My Special Class

My Special Class
Episode 10 ( Revisi )



...***...


Hanya perlu beberapa jam saja, untuk membuat Sheryl dan Arumi akrab, Layaknya ibu dan putri kandung. Ditambah lagi mereka telah selesai memasak makan siang, dan mulai menghidangkannya di meja makan. Tepat sekali papanya Nathan sudah datang. Iyap dia adalah Herman Arkasa, salah satu pengusaha terkenal di indonesia.


"Wah kita ketemu lagi yah, Sheryl?" ucap Herman penuh penekanan yang meletakkan jasnya di sofa dan duduk di kursi utama meja makan.


"Eh... loh? Om yang tadi pagi kan?!" ucap Sheryl menyadari bahwa pria paruh baya tadi pagi itu kini ada di hadapannya, yap ia adalah Papanya Nathan.


"loh pa? papa ngisengin calon menantu yah?" terka Arumi, dia paham betul sifat suaminya itu.


"Ngisengin gimana maksudnya ma?"


"Maafin om ya Shery, dari awal om tuh udah tau kamu pacarnya Nathan. Habisnya Nathan tiap malam liat foto kamu terus sih. Udah gitu ada lukisan spesial wajah kamu lagi. Yah maafin om ya." ujar Herman lembut mengusap kepala Sheryl. Sheryl diam sejenak. Bukan karna terkeju, tapi karna gadis itu merasa seperti memliki ayah lagi.


"Eh iyah om, tapi aku bu--"


"Kok manggil nya om sih. Kamu manggil istri saya mama jadi manggil saya juga harus papa."


Sheryl terdiam sejenak, ada hati kecilnya yang bersorak bahagia.


"Eh iya papa." jawab Sheryl tersenyum lembut dan ria, bagai melepas semua beban. Satu kata, indah.


"Wah wah... Kalo gitu Sheryl juga manggil Nathan sayang dong atau suamiku jugak boleh." sambung Nathan yang baru pulang, meletakkan tasnya di meja. Dan membuka jaket hoodie yang di letakkan di sofa gitu aja.


"Oh ya Nathan, dia ini anak papa, kalo kamu macam-macam sama dia, awas mobil dan segala aset, papa tahan."


"Dih.., disini ku merasa kayak anak kucing yang kebuang deh."


...***...


Jadwal belajar kelompok sudah di mulai sejak 2 minggu lalu. Banyak perubahan pesat terjadi. Beberapa kali Sheryl sudah berkunjung ke rumah Nathan. Ntah itu karna belajar kelompok atau kunjungan pribadi. Yang jelas Sheryl sudah sangat Akrab dengan mama dan papanya Nathan. Restu orang tua Nathan sudah di dapat. Tinggal menunggu respons keluarga Sheryl.


Besok adalah weekend, sore itu Sheryl yang asyik chattan dengan Nathan di ganggu kakaknya. Duh rese bener dah Rey.


"woi cewek semampai, semeter gak sampai. Temenin kakak yuk ke mall." ledek Rei menarik hidung adiknya itu.


"ini nih kalo otaknya udah geser, matanya katarak, engga liat apa aku nih lebih dari semeter." ketus Sheryl mengelus hidungnya yang di tarik Rei.


"lebih dari semeter aja bangga, masuk klub basket naikikin tiga kursi buat masukin bola ke jaring juga belum sampai."


"serah gue lah. Ini kan tinggi gue. Lagian lo ini minta tolong tapi ngehina. Ada rasa sopan enggak sih??"


"iya deh iya, adek gue yang cantik nya ga ketulungan, temenin kakak yuk ke mall, beli baju."


"Bukannya baju kakak banyak?? Buat apa lagi??"


" lupa yah? Besok kakak udah mulai ke kantor di suruh kakek, jadi mau cari baju formal. Ayolah temenin. kakak engga gitu ngerti fashion."


"Boleh aja sih. Tapi syaratnya ada, kaka harus nurutin 1 permintaan aku. Apapun itu!"


"sepakat. Udah yu pergi"


...***...


Mereka sudah masuk ke Mall mewah dan terbesar di jakarta. Memasuki beberapa brand baju ternama. Akhirnya mendapat banyak Jas formal yang di beli. Semuanya sangat bagus, dan tentunya itu sangat mahal. Entah karna bajunya memang keren, atau Rei yang memang terlahir tampan yang jelas Rei keren. Awalnya sih cuma mau beli baju buat Rei besok. Nyatanya Sheryl jugak bawa banyak barang.


Letih berbelanja, mereka istirahat di restaurant mall. Karna usia mereka yang amat sangat dekat untuk ukuran kakak adik. Sejak memasuki mall banyak yang mengira mereka berpacaran, ya itu wajar sih. Dari tatapan dan desas desus bisikan. Dan itu bukan hal baru bagi Rei dan Sheryl sendiri.


