
***
"***
"pagi ma, pagi kak-" ucapan Sheryl Terhenti saat menatap kakek, matanya mengisyaratkan ketidak nyamanan akan kehadiran kakek. "pagi kek--" tambah nya niat nggak niat.
"loh ? Sheryl udah siap?? Tapi, Nathan belum datang loh" tanya kakek mendapati sepertinya cucu kesayangan nya itu, sedang dalam mood yang buruk.
"Nathan?? Gak salah nih papah nanyain Nathan??" sambung Aryani.
"bukan nya, kakek gak kasih Restu Nathan sama Sheryl yah?? " tambah Rei membuat situasi semakin panas.
"Nathan nggak datang, karna dia udah nyerah sama Sheryl!! Ini semua salah kakek!! Kakek yang terlalu banyak permintaan!!" jelas Sheryl masih marah.
"kakek gak maksud gitu, kakek mau nguji Nathan aja. Dan lihat, baru gini aja Nathan udah nyerah. Kakek pikir dia yang terbaik buat kamu. Hah... Nyatanya sampah.. Baru gini aja udah mundur teratur!! Mengecewakan!!!"
"papah jangan ngomong gitu dong"
"mengecewakan?!! Apa kakek gak berfikir, tuntutan yang kakek kasih ke Nathan terlalu berat. Ini udah pada batasnya?!! Kenapa kakek nggak kasih restu juga!! Dari bertahan Saat Sheryl di jodohin!! Bertahan saat kakek lebih milih Andy!! Dan lihat gimana si Andy pilihan kakek itu!! Lebih rendah dari sampah!! Dan setelah semua itu kakek nggak kasih restu ke Nathan. Nggak kah kakek ngerasa ini berlebihan?!!!" bentak Sheryl di penuhi emosi.
"Sheryl, kakek nggak gitu. Rei kasih penjelasan ke adik kamu ini. Soal kakek begitu percaya sama Nathan, dan kakek udah janji bakal kasih restu" bela kakek menatap Rei, tapi Rei malah dengan santai makan dan mengabaikan tatapan kakek.
"jadi pagi ini Si Tengil itu nggak datang karna kakek?! Ck ck kakek emang kelewatan!! Udah yuk pergi bareng gue" ajak Rei menarik tangan Sheryl melenggang meninggalkan kakek yang terpuruk dalam kesedihan. Bagaimana tidak, kedua cucu kesayangan nya kini tengah marah. Pasalnya, kakek yang biasa begitu di hormati, sekarang malah di acuhkan. Padahal kakek sendiri memang sedari awal menyetujui hubungan Nathan dan Sheryl.
"Aryani mau kemana?? Papah belum selesai sarapan!" tanya kakek melihat Aryani melenggang pergi.
"maaf pah, Aryani kurang sehat"
"kenapa jadi seperti ini" gumam kakek, memegang dahinya. Nyut nyutan rasanya.
***
"itu bukan nya Sheryl yah, pacarnya Nathan kan?? Kok jalan sama Rei Wijaya sih?!"
"tau tuh! Udah embat si Nathan!! Masa mau ambil Rei lagi!!"
"dia kan matre. Wajar aja sih, keluarga Wijaya dan Arkasa sama tingkat kekayaan nya"
"dasar cewek matre!!"
"gue bakal kasih tahu Nathan!!"
Cibiran pedas itu tentu saja terlontar dari para fans Nathan dan Rei, dua orang terganteng dan terkaya ini tentu saja menjadi incaran para gadis.
Rasa iri muncul di hati mereka semua, melihat Sheryl yang berpacaran dengan Nathan Arkasa tapi juga menggandeng tangan Reihan Wijaya. Tatapan sinis mereka tujukan pada Sheryl.
"kakak gue yang ganteng nya gak ketulungan. Noh liat kan mereka!! Susah liat orang senang! Para fans lo tuh" ujar Sheryl menatap para kumpulan kumpulan rempong itu.
"wah kalo soal ganteng? Emang udah dari lahir. Lo aja jelek gitu"
"serah lo Kak, serah!"
"udah masuk kelas gih, jangan di pikirin mereka. Yang perlu lo pikirin, gimana biar hari ini semuanya lancar"
"iyah, iyah aman bro!!"
