My Special Class

My Special Class
My Hidden Detective



..."Aku bosan dengan candaan mu"...


......-Sandra Andrafana-......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Di lantai dua Nona."


Sandra mengangguk ramah setelah dia mendapatkan jawabannya dari resepsionis hotel. Sandra segera menuju kamar 24 setelah dia dapat informasi ada di lantai dua.


Lorong kanan dan kiri Sandra jalani perlahan, jika bukan karna permintaan orang tua itu, Sandra tidak akan mau kesini, apalagi bertemu dengannya.


"Ah, 24." Sandra membuka pintunya, tidak terkunci, mungkin orang yang memanggilnya sudah di dalam.


"Astaga sayang, kau datang? aku sudah menunggu mu sangat lama."


Brukh ...


Refleks, Sandra langsung memukul kaki pria yang mendekatinya. Dia baru masuk, dan sudah ada pria gila yang mencoba memeluknya, apalagi pria itu bertelanjang dada?


"Apa Levan yang mengirim mu?" Sandra menatapnya sinis, tidak ada ketakutan dimatanya.


"Apa-apaan ini, kenapa kau jual mahal sekali? Padahal Levan bilang kau sendiri tidak laku, tidak ada yang mau menikahi mu."


"Berisik."


"Walau kau menyandang nama Andrafana, kau tetaplah yatim piatu yang tidak punya dukungan, kau hanya punya nama Andrafana."


"Keluar sana." Sandra melipat tangannya, melirik tajam tepat di retina pria itu.


"Oh ayolah, kenapa kau jual mahal sekali? Satu malam saja dengan ku, kalau kita bersama ada dua keuntungan, kau akan dapatkan banyak nama baik, dan aku akan menjadi bagian dari keluarga Andrafana yang terkenal."


"Mati atau keluar?" Sandra berjalan mendekat ke arah pria itu, tatapannya lebih mengerikan dari sebelumnya.


"Dasar perempuan tidak tau diri, cepat atau lambat kau pasti akan merengek, memohon di kaki ku untuk menikahi mu."


"Teruslah bermimpi pecundang."


Dia keluar dari ruangan itu, Sandra menghela napasnya, ini bukan yang pertama kali terjadi, sering terjadi saat dia harus bertemu dengan sepupunya--Levan. Setiap Sandra ingin bertemu Levan, selalu ada pria asing yang menunggunya, tak jarang mereka berpenampilan aneh dan vulgar, membuat Sandra semakin merasa jijik.


Tak lama, pintu kamar terbuka, kali ini benar-benar Levan yang masuk. Pria berambut pirang yang lumayan tampan, memang gen keturunan. Gayanya sombong dan tengil, yah dia kan memang bos besar.


"Lagi-lagi kau membuang hadiah ku?" Levan berjalan mendekat ke arah Sandra, bertanya seolah apa yang dia lakukan bukan hal besar.


"Kartu." Sandra tidak ingin basa-basi.


"Setidaknya kau harus bersenang-senang dengan hadiah ku dulu."


"Jangan buat aku mengulangi perkataan dua kali, Levan."


"Apa? Kau ingin marah? Anak pecundang tanpa bakat seperti mu ingin marah pada ku? Serius? Kalau kakek mendengarnya dia pasti sudah memarahi mu."


"Aku juga akan melaporkan candaan mu yang tidak lucu ini."


Wajah Levan berubah menjadi kesal. "Yah, ini hadiah mu. Jadi jangan bertemu kakek, kakek sama sekali tidak ingin bertemu dengan anak bodoh seperti mu." Levan memberikan sebuah card berwarna hitam.


"Ya, oke. Ngomong-ngomong, aku harap candaan mu lebih berkelas dari ini. Aku bosan dengan yang ini, ganti varian baru." Sandra menepuk pundak Levan. Mungkin saat dulu Levan melalukan candaan ini untuk pertama kalinya, Sandra rasanya sangat marah.


Dia jadi memukul kepala Levan, dan akhirnya dia dibenci oleh satu keluarga, dan dianggap tidak bermartabat oleh sang kakek sebagai kepala keluarga Andrafana.


Tapi itu dulu, sekarang Sandra sudah biasa dan hanya menganggap itu sebagai mainan saja. hiburan semata sebelum dia bertemu Levan.


Sandra Andrafana, itu adalah namanya, dia menyandang nama keluarga Andrafana yang sangat terkenal. Masuk dalam lima keluarga terkaya di negara ini. Bukan hanya itu, umumnya darah keturunan Andrafana itu selalu cerdas dan berkelas, mereka selalu berbakat dan menjadi publik figur yang disegani.