"Eh Nat, jadi bokap nyokap lo udah restuin lo sama Sheryl? Dan mereka udah tau status Sheryl?" tanya Regata antusias.


"Iya dong gue udah ceritain ke nyokap bokap gue, dan mereka restu--" ucapan Nathan terpotong, matanya tajam nan sinis melihat dua orang makan di meja ujung sana. Iya mereka adalah Rei dan Sheryl. Andri dan Regata juga melihat ke arah sana melongo tak percaya.


"Itu bukannya Sheryl sama Rei dari XII IPA 1? mantan ketua osis dan basket dulu, dia juga putra sulung keluarga Wijaya yang terkenal itu loh." sambung Agung melongo heran. Bagaimana mungkin Sheryl gadis sederhana itu bisa dekat dengan pewaris Wijaya Group itu. Bahkan orang kaya kelas atas yang ingin mendekatinya sangat sulit. Apalagi dengan kepribadiannya yang sulit di tebak.


"Tungguu~ mereka kelihatan mesra banget. Apa jangan-jangan mereka pacaran yah??!!" ucap Andri mengambil kesimpulan sendiri.


"Gue diciptain punya mulut buat nanya penjelasan, dan telinga buat denger penjelasan. Hari ini gue bakal gunain dua indra gue ini!!" desis Nathan.


Melihat Rei dan Sheryl pergi. Nathan tak sabar mengejar mereka dengan motornya. Berusaha sebaik mungkin agar tidak ketahuan sedang menguntit. Setelah beberapa lama akhirnya mereka tiba di gerbang Rumah Utama keluarga Wijaya. Puluhan bahkan ratusan hal yang sudah Nathan terka di dalam hati dan otaknya. Menerka apa yang terjadi sebenarnya. Dan tangannya sudah begitu gatal tak sabar melayangkan bogeman pada Rei. Dia menyatukan dan menggertakkan giginya emosi, melihat gadisnya berjalan dengan pria lain. Saat mobil Rei memasuki gerbang dengan cepat motor Nathan menerobos dan berhenti di depan mobil abu-abu Rei.


"Turun lo bajingan, bedebah sialan!!!" teriak Nathan yang di butakan emosi, Melepas Helmnya. Sebelum Rei berdiri dengan sempurna setelah turun mobil, satu pukulan hebat sudah Nathan layangkan di wajah tampan Rei hingga Rei terjatuh menatap pintu mobil.


"Nathan!! Lo ngapain di sini??!!" teriak Sheryl yang ikut turun dari mobil.


"Udah Sher, Lo tenang aja, gue ada di sini. Lo tetap di belakang gue." tekan Nathan menarik tubuh Sheryl untuk berlindung di belakangnya. "Dan buat lo, kakak mantan ketos dan mantan ketua basket yang gue kagumi selama ini, tapi siapapun lo, kalo berani ganggu cewek gue, gue enyahin sekarang juga. Karna gue ngehormatin lo, gue kasih kesempatan buat lo jauhin Sheryl sejauh-jauhnya"


"Kalau gue enggak mau gimana? lo bisa apa?" tantang Rei senyum menyeringai jahat. Tentu saja dengan cepat Nathan melayangkan pukulan dan tendangan berkali-kali, namun semuanya bisa di tangkis oleh Rei.


"lo putra sulung keluarga wijaya!! Gue bakal emyahin lo karna udah ganggu cewek gue, siapapun itu yang ganggu cewek gue, gue nggak segan ngelayangkan pukulan maut buat dia. Bahkan nyawa gue taruhannya." ucap Nathan yang lagi-lagi mencoba memukul Rei. Yang tetap hasilnya seimbang. Karna mereka berdua sama-sama hebat dalam hal bela diri.


"Udah cukup!!! Stoppp!! Lo Nat, lo lupa gue pernah bilang punya kakak laki-laki yang galaknya engga usah di tanya lagi." ucap Sheryl melerai pertarungan sengit itu.


"kakak lo?!! Dimana??!!" tanya Nathan merapikan rambutnya.


"Itu orang yang mukanya lo hiasi lebam biru, yang barusan mau lo enyahin. Dah lah males gue liat kalian. Entar kalo berantemnya selesai. Masuk kerumah gih udah gue sediain P3K, kalo enggak bisa rumah sakit depan masih nampung kok." ujar Sheryl melenggang masuk membawa belanjaan nya.


"Jadi kakak nya Sheryl itu lo??!!"


"Iya gue putra sulung keluarga Wijaya, dan dia nona muda, putri bungsu Keluarga wijaya. Sheryl Wijaya."


"kakak ipar~" ujar Nathan mencoba menelan saliva nya kembali.


"Gue bakal maafin kelakuan lo barusan asal lo dapetin Video game TGR limited edition VIP, buat gue"


"Pasti kak. Gue bakal dapetin siap laksanakan!!"


"Tapi gue belum restuin. Mau restu dari gue ?? boleh aja ada syaratnya"


"Syarat??!!!"


***