MY STUPID HUSBAND

MY STUPID HUSBAND
Malam



 


Falerian Shaci


Sita, Aku menamai putramu. apa kau suka dengan namanya.


Haha! Kiara yang memberinya nama. kami berharap Falerian Sachi menjadi anak yang penuh keberuntungan, sehat, baik akhlak, dan ceria.


Kau juga sama kan. kau juga sangat bahagia mendengar itu, terimakasih sudah percaya padaku, maaf untuk ke susahan yang pernah menimpamu, atas perbuatanku.


Aku hanya bisa memberinya kenyamanan dan kemewahan seperti Apa yang pernah ku Tawarkan sebelumnya pada Sita. tapi tetap saja, Aku tidak akan pernah bisa menggantikan Kasih sayang orangtua yang seharusnya Ia miliki.


Tapi aku berjanji, anak ini akan Bahagia bersamaku. aku akan menjaganya seperti darah dagingku sendiri.


Di penghujung malam yang panjang. Khenzo Terusik dari tidur lelapnya.


Bermimpi....?


Mungkin saja, di lihat dari banyaknya keringat bercucuran di dahinya.


Menuruni anak tangga.


memasuki kamar bawah yang menjadi tempat bayi kecil berada.


Cklek.


Pintu Itu terbuka.


“Astaga. Apa yang kau lakukan disini.” Ujar Khenzo panik saat melihat Kiara ada di dalam kamar Itu.


Menoleh, Dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Gadis cantik itu lebih mirip Panda sekarang.


”Putramu menagis. Aku memberinya Susu formula. Dia kehausan tadi.” ujar Kiara.


Duduk sambil menimang sang bayi, Kiara melupakan hasratnya untuk tidur. tentang bayi falerian adalah nomor satu sekarang,


Saat mendengar suara tangis nyaring bayi itu Kiara langsung bergegas berlari dari kamarnya menuju kamar ini.


Mengunjungi bayi yang tidur sendirian itu. hanya bertemankan pelayan yang tidak bisa menenangkan bayi.


bukan, bayinya yang susah didiamkan. Tapi saat bersama Kiara. tangis itu seolah tak pernah ada.


“Terimakasih sudah memperhatikan bayi ku.” ucap Khenzo, masih dengan wajah datar yang tidak bisa di poles Ramah.


Heh jangan Percaya diri dulu. aku mengurus bayi ini ya.. Karna aku peduli padanya. ini tidak ada hubungannya denganmu Tuan songong!


“Sssssst.” Kiara menempelkan jari telunjuknya tepat dibibir. memberi isyarat agar Khenzo jangan mengeluarkan suara lagi. karena Bayi mungilnya sudah tertidur.


“Terimakasih.” Bisik Khenzo pelan.


Kiara menatap dengan Wajah juteknya, Gadis beriris kecoklatan itu memicingkan matanya.


“He he.” Tertawa kuda sambil menatap lekat pria tinggi semampai itu.


“Kamu sakit atau kesurupan!” Khenzo balik menatap dengan Mata elang yang agak


disipitkan.


“Ah tidak, aku hanya merasa diriku ini sangat lah jago dalam segala hal. apa kau juga berpikiran yang sama” Ujar kiara sambil membusung dada ingin meninggalakan kamar itu.


Aku tidak berpikir begitu. Apa yang gadis ini pikirkan sampai-sampai dia sangat Percaya diri begitu. mengurus bayi! Itu masalah kecil.


Oe oe ooooee


Suara si kecil pecah saat Kiara melangkahkan kakinya keluar kamar.


Sontak, gadis itu berhenti dan langsung berbalik badan. menghampiri box bayi dengan sangat khawatir.


Kiara berjalan menjauh. melewati Khenzo sambil menatap Penuh kebingungan. halusinasikah Atau memang bayi itu menangis. itu saja yang ada di pikiran Kiara saat ini.


Khenzo, pria itu membalas tatapan Kebingungan itu dengan tatapan menohoknya.


Bego! kenapa matamu melotot ke arahku Seperti itu.


Mungkin begitulah Makna dari sorot mata Tajam Khenzo.


Keduanya saling tatap-menatap dengan versi tatapan masing-masing.


Kiara menggerakkan mulut Mungilnya.


“Apa.”


“APA???”


“Apa. kenapa tuan memplototi ku.” dengan suara yang hampir tidak terdengar.


“Kau yang lebih dulu mempelototi ku.”


Kiara melangkah sebanyak tiga kali. kedekatannya dengan Khenzo sekarang hampir menyentuh dada bidang pria itu.


“Aku tidak sengaja memelototimu yang mulia.”


“Hah?” Khenzo mengerutkan keningnya, Alis hitam dan tebal yang sama persisi itu terlihat kian bersentuhan.


Yang mulia. Julukan macam apa itu. kenapa aku merasa Kiara sengaja memprovokasi hatiku.


huh aku sangat marah.


Khenzo keluar dari kamar, selangkah menginjak lantai dari pintu kamar itu.


Oe oee ooooee oe


Tentu saja Khenzo menghentikan langkah panjangnya. menghampiri Bayinya sekarang menjadi tanggung jawabnya.


“Cup cup cup!! Anak ayah kenapa menangis.” Khenzo berjalan menghampiri box bayi seperti yang dilakukan oleh Kiara tadi.


Ekspresi yang sama. Bingung melihat bayi yang tidur dengan nyenyaknya.


Jelas-jelas aku mendengar suara tangisannya.


Menatap Kiara. merasa sedikit canggung berada di posisi Kiara yang tadi.


Khenzo memberanikan Menatap gadis yang sudah berkacak pinggang itu. sambil tersenyum Getir.


Apa-apaan senyumnya. Dia menertawai ku.


Tidak tahan, atau sudah sadar akan sesuatu. Kenapa mereka berdua diam-diaman sambil berdiri saja.


Akhirnya keduanya memutuskan Pergi ke kamar.


Kiara memanggil pelayan yang bertugas tadi untuk menjaga Falerian.


Oekkk ooooeekkk oeekk


Lagi-lagi Bayi kecil itu menagis, seperti tidak mau ditinggal ibu bapaknya.


Entahlah, Tidak ada yang mengerti kenapa Falerian seperti itu. berapa kali Khenzo dan Kiara berniat meninggalkan kamar itu. Sebanyak itu pulalah Falerian menangis dengan suara nyaringnya.


Dan pada akhirnya. Kedua suami istri yang saling tidak menginginkan satu sama lain itu tertidur di atas pijakan mereka masing-masing.


Khenzo, Dengan sangat tersiksanya Tidur di atas Sova yang tidak terlalu lebar. di himpit barang-barang perlengkapan baby. Di banding Kiara, Khenzo masih terbilang sangat nyaman.


sedangkan kiara Hanya duduk di kursi tinggi yang berada di dekat box bayi. Sambil sesekali terbangun. Kiara sudah persisi seperti mak-mak muda yang merawat snak bayinya.