsung membungkam mulutnya. kehilangan Gaji Satu bulan saja ia sungguh tidak rela. apalagi gaji dua bulan. Itu sama saja kehilangan banyak Uang. Karena gaji perbulannya bekerja dengan bos tajir itu tidaklah semena-mena.
Setelah beberapa menit berlalu. Kiara selesai membersihkan Bayi itu.
Oekkk ooooeekkk oeekk
“Kenpa dia masih menangis” Ujar Khenzo panik.
“Sepertinya dia Haus” jawab Kiara.
“Kalau begitu kasih Asi-mu Saja” ujar Khenzo.
Suasana hening.
Sekertaris Nan menatap penuh rasa malu mendengar perkataan tuan mudanya. dan tidak berani menatap Kiara karena terlalu canggung.
“Aku dan Nan akan keluar jika kau merasa canggung” Ujar Khenzo sambil menarik sekertaris Nan keluar.
Kiara menatap, kali ini dia ingin berterus terang.
“Aku tidak memiliki asi.”
“Tidak memiliki? tidak memiliki asi katamu, jas jelas kau memiliki anu yang besar, jadi itu isinya apa kalau bukan asi.” ujar Khenzo.
Sekertaris Nan mengisap wajhnya.
Tuan, hentikan bicara anda, atau anda yang akan malu nanti.
“Susah sekali bicara dengan orang bodoh, aku akan turun membuatkan susu formula, jaga bayinya.” ujar Kiara.