
***
Makan malam seperti biasa di Rumah Keluarga Besar Arkasa. Semuanya ada, kecuali Shiren yang sedang bermain di Kediaman Wijaya.
"Mah, Itu mamah waktu hamil si Shiren ngidam apa sih ma?! Kok tuh anak lambe nya turah banget. " Celetuk Arfen, yang baru meminum air nya.
Arfen saat ini tengah menginjak usia 17 tahun, ia berada di Kelas Sebelas. yang hampir naik ke kelas Dua belas. Banyak remaja perempuan yang antri teratur menunggu Arfen. Tapi, sayang nya Arfen hanya menantikan Thifa seorang.
"Kenapa sama Shiren? Kakek Rasa Shiren anak nya baik. Enggak cerewet. Kamu kali, yang cerewet. " Bantah Herman, Kakek Arfen. Di mata Herman memang Shiren lah yang kalem dan Normal di antara garis keturunan Anak dan cucunya.
Arfen melihat orang tua nya bergantian, Sheryl juga menatap ke arah Arfen, sedangkan Nathan hanya mengedikkan bahu ketika di tatap anak nya.
"Mah, Mamah percaya kan Shiren itu Cerewet. Dia suka banget gangguin Arfen, mah. Percaya sama Arfen. " Kukuh Arfen.
"Oke, seandainya mamah juga percaya kalo Shiren suka ganggu kamu. Emang nya kenapa? Kamu mau mamah kirim Shiren ke Asrama? "
Deg.
Arfen terpaku, dia diam membeku. Ada rasa tidak ikhlas jika Adik mungil nya pergi. Meski mengganggu, Tapi di mata Arfen. Kehadiran Shiren sangat berharga.
"Enggak deh Mah! Jangan kirim ke Asrama! Adik Arfen cuma satu. Yah itu tuh. Udah lah Arfen ngalah aja. "
Sheryl, Herman, dan Arumi tersenyum puas. Yah, mereka tau, Arfen tak kan tega jika adik kecil nya pergi.
"Udah Terima aja gitu Fen. Gimanapun juga Shiren adik kamu. Lagian, papah bangga kok sama dia. Dia Cerdas, sama kayak mamah kamu. " Sambung Nathan, menatap aneh ke arah Sheryl.
What?! Papah Nathan! Kalian udah gak muda! Sadarlah! Anak udah SMA juga.
Batin Arfen. Ia merasa begidik sendiri melihat tingkah papah nya ini.
***
"Mandi enggak ya? Mandi enggak sih? Mandi? Enggak? Mandi? " Celetuk bocah mungil yang satu itu. Menggugurkan satu persatu kelopak bunga mawar yang di pegang nya. Yah, ia sendiri bingung menentukan pilihan nya. Haruskah mandi, atau tidak?
"Enggak? Mandi? Enggak? Man--?! " Kelopak bunga terakhir sudah habis. Shiren sekarang sudah tau apa pilihan nya. Ia menghembuskan napas kasar. Berjalan gontai ke arah kamar mandi nya.
-
-
-
"Weekend ini ajak Papah sama mamah jalan - jalan kemana yah? Mereka harus sering jalan - jalan, tapi jangan berdua. Kalo mereka jalan - jalan berdua. Udah jelas, bakal ada fase babymoon nanti. Ohhh tidak! Shiren enggak mau punya adik! Cukup kak Arfen aja, jangan yang lain!!" Celetuk Shiren menyisir rambut nya. Ukh, Membayangkan bahwa dia akan punya adik nanti nya. Ya ampun, kepala anak itu bisa pecah rasanya.
"Gak bisa! Kemanapun mamah papah liburan. Shiren tetep ikut. " Lanjut nya lagi.
***
"Mah, Weekend ini kita liburan ke pantai yah? " Rengek Shiren manja, bergelayut di lengan mamah nya.
