
***
***
"Gimana? Enak Rasanya di gantung? Melayang di udara? " pekik halus Nathan, duduk manis di bangkunya dengan Dua orang berpakaian serba hitam di belakang nya.
"Kak Nathan Keji! Kejam! Enggak punya hati!! " teriak Lisa yang ada di hadapan nya, dengan terikat di sebuah tiang di sana. Wajah nya sudah di penuhi oleh keringat nya sendiri.
"Iyah, gue emang kejam. Dan Gue emang enggak punya hati. Karna hati gue udah gue kasih Sheryl"
"Kak, okeh. Aku enggak bakal ganggu hubungan kakak lagi. Tapi lepasin aku! Ini sakit kak! Ikatan nya terlalu ketat!! " Ronta Lisa yang berusaha untuk melepaskan ikatan nya.
"Oh? Bukan nya elo suka gantung di Udara. Lo kan mau terbang dari Atap sekolah, nih gue bantuin gantung"
"Jadi kakak tau, soal kejadian di Atap Sekolah. Oh, yah.. Pasti Kak Sheryl yang cerita"
"lo salah. Sheryl bukan tipe cewek pengadu kayak lo!"
"Okeh, terserah. Yang penting kakak lepasin aku, ini sakit. Kenapa kakak kejam banget?! " lirih Lisa merasa kesakitan, hingga air matanya jatuh.
"Kejak mana sama elo yang enggak nolongin Sheryl waktu itu. Lo pernah kepikir gak sih, Gimana kalau Sheryl jatuh. Gue, Nathan Arkasa gak keberatan menghilangkan elo dan seluruh keluarga lo dari Dunia ini" ancam Nathan. Nathan yang sekarang sangat berbeda dengan Nathan yang biasanya.
Ini kak Nathan? Aura nya, seram sekali.. Dia kelihatan seperti iblis yang siap membantai habis siapapun.
"Kenapa diam? Mau gue pindah tempat? "
Lisa menggeleng cepat. Ia tentu tau yang Nathan maksud adalah tempat itu. Di mana Sheryl tergantung di sana.
"Enggak kak! Maaf! Maafin aku! Aku nyesel kak Sumpah!! Kakak lepasin aku! Aku ini anak tunggal papah aku!"
"Terus kenapa? Lo kira gue bakal lepasin lo semudah itu. Haha Naif lo! Siapapun yang ganggu cewek gue. Enggak peduli dia cowok atau Cewek, gue bakal berantas habis! Gantung dia, sama dengan Sheryl waktu itu" titah Nathan kepada dua orang pria di belakang nya.
Mereka mengangguk pasti, berjalan tegap ke tempat Lisa di ikat. Mereka melepaskan ikatan nya, tentu untuk di gantung kan di tempat lain.
Lisa berteriak meronta, ia bahkan sudah memohon pada Nathan. Namun, Nathan masih tidak memperduli kan nya.
"Kak! Aku bakal lakuin apapun yang kakak perintah kan. Tapi, please kak! Lepasin aku! Aku takut ketinggian!! " Mohon Lisa.
Nathan menarik sudut bibir nya, tersenyum puas atas perkataan tawanan nya ini.
"apapun? " tanya Nathan menaik kan sebelah Alis nya.
"Iyah kak. Apapun! Asal kakak lepasin aku! "
"Okeh, Ini mudah. Lo cari yang namanya Gilang Drapan. Lo awasi dia baik - baik" titah Nathan menatap tajam Lisa yang sudah ketakutan.
"Gilang Drapan? Anak pemilik Sekolah Harapan?!"
"enggak kak! Oke aku siap! aku bakal ngawasin Gilang Drapan! Status keluarga kami sama kak! Jadi ini enggak sulit! "
"Bagus. Sadar diri itu penting! " ucap Nathan menyeringai puas.
***
"Dari mana? Kenapa telat? Enggak becus banget. Humph!! " ketus Sheryl sudah menyerocos saat Nathan datang menghampiri nya.
"Yah maap. Tadi mesti ngurus kucing dulu. Nolongin dia, kegantung di Atap tadi" sahut Nathan Santai. kalian semua tau kan maksud dari Kucing?
"Kucing kok bisa di atap? " tanya Sheryl bingung.
"Bisa lah, namanya dia punya kaki " sahut Nathan santai. Membuat Bibir Sheryl semakin mengerucut panjang. Gadis mungil itu lagi ngambek, malah di tambahin.
"Okeh, aku salah.. Yah udah yuk jalan. Ntar Kedai Ice cream nya tutup loh. Ingat, ice cream mang Damang cuma buka sampai jam lima" peringat Nathan. Sheryl langsung terkesiap dan langsung masuk ke mobil.
"cepetan Nat. Nanti kehabisan Ice cream nya" seru Sheryl dari dalam mobil Nathan.
"iyah, iyah Bawel" sahut Nathan tersenyum geli masuk ke mobil nya.
Nathan sudah duduk akurat di Bangku kemudi nya, ia menatap lurus ke depan.
"Kok diam? Cepetan jalan, ntar kehabisan ice cream nya Nat! Ih Rese!" keluh gadis mungil itu semakin kesal dengan semakin lama nya ia berdiam diri di dalam mobil itu.
"Hadeuh... Buru - buru sih, Keselamatan itu penting. Kenapa enggak pakai sabuk pengaman dulu? " sahut Nathan, segera membungkuk ke kiri untuk memakaikan sabuk pengaman nya.
"Hati - hati dong. Lo ini Spesial dalam kehidupan gue" Peringat Nathan lembut, menatap intens mata gadis nya itu. Yang wajah mereka tidak lebih dari jarak Lima centi meter. Membuat kedua nya bisa mendengar napas masing - masing.
Jantung Sheryl berdegub begitu kencang. Begitu juga Nathan. Kedua nya saling mendnegar deguban hati mereka itu.
Pipi Sheryl merona seketika, ia segera memejam kan matanya. Tak kuasa rasanya saat harus berdekatan dengan Nathan dengan jarak seminimal itu.
Cup
Nathan mencium lembut kening gadis nya itu.
"Udah, Sabuk pengaman udah di pakai. Kita jalan belik Ice cream nya mang Damang" ujar Nathan, kembali duduk di kursi kemudi nya, segera melajukan mobil nya.
***
Komenan kalian merenggut stok episode Ai 😂
"