
***
"Nathannnn!!!! " Teriak Sheryl, berlari ke arah Nathan. tanpa memperdulikan lagi keselamatan nya. Mendekap tubuh Nathan yang sudah bersimpah Darah segar yang merah.
"Evan!! Kurung mereka semua!! Aku akan menyiksa mereka dengan tangan ku sendiri!! " Titah Rei sudah kalut dalam emosi nya. "Andrew! Panggil Helikopter segera!!! "
"Faisal!! Panggil Dokter Keluarga Wijaya!! Minta mereka mengosong kan Ruangan Khusus sekarang!! " titah Rei lagi, kali ini Rei benar - benar terlihat kacau.
***
"Nat!! Bangun! Nathan bangun Nat!! " Teriak Sheryl, yang ikut berlari mengikuti arah brankar dorong di rumah sakit itu, menyusuri koridor menuju ruang Operasi.
"Nat! Bangun! " Teriak Rei, tak kalah keras tengan teriakan Sheryl.
"Bangun Nat" kini Aisyah yang melirih.
Mereka bertiga terus mengikuti Nathan yang terbaring lemah di Brankar itu. Dengab darah yang terus mengucur dari perut Nathan.
"Harap Kalian tetap di luar, kami akan mengoperasi pasien segera" Seru suster itu menghalangi masuk nya Sheryl dan Rei.
"Kak Rei.. Nathan gimana??... Hiks" lirih Sheryl memeluk tubuh kakak nya itu, setidak nya ia mengharap kan ketenangan di sana.
"Tenang... Nathan gak papa.. Kakak yakin Nathan baik - baik aja" sahut Rei, mencoba menenangkan adik nya itu.
"Sheryl! Rei! Aisyah!! " Teriak banyak orang yang berlarian di lorong itu, menuju ke arah mereka. Yah Mereka adalah Kakek Wijaya, Ibunda Sheryl, dan Orang Tua Nathan. Serta Andrew yang di tugaskan untuk mengabari mereka.
"Gimana keadaan Nathan Sheryl?! " tanya langsung Arumi, mamah Nathan. Saat mereka sudah sampai di sana.
"Mamah.. Mah.. Maafin Sheryl.. Ini semua salah nya Sheryl.. " lirih Sheryl memeluk erat tubuh Arumi.
"Nathan di mana Rei?! " kini Aryani yang bertanya.
"Nathan di dalam mah, sedang di operasi" sahut Rei tertunduk lemah.
Tangisan hebat dari dua orang ibu ini. Mereka menangisi luka anak nya yang tengah bertarung dengan mautnya di dalam sana.
"Andrean!! Panggil Dokter terbaik!! Cepat!! " titah Herman kalut.
Dengan segera Andrew mengiyakan nya dan pergi dari sana.
Semua orang di sana terduduk lemas, jika berdiri bahkan kaki nya gemetar. Tak henti - henti nya mereka berdoa untuk kehidupan Nathan.
Isak tangis silih berganti, bagai bersahut - sahutan terdengar begitu menyayat hati. Pandangan mereka semua terasa kosong dan Frustasi.
"Maaf" lirih Sheryl singkat, yang sukses mengalih pandangkan pandangan mereka semua ke arah Gadis mungil itu.
"Ini Bukan salah Sheryl, ini salah Aisyah. Andai Aisyah bisa halangin kak Farhan, mung--" Sambung Aisyah yang langsung terpotong.
"Enggak, ini bukan salah Aisyah. Aisyah enggak perlu minta maaf nak" Bela Aryani Masih memeluk erat tubuh menantu nya itu.
"Nyonya Aryani benar, kamu jangan minta maaf. Tante yakin.. Nathan pasti akan selamat. Yakinnn. Shyshy sayang juga jangan minta maaf, jangan nangis juga. Nanti Nathan nya sedih. Ini semua Takdir. Kalo Allah ingin Nathan selamat, Nathan pasti selamat, yang paling penting kita berdoa yah" Sahut Arumi yang juga menunduk, ia berusaha setegar mungkin menghadapi cobaan ini. Dimana Putra tunggal nya berbaring tak sadarkan diri di dalam sana, dengan luka yang parah. Arumi sosok tegar yang luar biasa, bahkan dalam keadaab seperti ini, ia juga tidak menyalahkan siapapun.
Krekkkk
Pintu Ruang Operasi terbuka, terlihat seseorang berjas Putih, yah Dokter. Segera semuanya merapat ke arah Dokter itu, untuk menanyai keadaan Nathan tentu nya.
"Dia butuh Donor Ginjal. Ginjal nya terluka, akibat peluru itu" sahut Dokter itu, yang sudah menjawab pertanyaan yang ada di mata mereka semua, tentang keadaan Nathan.
Mereka semua terdiam saling pandang. Namun, Air mata tidak bisa lagi tertahan.
"Kita butuh Pendonor Ginjal secepat nya! Kami pihak Rumah Sakit juga akan membantu mencari Pendonor yang cocok" Ujar Dokter itu, ia kembali masuk ke ruangan Operasi itu.
"Rei akan mencarikan pendonor nya!! " Tegas Rei, ia segera pergi berlari.
"Kakek juga akan mencari nya! " sahut Kakek, ia sibuk dengan Telepon genggam nya. Entah siapa yang coba di hubungi oleh kakek.
"Kalian semua tetap di sini. Arumi, Tenang saja, aku pasti akan mencarikan Pendonor nya. Anak kita pasti akan selamat" ucap Herman, ia berlari ke luar Rumah sakit. Entah kemana dan apa tujuan nya, tak ada yang tau pasti.
---
Hampir Satu Jam berlalu, para wanita itu menunggu, tapi tak ada yang kembali dengan membawa kabar yang gembira.
Farhan Ardinanta! Kau kelewatan!
Batin Aisyah. Ia merasa sangat terpukul saat ini, apalagi menatap keadaan Mamah Nathan dan Sheryl, yang kelihatan Shock berat.
"Mamah, Tante, Shy.. Aisyah ke bawah dulu yah. Cari makanan" Pamit Aisyah, Aryani mengangguk pasti. Melepas pelukan nya terhadap menantu kesayangan nya ini.
Aisyah dengan cepat berjalan ke bawah. Keluar dari rumah sakit itu.
***
"Buka pintu nya, aku ingin bertemu dengan Kak Farhan" titah Aisyah, menatap bawahan Rei yang sedang menjaga Farhan dan Ken di dalam.
"Maaf Nona muda, ini tidak diizinkan " sahut bawahan serba hitam itu sopan.
***
Vote nya, yang bintang loh yah ^^