"Sayang, Papah ada kerjaaan, dia ada rapat penting. Jadi, Gak bisa. Lain kali aja yah. " Terang Sheryl selembut mungkin.
"Iyah deh. Untuk Shiren apa sih yang enggak. " Nathan mencubit hidung kecil putri nya.
"Emang nya mau liburan kemana? " Sambar Arfen, masih menatap HP nya yang berotasi miring. Apalagi, jika bukan lagi Ngegame?
"Kakak Gak perlu tau. Kakak kan gak ikut. " Ketus Shiren menatap menang ke arah kakak nya itu.
"Dih siapa bilang. Kakak ikut pokok nya. "
***
"Huhhh!! Jus jeruk di tengah panas khas pantai. Uhmm... Sangat melegakan. Shiren suka di sini." Yah, di sini lah mereka saat ini. Di salah Satu Pantai Wisata umum. Niat Nathan ingin ke Pulau pribadi nya. Namun, Shiren menolak. Ia lebih memilih Pantai Umum saja.
"Udah senang sayang? Puas? Ini untuk kamu loh. Karna papa gak begitu suka keramaian. " Tanya Nathan, menatap manis ke arah putri nya.
"Iyah pah Shiren seneng banget. Oh yah, Mamah papah tau gak. Kenapa banyak yang liatin kita? Itu semua karna kak Arfen mah. "
"Karna kakak terlalu ganteng kan? Makanya mereka lihatin kakak gitu? Wajar sih. Mereka kan gak pernah lihat orang seganteng kakak. Yah wajar lah, sampai di liatin gitu. " Sambar Arfen dengan pede nya. Mengulum senyum tak tahu malunya.
Shiren menepuk jidat nya pelan. "Ya Allah kak Arfen! Ngaca atuh! Duh, punya kakak kok gak sadar diri gini?! Iyah mereka emang liatin kita karna kakak! Karna kakak beda sendiri dari kita. Secara, Mamah Sheryl sama Shiren lambang kecantikan dan keimutan yang nyata. Ganteng nya papah Nathan gak usah di tanya lagi. Sedangkan kakak? Owalah! Shiren yakin mereka anggap kakak supir. Mereka heran aja. Kenapa Keluarga kita Bawa Supir gini!"
Cetakkk.
Rasanya Jitakan saja belum cukup untuk menyimbolkan betapa Geram nya Arfen saat ini.
Tawa Nathan dan Sheryl pecah begitu saja. Sheryl tidak tahu, haruskah ia beruntung memiliki putri Seperti Shiren? Ataukah dia harus tepuk jidat?
"Kepala mamah agak pusing nih, karna panas. Mamah balik ke Villa dulu yah. Kalian main aja dulu di sini. " kata Sheryl. Nathan segera gerak cepat, menuntun istri tercinta nya.
Habis! Gak bisa! Jangan! Shiren harus nyusul! Papah dan mamah itu udah tua. Gak muda lagi. Harus sadar!
Batin Shiren, ingin melangkah kan kakinya secepat mungkin. Namun, di tahan oleh Arfen.
Shiren mendengus kasar. Dengan terpaksa ia harus membalikkan wajah nya. Menatap kakak nya yang menurut Shiren bodoh.
"Kak, Foto dong. Soal nya kakak ganteng banget. " seru salah satu dari empat orang cewek yang mengerumuni Arfen.
"Gimana Shiren?? " tanya Arfen dengan tatapan penuh lagak.
"Kak! Shiren masih punya misi yang lebih penting. "
***
**Assalamualaikum, hai hai. Apa kabar? Semoga kita semua terhindar dari Covid-19 yah. Dan semoga kita selalu sehat.
Ada yang rindu My Special Class? Okeh. Buat kalian yang rindu, Author bakal kasih beberapa Chapter tambahan yah^^
Perhatian, Novel ini tetap Novel tamat yah. Cuma Karna Author kangen sama My Special Class makanya up. kalian kangen gak?
Sekian dan terima kasih**.