
...***...
"Zah, gue balik ke kelas bentar deh. Buku Fisika gue ketinggalan. Lo masuk mobil duluan aja." Pinta Sheryl yang bergegas kembali ke kelasnya.
Hari itu sudah sore. Semua murid sudah pulang. Di lihat dari kondisi dan situasi nya. Sepertinya hanya Sheryl dan Zizah yang tinggal di sekolah. Yah itu karna permintaan Bu Fera supaya membantu menyusun berkas lama itu. Saat itu Nathan yang kayak perangko dekat dengan Sheryl tidak ingin pergi. Tapi, berhubung ada urusan penting Nathan pun pulang lebih dulu.
Setelah beberapa menit berlariĀ akhirnya Sheryl sampai di kelasnya itu. Kelas yang dia anggap spesial. Matanya menatap setiap sudut ruangan itu. Sepi, tentu saja tidak seperti pagi dan siang hari yang selalu ramai dengan celoteh riuh ricuh mereka.
Segera gadis mungil itu mengambil buku dengan tangan lembutnya.
"Sheryl!! Gue kira siapa?! Kebetulan banget yah" ujar Andy yang masuk ke kelas.
"Apa lagi sih ndy. Gue nggak sudi loh liat muka lo!!" tegas Sheryl.
"Gue udah baik sama lo. Dan ini balasan lo. Jangan salahin gue main kasar!!" ujar Andy senyum menyeringai menutup pintu kelasnya.
"Andy!! Buka gak?!! Awas deh lo gue mau keluar!!!"
"Udah ntaran aja keluarnya. Sekarang main main dulu sama gue."
"Lo? lo mau ngapain?!! Jauhin gue deh!" ringis Sheryl terus berjalan mundur saat Andy mendekatinya. Hingga akhirnya tubuh mungilnya menabrak dinding.
"Kenapa? Kenapa sih sayang? Udah tenang aja. Ini gak bakal lama kok. Gue janji." bisik Andy di telinga Sheryl. Jari telunjuk Andy mulai menyusuri wajah Sheryl. Menikmati setiap detik wajah Sheryl yang ketakutan.
Andy secara perlahan sudah membuka kancing bajunya. Tentu saja niat nya untuk menodai Sheryl.
"Sayang... Jangan salahin gue, salahin diri lo sendiri!"
"Bajingan lo Andy!! Jangan macem - macem lo!! Rei ataupun kakek nggak bakal ngelepasin lo!! Kalo lo sampai nyentuh gue!! Gue pastiin lo menderita di buat Nathan!!"
"Oh yah?? Penderitaan itu gak ada apa - apanya di bandingkan, mencicipi tubuh lo Sher!! Haha!!" Andy benar-benar tertawa puas saat ini, menyaksikan ketakutan gadis mungil itu.
"Kurang ajar lo!!" teriak Sheryl memukul Andy saat ada kesempatan. Segera gadis itu berlari ke pintu. Namun hasilnya nihil. Pintu itu terkunci.
"Tolong!! Tolongin gue!! Tolong!!" teriak gadis mungil itu dengan suara takut nya.
"Teriak!! Teriak aja sayang!! Teriak sesuka hati lo!! toh, ga ada yang bakal dengar juga haha."
...***...
"Apaan sih Sheryl, Ngambil buku doang lama amat." gumam Zizah yang langsung masuk ke sekolah menyusul sahabat nya itu.
Dia terkejut bukan main. Matanya melotot tak percaya. Saat Ia melihat dari kaca jendela kelasnya. Andy yang sudah bertelanjang dada, dan rambut Sheryl yang sudah acak - acakan. Dengan raut wajah takut dan tersiksa.
"Ayolah sayang, jangan ketakutan kayak gitu! Kita belum mulai loh... Ayo kita mulai!! Gue janji deh ini gak bakal lama." ujar Andy tanpa rasa bersalah.
Segera melihat itu Zizah langsung menelpon Rei. Tanpa ba-bi-bu lagi Rei melesat menuju ke sekolah. Namun, ponsel Nathan tidak bisa di hubungi, karna berada di panggilan lain.
PlAKK!!
"Kurang ajar lo Andy!!" pukul zizah menggunakan balok. Tentu saja Zizah bisa masuk, soalnya dia yang megang kunci kelas.
Segera zizah menghampiri Sheryl yang ketakutan.
"Sheryll-- ayo pergi kita--akhhh kyaaaaaa!!!"
"Andy!! Gila!! Lo gila!! Lo iblis! Ga waras! Zah, Zizah bangun zah," Ketakutan Sheryl makin menjadi - jadi, tatkala ia melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri. Karna mencoba menyelamatkan dirinya.
"Itu salah dianya sendiri, siapa suruh ganggu!! Tapi tenang, gue ke lo main nya lembut kok, santai aja." ujar Andy mengurung badan mungil Sheryl di dekapannya.