Tapi itu tidak berlaku dengan Sandra, Sandra hanya seorang guru di SMA biasa. Makanya, dia selalu dijauhi dan dikucilkan dari anggota keluarga Andrafana yang lain. Apalagi dia juga tidak disukai oleh Kakek Gheobalt--kepala keluarga Andrafana.


Sandra gadis yatim piatu, kedua orang tuanya sudah meninggal sejak dia berusia 12 tahun. Kecelakaan di malam hujan badai yang menewaskan kedua orang tuanya, Sandra tidak akan pernah lupa itu.


Drrrt Drttt


Handphone Sandra bergetar, dia melihat siapa orang yang mengganggunya di sore hari yang cerah ini.


"Ah? Hainry?"


"Yo halo Ketua, bagaimana sore anda? Cerah bukan? Anda tau, kalau sore cerah-cerah gini memang paling bagus untuk menikah, sama saya aja mau?" Pria bersuara ceria di sebrang sana, bernama Hainry. Yah, bisa disimpulkan dia orang yang nakal? Memangnya pria mana yang melamar begitu saja lewat telepon tanpa effort apapun? Oh, atau mungkin itu hanya sekadar candaan?


"Ngomong yang bener, kalo gak bakal aku matiin nih."


"Galak bener, ngomong-ngomong, aku udah dapatin semua informasinya, kita tinggal bergerak. Jam 7, 28 menit, 13 detik, bersiap di titik C distrik 31. Kami semua akan bersiap disana. Gudang tua arah kiri adalah targetnya."


"Ah, ya baik. Ternyata kamu kerja juga yah, kalau gini aku gak ragu buat gaji kamu."


"Oh jelas harus kerja dong, supaya bisa nabung buat nikahin Bu ketua yang judes."


"Waras dulu."


"Kalo waras nikah enggak?"


"Enggak."


"Yah, kok git--aduh!!"


"Ada apa Han?" Sandra jadi khawatir, apalagi mereka sedang dalam misi sekarang. Yah walau Hainry memang berbakat di bidang strategi maupun bela diri, tapi rasa khawatir akan tetap selalu ada.


"Saya jatuh nih, Ketua."


"Cari bantuan di sekitar. Dan--"


"Jatuh cinta sama Nona Detektif yang manis namanya Sandra."


"..." Sandra tidak bisa berkata-kata lagi. Percuma marah, Hainry akan mengulanginya lagi.


"Udah jatuh, cintanya dapat gak?"


"Siapkan punggung mu, akan ku hajar nanti."


Sandra mematikan ponselnya, dia tersenyum senang. Ini bukan pertama kalinya Hainry mencelotehkan banyak gombalan gila aneh seperti anak remaja itu. Sudah 4 tahun sejak Hainry bergabung dalam tim-nya, dan pria berkepribadian ceria itu terus menggodanya. Tapi tidak masalah, Sandra tidak marah, tidak juga menggubrisnya, karna dia tau itu hanya candaan belaka.


Ah, misi? Tim?


Yah, selain menjadi seorang guru biasa di SMA sederhana, Sandra juga menjadi seorang detektif. Dia mendirikan sebuah kantor detektif swasta bernama YK71. Tapi ini rahasia, tidak ada yang tau bahkan keluarga Andrafana lainnya.


Nama YK71 sudah sangat terkenal, tapi tidak ada publik yang tau, wajah asli sang ketua regu.


Awalnya Sandra mendirikan Tim ini untuk mengungkap rahasia tentang kecelakaan orang tuanya yang dia anggap janggal, tapi ternyata banyak permintaan pertolongan yang datang pada mereka. Yah, Sandra tidak akan menolaknya.


"Kasus kali ini penculikan anak berumur 12 tahun ya? Dasar pedofil sialan."


Siapa yang sangka bahwa gadis culun dari keluarga Andrafana adalah seorang detektif yang hebat? Yah, Sandra juga tidak tertarik untuk mengumumkannya.


Sandra sengaja menyembunyikan pekerjaannya sebagai detektif karna dia tidak ingin terlibat dengan perebutan hak waris keluarga Andrafana. Sandra tidak tertarik bertengkar dengan paman, bibi dan sepupunya hanya karna masalah harta.


Jika kakeknya tau kalau Sandra adalah detektif yang hebat, dia pasti akan memasukkan Sandra sebagai calon pewaris.


MAMPIR YAAA, MAKASIHH^^