
...***...
"Gue sih iseng, kayaknya seru juga nipuin lo." balas Sheryl memasang wajah lugu tak bersalah. "Gue harap lo masih ingat sama taruhan dan janji kita, lo gak bakal jilat ludah lo sendiri kan?" cibiran pedas dari Sheryl terlontar.
"Janji mana, taruhan apa? Gue gak ingat tuh." balas Renata senyum menyeringai. "Lagipula ga ada bukti juga kan gue buat taruhan gitu, dan kelas gue tetep peringkat pertama tuh." balas Renata melenggang pergi.
"Dasar cewek sampah! Gak punya harga diri lo." teriak zizah emosi, geramnya ingin sekali menampar wajah mereka.
"huh..berani bertaruh sama gue? Kalo kelas lo ini bisa masuk jajaran 3 teratas, gue Renata dari XI IPA 1, siap di arak keliling sekolah dengan tulisan di jidat gue XI IPA 5, dan gue izinin kalian semua tanda tangan di seragam gue!!"
"Oh ga ada bukti? Terus ini apa?" ujar Nathan berdiri di belakang sheryl memegang hp itu.
"Kurang ajar lo! Lancang!" kasihin ke gue hpnya!" teriak Renata mencoba mengambil hp Nathan.
"Masih mau ga nepatin kata-kata lo lagi?" ledek Nathan. "Nanti jam 9 gue mau lo ada di kelas kami, pake seragam lo yang rapi, siap-siap mau kita coret. Oh yah jangan lupa yah. Lo kan pikun!" ledek Nathan melenggang pergi bersama yang lainnya.
...***...
"Haha lucu yah, akhirnya dia kemakan omongan sendiri, geli liatnya." ujar Zizah menatap Geli Renata yang berkeliling sekolah, menjadi bahan tertawaan, dengan seragam aneh itu. Dia dan yang lainnya tertawa terpingkal.
"Mampus sih lo, siapa suruh ganggu kelas kita." sambung Regata.
"Wah wah ternyata kalian di sini, bapak cari kalian ke kelas loh." ujar pria itu datang mengahampiri. Yap, beliau adalah Pak Ghani.
"Eh bapak, udah nangis belum?" tanya Nathan .
"Kenapa bapak mesti nangis?" Heran Ghani.
"Yah karna terharu lah. Liat tuh kelas kita dapat peringkat kedua." balas Nathan menunjuk mading.
"Oh itu yah yah yah... Eh!!! Apa?! Kelas kita dapat peringkat ke dua?!" ujar pak Ghani segera bergegas ke papan mading.
"Tuh kan liat, kita ga bohong loh." Ujar Nathan.
"Ka..kalian.." ujar pak Ghani terharu memeluk Nathan segera. Uhh rasanya sesak.
"Peluk sih peluk pak, tapi gak usah pake tenaga juga dong, penyet nih saya."
"Haha cemen kamu!! Oh yah ini adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah bapak terima."
"Ehh hari ini ulang tahun bapak?!"
"Ja-jadi kalian gak tau? Bapak kirain kalian sengaja buat ini." ucap Pak Ghani lesu seketika. "Tapi ga masalah, yang penting ini berita bahagia buat bapak."
"Wah makan-makan dong pak, ini kewajiban sesuai tradisi." jelas Nathan sok keren.
"Apa sih Nat, mungkin aja pak Ghani lagi sibuk loh." bela Sheryl dengan wajah kepalsuan.
"Yah udah yuk, bapak traktir!" ajak pak Ghani yang langsung melenggang pergi.
...***...
"Katanya lagi ada urusan semua pak, sisa kita deh nih calon suami istri, pasangan sejati, yang tak kan terpisah sampai mati." ujar Nathan ngeles aja taunya.
"Apa sih Nat, norak lo." balas Sheryl yang langsung duduk di kursinya.
"Kalian ini memang serasi, bapak harap kalian langgeng sampe tua." belas Pak Ghani yaang langsung menepuk pundak Nathan yang cengengesan.
"Kalo cuma Nathan sih bisa tahan, kalo ada dua, kayak nya gue bakal stress." gumam Sheryl mengaduk minuman nya. Hari sudah malam. Mereka juga sudah selesai makan.
...***...
"Bapak mau pulang? Mau kami antar?" tanya Sheryl sopan.
"Ah ga perlu deh, bapak gak mau jadi nyamuk antara kalian berdua." ledek Pak Ghani.
"Wah bagus dong pak sadar diri. Biar saya kan bisa mesra-mesraan sama si Sheryl." balas Nathan ketus.
"Untung cerdas, kalau engga, bapak gatak juga kamu." desis pak Ghani tak habis pikir.
"Apa sih Nat, udah pak jangan dengerin Nathan, yuk pak naik." Sambung Sheryl sopan dan lembut.
Hanya perlu 20 menit, dari restaurant itu ke rumah pak Ghani.
...***...
"Pak gak minta kita mampir dulu gitu, basa-basi kek." ketus Nathan yang turun dari mobilnya.
"Oh emang kalian mau mampir?"
"Iya sih pak mau, lihat rumah bapak, katanya orang yang tinggal sendiri itu rumahnya gak ke urus." ledek Nathan sangat mak jlebb di hati.
"Kamu yah Nat, kalo ngomong bisa di saring dulu ga? Kalo ga cabe dirumah bapak masih banyak loh."
Langsung saja pak Ghani berjalan ke pintu. Saat pak Ghani ingin membuka pintu. Pintunya telah terbuka. Tentu saja tingkat kewaspadaan mereka meningkat drastis. Dengan langkah pelan dan aman. Mereka mulai memasuki rumah.
"Dorrr!! Haha !! Happy birth day Pak Ghani, selamat ulang Tahun yang ke 82 eh maksudnya 28 deng." suara ledakan dan di meriahkan oleh kertas warna warni yang meledak dari balon, keluar saat pak Ghani membuka pintu rumahnya. Air mata setetes itu jatuh. Harunya dia. Melihat semua murid XI IPA 5 berkumpul merayakan ulang tahun nya.
"Udah tua pake nangis lagi, sayang tuh aer pak." ledek Andrian mendapat sambutan sikut Dari Zizah. Mulutnya lemes amat kayak si Renata.
"Selamat ulang tahun pak, semoga yang di semogakan tersemogakan." doa Sheryl singkat jelas dan padat. Perfect.
"Aamiin... Duh emang nih calon mamanya anak-anak gue, kalo doa memang manteb." sambung Nathan yang di bumbuhi gelak tawa.
"Pak potong dong kuenya??"
(backsound happy birth day bukan new year)
Malam itu, mereka merayakan keberhasilan ujiannya, dan merayakan ulang tahun pak Ghani dengan mengadakan acara barbeque bersama.
...***...