My Special Class

My Special Class
(S2) Episode 47



***


"Yang jelas di sini tugas gue lah yang paling sulit. Untung muka gue ganteng nya asli. Kalo KW, uweew udah hancur lebur. " sahut Nathan ikut duduk di sebelah Rei.


"Andrean. Siapkan pasukan lagi, tapi ini cukup pasukan Ak saja. Katakan Setengah jam lagi, ada rapat untuk mereka" titah Nathan lagi, kali ini ia sangat serius.


"Baik Tuan Muda" sahut Andrean pergi begitu saja.


"Jadi Bagaimana Rei? Sudah mendapat kan nya? Sudah mendapatkan cetak biru rumah itu? " Tanya Kakek Wijaya serius, menatap intens Dua cowok yang tengah duduk santai di hadapan nya ini.


"Kalo Rei enggak dapet cetak biru nya. Gue bogem sekarang juga. Gue udah hampir mati nih" Sambar Nathan.


"Halah,,, lebay lo." Sahut Rei mencoba memukul bahu Nathan. Sontak dengan cepat Nathan menatap intens Rei, membuat Rei menghentikan niat nya. "Udah kok kek. Cetak Biru aman. Kakek benar, Rumah itu enggak sesederhana itu. Banyak sekali Senjata rahasia di balik dinding dan Lukisan. Kalau kemarin kita melakukan serangan besar - besaran. Fix, kita kalah "


"Sudah Kakek duga. Kalian pelajari Cetak Biru itu. Buat Rencana penyerangan baru lagi. Kita harus menghabisi Farhan, agar shyshy bisa tenang selamanya "


"Selama Nathan hidup, Shyshy aman kek. Kalo pun Nathan jadi hantu, Nathan juga akan jadi hantu penjaga Sheryl " Celetuk Nathan santai. "oh yah Kek? Soal sekolah kita gimana? "


"Udah Urusan kakek. Yang penting kamu selametin Shyshy"


"Aman kek. Mau punya cicit kan? "


Bukhhh


Dengan santai nya Rei menepuk Jidat Nathan, membuat Cowok tengil itu melotot tajam.


***


"Tuan Muda Nathan. Seluruh pasukan Ak sudah di sini" lapor Andrean menyambut Nathan masuk.


"Bagus, semuanya duduk" titah Nathan yang duduk di kursinya.


Mereka semua mengikuti titah Nathan yang meminta mereka duduk.


"Key, Bagaimana? Mendapatkan hasil?" tanya Nathan dengan sorot mata Tajam menatap Pria bertopi Hitam itu, yang duduk tak jauh darinya.


"Lebih memuaskan dari yang anda Duga " sahut Pria itu. Yah Key, dengan bangga nya.


"hmmm? " Nathan menaikkan sebelah alisnya, menatap Anggota nya yang begitu percaya diri.


"Hasil penyelidikannya kami adalah, bahwa Farhan tidak membunuh Tuan Wijaya. Tuan Wijaya di bunuh oleh Penembak Jitu dari Atas Gedung. Dan Fakta nya lagi, bla bla bla" jelas Key dengan sangat Sempurna.


Mereka semua diam membeku, tak ada yang berani berbicara. Nathan terlalu menyeramkan memaksa Bibir mereka mengatup rapat akurat.


"Fany, Lo Sebagai perempuan liat Gue. Apa Gue masih ganteng? Dengan luka sedikit ini? " Tanya Nathan menatap intens gadis serba hitam yang berdiri di belakang Key.


"Tuan Muda butuh kaca? Wajah seganteng itu, gimana bisa jadi jelek karna sedikit luka" sahut Fany jujur.


"Bagus, Gue bangga. Oh yah, kalian semua pelajari cetak biru sebuah Rumah. Kita bakal ngelakuin permainan Menyenangkan. Huh... Sangat mendebarkan" Kata Nathan menyeringai, menatap kosong di depan nya, yang ada di pikiran nya hanya Sheryl.


"Baik Tuan Muda Nathan"


***


Tampak secercah cahaya datang dari pintu, menerangi sebagian ruangan yang redup itu.


Aisyah mendongak, tampak Ken lah orang yang membuka pintu dan masuk dengan membawa Nampan berisikan Makanan.


"Pergi! Aku enggak mau liat kamu! " sentak Aisyah langsung, bahkan saat Ken sendiri belum dekat dengan nya.


"Tapi aku maunya liat kamu makan" sahut Ken santai.


"Aku enggak cinta sama kamu Ken. Aku cuma cinta sama Rei, Aku cuma Sayang sama Rei!! "


"haha, Kamu mau dengar enggak Syah. Kisah Malam itu, dimana Papah Sheryl dan Rei meninggal" lirih Ken menatap mengancam pada Aisyah. Aisyah diam, ia tak terlalu ingin mendengar kisah gila itu.


"Hari itu, Reyza Wijaya lah yang ingin membunuh Tuan Muda. Dan Tuan Muda bukan lah pembunuh Reyza Wijaya. Heii, Aisyah sayang.. Apakah kau masih akan tetap mencintai Anak dari Ayah yang mencoba membunuh kakak mu dan menghancurkan keluarga mu? Aisyah, kau adalah gadis yang cerdas. Berpikirlah Logis" Hasut Ken, berharap Aisyah ikut membenci Rei dan seluruh Keluarga Wijaya.


"iyah Kau benar, aku bakal tetep cinta sama Rei, bahkan jika dia anak dari Ayah yang menghancurkan Keluarga Ardinanta. Kenapa? Ngerasa enggak logis? Haha bener. Cinta itu enggak logis." sahut Aisyah santai, ia bahkan memberikan tatapan meremehkan pada Ken.


Ken mengepalkan tangan nya kuat, menahan emosi akibat jawaban Aisyah ini.


"mungkin kau harus menenangkan diri, dan berpikir lebih jernih. Aku pergi , dan jangan lupa makan" ucap Ken bangkit meninggalkan Nampan berisi makanan itu di Nakas. Ken pergi begitu saja.


"Kau tau Ken. Fakta yang sebenarnya. Faktanya Papah Reyza bukan ingin membunuh Kak Farhan, tapi Papah Reyza lah yang menyelamatkan Kak Farhan." ucap Aisyah, sukses menghentikan Langkah Ken yang ingin keluar dari pintu.


***


Next?


Lanjutt??