Andy menatap menang pada wajah ketakutan sheryl. Ibu jari nya menyentuh memainkan dagu Sheryl. Jari telunjuk nya lagi - lagi menyusuri wajah gadis itu, untuk kesenangan sendiri atau hanya sekedar membuat Sheryl takut.
BRUKKK!! BUKK!! PLAKKK!!
Belum sempat Andy mencium bibir Sheryl. Sudah ada yang menendang nya dari samping. Yah Nathan. Pukulan bertubi-tubi Nathan layangkan. Dengan wajah tersulut emosi Nathan terus menghajarnya. Ringisan kesakitan dari teriakan Andy, akibat beberapa kuncian Nathan. Dapat di pastikan Andy lumpuh oleh pukulan Nathan.
"Nathan...." ringis Sheryl menatap Nathan yang saat ini. Nathan yang kasar tanpa belas kasihan. Tidak seperti biasanya, Nathan yang tengil dan rese. Nathan berhenti memukul Andy. Menoleh menatap wajah Sheryl. Sheryl berlari dan memeluk Nathan, teriakan dan isak tangisnya ia keluarkan di dekapan dada bidang Nathan.
"Jangan takut, gue disini, Gue gak bakal lepasin lo lagi, cukup lama gue nunggu lo, kali ini gak bakal gue lepas... Gak akan!!" ujar Nathan serius, tangannya membelai lembut kepala Sheryl.
"Andy...le..pasin..Sheryl!" ucap Zizah terbatah mencoba bangun. Tentu saja ia terkejut melotot tak percaya. Bukan Andy, tapi Nathan yang sudah mendekap Sheryl. Zizah ingat beberapa waktu yang lalu, dia mencoba menelpon Nathan. Tapi Nathan sedang berada di panggilan lain. Hampir saja Zizah salah memukul orang.
"Zizah... Lo gapapa kan?" tanya Nathan.
"Gapapa Nat, tapi lo?! Lo tadi ada di panggilan lain waktu gue hubungi lo."
"Shy!! shyshy!!" Teriak Rei yang baru saja datang. Mendengar Rei, Sheryl melepas pelukannya. Menatap kakak nya itu dengan tatapan yang sangat sedih. Melihat kondisi adiknya yang sudah sangat kacau. Rei langsung menuju ke arah Andy. Memijaknya berulang kali. Mematahkan jari - jari nya. Zizah yang menyaksikan itu mendadak begidik ngeri. Perjalanan Rei yang harusnya 1 jam menjadi 20 menit. Ntah bagaimana caranya. Belum lagi keadaan jakarta yang selalu macet.
"Kak Rei... udah." pinta Sheryl dengan suara lirih.
Tentu saja, dengan berat hati Rei menghentikan aksinya.
"Tapi.., lo Nat, kok bisa datang cepet banget?! Kok lo tau kita lagi di kelas?!" tanya zizah masih penasaran.
"Itu karna ini...." Balas Nathan menunjukkan hp nya. Yang ternyata masih melakukan panggilan telepon dengan Sheryl.
Flashback:
Waktu sheryl lagi mau ambil buku, ternyata saat itu juga dia lagi telponan. Maklum saja Nathan yang biasa balik bareng Sheryl merasa kesepian karna kali ini mesti balik sendiri.
"Jadi lo ada di panggilan lain, karna masih telponan sama Sheryl?!"
"Singkatnya sih gitu, ya udah gue mau anter Sheryl ke rumah dulu, Zah lo ikut bareng gue. Oh yah nih ajak Sheryl pergi ke mobil gue."
Segera Zizah dan Sheryl melenggang pergi lebih dulu. Meninggalkan Nathan, Rei dan Andy yang tengah terkapar tak berdaya.
"Malam nanti!! Kalo lo udah selesai nyiksa dia, gue bakal kirimin orang - orang gue, buat ambil dia! Dan yah dia harus dalam keadaan hidup!"
Pinta Nathan dengan penekanan di setiap katanya. Pria dingin itu kini tengah pergi melenggang begitu saja.
"Hahaha, manteb juga tuh bocah, bisa buat lo di ambang kematian gini, meski gitu, dia masih mau nyiksa lo lagi!!" ujar Rei menendang pelan badan Andy. "Udah gue duga, Nathan bakal jagain adek gue, apapun yang terjadi." tambahnya lagi, yakin akan Nathan.
...***...
"Tuan Wijaya, kami di perintahkan oleh tuan muda Nathan untuk membawa orang ini!" ucap pria serba hitam itu sopan pada Rei. Hanya dengan aba - aba tangan yang artinya Rei udah izinin tawanan itu pergi.
"Andy.., Andy..., Lo terlalu lemah dan bodoh buat jadi lawannya Nathan. Liat sekarang, bahkan jika lo mati! Keluarga lo gak bisa apa - apa!! Di tangan keluarga Arkasa!!" gumam Rei menyeringai .
...***...