
***
"Iyah! Iyah! Siapa sih. Berisik bener. Enggak tau apa ini bel rumah keluarga Drapan!!" Keluh Dean dengan sedikit terpincang berjalan, ingin membukakan pintu itu. Melihat siapa orang yang telah memencet bel rumah nya dengan kasar.
"Kak She-Ryl?! " Kata Dean tergagu. Saat mendapati Sheryl lah yang bertamu ke rumah nya.
"Dimana Gilang? Gue mau ngomong sama dia?! " Sinis Sheryl kasar.
"Bang Gilang!! Oik bang!! Rezeki nomplok nih!! " Teriak Dean. Tak lama setelah Dean berteriak.
Bukhhhh
Gilang datang dan menimpuk kepala besar adik nya itu.
"Apa sih?! Berisik banget! " Keluh Gilang menatap intens Dean. Dean hanya diam, sembari matanya bergerak mengarah ke Sheryl. Gilang pun menoleh mengikuti arah mata adik nya ini.
"Sheryl?! Lo? Ngapain ke sini?! Mqu jengukin gue? " Kata Gilang, tampak raut wajah senang dari nya.
"Gue mau ngomong sama lo" sahut Sheryl dingin.
Gilang menaikkan alisnya heran. Mencoba menerka apa yang Sheryl ingin katakan.
"Dean lo masuk" titah Gilang yang langsung di angguki adik nya. Gilang sendiri melangkah kan kaki nya, duduk di teras rumah nya.
"Duduk Sher" pinta Gilang yang sudah duduk. Menunjuk kursi di sebelah nya, berharap Sheryl duduk di sana.
"Gue langsung to the point aja. Gue gak suka sama lo, dan gue gak suka lo deketin gue " ucap Sheryl tanpa basa - basi. Ia memilih duduk di hadapan Gilang.
Gilang tersenyum kecut. Entah lah, Hati nya benar - benar merasa terkoyak rabak. Tak kan mungkin bisa di perbaiki lagi.
"Sebenci itu lo ke gue Sher? " tanya Gilang.
"Iyah, Gue benci lo. Makanya lo jauhin gue. Gue gak suka sama lo. Dan yah, gue gak suka cara lo deketin Gue! "
"Haha.. Tapi Kalo gue tetep suka sama lo. Lo bisa apa? Denger yah Sher. Suka sama siapa itu hak orang. Lo gak bisa ngelarang gue suka ke elo. Itu hak gue" kata Gilang menatap nanar Sheryl yang tengah terlihat bingung ini.
"Tapi elo gak punya hak untuk memaksakan perasaan lo ke gue. Gue udah punya Nathan. Dan gak mungkin ada lo, atau bahkan siapapun. Jadi Please.. Lo jangan ganggu kita. Apalagi pake acara keroyokan. Sampah tau gak sih! " Jelas Sheryl serius. Ia berharap penjelasan nya ini dapat mengubah sudut pandang seorang Gilang.
"Se Cinta itu lo ke Nathan Sher? " tanya Gilang yang mulai lesu. Kehilangan cahaya harapan nya.
"Lebih dari yang lo bayangin"
"Gue mau lo jauhin Gue, jauhin Nathan.. Jauhin kita semua. Gue gak mau berhubungan sama lo lagi"
Bagai jutaan jarum yang menusuk hati Gilang bersamaan. Sesak sekali rasanya. Cahaya kehidupan nya bagai sirna.
Cup.
Gilang mengecup lembut pucuk kepala Sheryl. Membuat gadis mungil itu terkejut.
"Okeh, Gue bakal jauhin lo, Nathan, dan semuanya. Gue bakal pergi jauh dari sini. Gue gak bakal gangguin lo lagi. Ini janji gue. Anggap aja inj hadiah perpisahan kita" kata Gilang, ia beranjak berdiri.
"Sorry Sher. Enggak anterin lo balik. Gue lagi sakit. Lo gak papa kan balik sendiri? " tanya Gilang lagi, ia berjalan masuk meninggalkan Sheryl sendiri.
Tes! Tes!
Entah lah, melihat Ekspresi Gilang yang putus asa. Ada rasa bersalah di hati kecil Sheryl. Ia ikut merasakan sedih, sedih yang dia rasakan. Namun, Cinta nya pada Nathan jauh lebih besar dari Rasa bersalah itu.
"Maaf Gilang. Gue enggak tau perasaan gue ke elo. Tapi, Gue tau jelas perasaan Gue ke Nathan. Gue cinta sama dia" Gumam Sheryl, ia ikut beranjak dari kursi nya. Pergi meinggalkam kediaman Drapan itu.
Sheryl menoleh lagi, saat dia telah sampai di Gerbang. Sheryl menatap balkon yang ada di lantai dua itu. Tampak Gilanh berdiri di sana.
"Maafin Gue Lang" gumam Sheryl, tersenyum hangat ke arah Gilang yang ada di atas sana. Kemudian berjalan pergi menghilang begitu saja.
"Sher.. Enggak suka ke gue gak papa. Asal lo bahagia, Gue ikhlas ngelepas lo. Tapi, satu hal yanh buat gue nyesel. Kenapa Gue lama ketemu sama lo. Andai gue yang ketemu duluan sama lo. Akan kah lo suka ke Gue Sher? " Gumam Gilang masih menatap Gerbang itu. Senyuman Sheryl terngiang jelas di ingatan nya.
"Sheryl Wijaya. Gue bakal selalu ingat nama lo. Dan Gue, Gilang Drapan enggak pernah Nyesel suka sama lo. Bahkan saat lo sendiri benci Gue. Gue beneran sayang ke lo Sheryl... Sekarang Gue dengan tulus bilang. Semoga Lo Bahagia, meski itu harus bersama si Lambe Turah Nathan. Meaki, Lo sendiri yang masih jadi cahaya gue.. " Ucap Dean Lagi, rasa sesak di dadanya benar - benar tak karuan.
Tes! Tes!
"Akhirnya, air mata ini jatuh jugak. Karna Lo Sher" Gumam Gilang lagi Tersenyum kecut.
***
"Apa Gilang gak papa yah? Apa gue sekejam itu? " Gerutu Sheryl berjalan di Trotoar jalan yanh sepi itu.
"Ehmmmm!! Ahnmmmm!! " Ronta Sheryl, saat ada yang menutup mulut nya dengan Kain dari belakang.
***
Ada yang Sedih liat Gilang? '-'