Mereka berdua berpisah di parkiran, tepukan tangan yang khas yang mereka ciptakan saat berpisah dan bertemu, khsusnya kalo Lagi kumat.
Lagi, dan lagi tatapan sinis dan cibiran sedari tadi mereka hadiahkan pada Sheryl. Dari awal datang sampai istirahat pertama.
Tanya Zizah merasa kurang nyaman.
"oh, tadi pagi gue berangkat bareng Rei. Dan turun dari mobil bareng Rei. Ngomong salam perpisahan di parkiran" balas Sheryl mengaduk es nya.
"oh. Pantasan aja, satu sekolah heboh semua! Ternyata satu pangeran mereka lagi jalan sama cewek. Pangeran dingin nan arogan itu. Hah pasti mereka iri"
Hanya anggukan kepala yang Sheryl berikan. Menandakan iyah. Bodoamat adalah pilihan yang tepat untuk mengatasi situasi seperti ini, begirulah pikirnya.
***
"eh gimana udah siap??" tanya Nathan dalam mobil.
"yap siap!! " balas Sheryl di ujung telpon.
"hah, siapkan jadi istri gue..okeh gue jemput lo, kita ke KUA sekarang. Malam minggu ini, siap - siap ramaikan jalan lintas"
"Gendeng!!" tut tut tut
Sambungan terputus, Sheryl sudah menutup telpon nya lebih dulu.
Nathan tersenyum tipis menggenggam hp nya, di injak nya gas mobil, segera melesat laju ke arah kantor kakek.
***
"selamat malam kek, saya kesini karna ada satu hal" ucap Nathan menghampiri kakek di ruang kerjanya. ntah bagaimana caranya dia masuk, Perusahaan pusat Wijaya Grup bisa dimasuki nya dengan mudah.
"Ada apa? Minta restu??" tanya kakek menutup berkas, menaikkan alis nya menandakan kesombongan.
"benar sekali kek! kakek nikmati aja balasan nya! hehe" dengan gerakan sigap Nathan yang membungkam mulut kakek dengan saputangan yang sudah di beri obat khusus. Beberapa saat kemudian kakek pingsan. Nathan membawa kakek ke mobil.
tentu saja itu dihalangi para petugas kantor, namun sebuah Lencana putih berkilau di angkat oleh Nathan, lencana milik Rei itu, yang menandakan keturunan kandung keluarga Wijaya, hanya ada 3 di dunia ini saat ini. hanya Rei, Sehryl, dan Aryani yang punya. menatap lencana itu, para petugas diam membisu, bahkan malah membantu Nathan memapah kakek ke mobil.
***
"akh...di mana? A...ku??" desis kakek membuka matanya perlahan, bangkit dari baringan nya. Dengan posisi tangan yang terikat, Kakek meronta - ronta berusaha melepaskan ikatan, sambil sesekali berteriak minta tolong. Kembali kakek mengingat nya. "Ini semua ulah Nathan!" desis kakek tersulut emosi saat menyadari semuanya. pandangan nya jatuh pada ruangan jelek dan gelap ini, penuh debu dan sarang laba-laba. ini terlihat seperti gudang.
"ukh..tolong!! Tolong!! Berteriak lah sesuka hati kakek. Tak akan ada yang mendengar" cibir Nathan Menirukan teriakan kakek saat minta tolong. cowok tengil ini santai yang baru masuk dengan langkah arogan nya.
Kini, tangan Nathan yang sudah menggenggam pisau berkilau, sangat tajam. menyusuri wajah kakek yang di penuhi keringat.
"Sialan kamu Nathan! Saya pikir kamu berbeda!! Ternyata sama saja, Sampah!! Kau menyerah saat kau tidak mendapat restu. Pengecut!!"
"oh? Lalu kau pikir aku peduli??"
"Brengsek kau!!"
"kakek jangan terlalu emosi, ingat umur, udah tua. Hehe"
"Durhaka kau Nathan!, sampai mati pun aku tidak akan merestui mu!!"
"aku tak butuh restu mu~"
***
Ayoo like, komen, and vote yah
Jangan lupa follow juga