
***
"Good job guys! Latihan hari ini cukup, kalian boleh balik ke kelas. Besok kita latihan lagi, okeh? " seru Nathan memainkan bola basket di tangan nya.
"oke, siap pak ketu! " sahut mereka semua kompak.
Pertandingan dengan aekolah Harapan semakin dekat, memaksa anggota Tim Basket sekolah Merah Putih itu berlatih keras. Sejak ada di tangan Rei dan Nathan, tim basket ini tak pernah terkalahkan. Bahkan menjadi pencetak poin paling banyak sepanjang sejarah sekolah.
"kita balik duluan yah kak" seru nya, Derry. Dia adalah calon ketua osis sekaligus ketua basket yang Nathan percaya. Meneruskan jejak nya Rei dan Nathan.
Nathan meraih botol minuman nya, yang sebelum latihan di berikan oleh pujaan hati nya.
"Nat, bagi minum. Punya gue habis nih" seru Rega, mengulurkan tangan nya.
"Dih mimpi lo sana di kali! Enak aja! minuman dari calon binik gue nih" anggar Nathan.
"Dih, lebay. Noh minuman kayak gitu banyak di kantin. Berserak tau gak! "
"Yah udah sono belik di kantin"
Rega ingin memukul wajah tampan Nathan, ia kembali menarik tangan nya, menyadari bahwa kemampuan bela diri nya tidak sebanding dengan Nathan.
"Dih pelit! " gerutu Rega.
"Bodo amat pelit, yang penting ganteng" sahut Nathan menyisir rambut nya dengan tangan nya. Bergaya layak nya pangeran nan tampan dari Negri dongeng.
"udah akh, yuk balik kelas. Gue rindu berat nih sama Zizah. Suer dah" ajak Andri, memakai sepatu nya.
"mereka gak di kelas, mereka lagi di kantin. Gue baru dapat kabar dari Airin" sambar Agung yang menyemprot kan minyak wangi nya.
"Oh iyah hampir aja lupa. Gue bau nih, yah kali kan kaya gini mau ketemu permaisuri. Bagi minyak wangi dong" sahut Regata mengambil minyak wangi dari Tangan Agung.
"Bokap lo bangkrut ga? Kok serba minta sih, kasian loh nanti Klara, mau lo kasih makan apa?! " sambung Nathan. Regata melotot tajam ke arah Nathan. Berharap Nathan merasakan perasaan tertusuk menerima tatapan nya. yah. hanya tatapan lah yang mampu Rega berikan.
Tapi, itu adalah Nathan Yang hanya memiliki satu ketakutan. Yaitu hilang nya Sheryl dari kehidupan nya. Tapi, Nathan sendiri yakin bahwa itu tak kan pernah terjadi.
"oh yah Gung. Enak yah jadi lo, Airin pengertian banget. Serius deh, dia dikit - dikit kasih kabar ke elo. Gue ke Klara, kalau gue gak nanyak dia gak bakal ngasih kabar. Gak nanyak lebih parah lagi, dia ngambek seharian. Untung gue sayang banget ke dia" sahut Regata, yah dia sedikit curhat mengenai tingkah kekasih nya.
"Airin ngasih kabar? Gak salah tuh? Ada juga kali nih si Agung nanyain kabar nya Airin mulu" ledek Nathan merasa sahabat nya ini dalam pengaruh bucin tingkat tinggi.
"Bucin amat lo Gung. Sadar bro, hidup bukan cuma soal cinta" celetuk Andri merasa dia paling bijak.
"Gung, udah lo rekam kan? Ntar kasih denger ke Zizah, biar si Andri tau rasa"
"Aman Nat, rekaman jelas kok" sahut Agung menyimpan aman ponsel nya di kantong, kemudian kedua nya saling memberikan jempol sebagai tanda apresiasi kerja sama yang bagus.
"Traktirin kita gimana? " tawar Nathan.
Andri menghembuskan Napas kasar, mau tidak mau dia harus menjadi pohon uang sementara Nathan dan Agung. Lebih baik begitu, di banding Zizah marah dengan nya.
"udah yuk kantin, Temuin binik - binik kita" ajak Regata berjalan memimpin Tiga lain nya di belakang.
Dapat di pastikan mereka berempat sudah terkena virus kebucinan yang akut. Dan parah nya lagi, tak ada yang tahu setinggi apa tingkat kebucinan mereka.
***
"Gimana Din? Udah dapat rekaman nya? Full kan?" tanya Dean menatap senang seorang pria yang menghampiri nya duduk di taman sekolah.
"Udah dapat kok Den. Gue udah pindahin ke Flashdisk, Nih. " sahut nya memberikan sebuah flashdisk itu. Dengan tawa dan senyum sumringah Dean menerima nya.
"Bagus banget kerja lo, tetep jadi mata - mata di Tim basket Merah putih. Dan terus Rekam hasil latihan kalian. Gue bakal kirim ini ke kakak, supaya dia bisa tahu gerak gerik lawan nya. Dan bakal menjatuh kan SMA merah putih dengan telak! "
"Ingat janji lo yah Den, gue balik dulu"
Dia adalah Radin, anak baru kelas X yang merupakan tim basket Nathan.
***
Nathan cs masih menggunakan seragam tim basket nya masuk ke kantin dengan gaya. Ia berjalan sembari memain kan bola basket dengan jari telunjuk nya. penampilan mereka yang sekarang menambah tingkat ketampanan nya. Para anak kelas X yang baru menegenal mereka terpanah, khusus nya dengan Alden.
Mereka mengedarkan pandangan nya, mencari dimana letak binik - binik nya berada.
"Buk Bakso Empat yah" pesan Nathan duduk di bangku panjang sebelah Sheryl, memaksa Zizah untuk bergeser.
Tanpa permisi, Nathan sudah melahap nasi goreng milik Sheryl di hadapan nya.
"Ikh, ini punya gue" celetuk Sheryl menarik nasi goreng nya.
"Punya istri, punya suami jugak. Udah lah berbagi. berbagi itu indah, apalagi sama cowok yang ganteng nya kayak gue" sahut Nathan santai, meminum jus jeruk di hadapan nya.
Meski Sheryl sudah melotot tajam. Nathan masih melanjutkan pekerjaan nya, minum jus itu hingga tak tersisa. Sheryl hanya memutar bola matanya dengan jengah, melihat tingkah cowok ganteng nya itu.
***
Author, S2 nya kurang greget? Haha iyah wkwk..
Silah tinggal jejak yah, like, komen, and vote. Hehe